Sssshhhh
Apa pun yang ada di belakangku, dia mendesis perlahan untuk waktu yang lama. Sesuatu yang menempel di bahuku masih membuatku gemetar tidak karuan. Aku pun masih belum berani membuka telingaku yang tertutup dengan tangan, takut kalau mendengar bisikan iblis atau sesuatu yang lebih buruk.
Desisan itu masih terdengar berulang-ulang di telingaku. Aku tidak bisa terus berada di posisi ini. Berhenti seperti ini tidak akan memberiku kabar baik.
Baiklah ... jika itu hewan, aku harus menyingkirkannya. Jika itu manusia, aku harus extra hati-hati. Tapi kalau itu siluman ... sepertinya aku hanya bisa berdoa sebelum diriku berakhir di hutan ini.
Apapun yang akan kulihat, Tuhan tolong lindungi aku!
.
.
.
Ssshhhhh
Dengan cahaya yang sedikit tersisa, aku dapat melihat dengan jelas sosok yang sedari tadi ada di belakangku. Dia adalah sosok hitam yang terlihat tertunduk menatap tanah.
Ini manusia. Sosok hitam itu kulihat memiliki tangan putih yang pucat, dan ... terasa sedikit gemetaran di bahuku berasal dari tangannya.
"Sialan ...."
Di-dia bicara!
Ssshhhh
Dia mendesis lagi, membuatku meneguk ludah. Aku sudah tahu jika orang di belakangku ini adalah manusia, jadi sekarang aku perlu memastikan bahwa dia berbahaya atau tidak.
"M-mau apa kamu? " tanyaku dengan keberanian yang selama ini kubangun susah payah.
Dia berhenti mendesis, dan sekarang terengah-engah. Tangan yang tadinya memegang bahuku merosot dan meraba dadanya.
"Sialan ... kenapa kamu datang ke sini!? "
Aku tersentak saat dia tiba-tiba berteriak. Aku menyeka bulir keringat yang tercipta karena pelarianku darinya sejenak, baru menjawabnya lagi.
"A-aku mau ke rumah Bu Christine, Si Peramal. "
Dia terdiam lagi, dan mulutnya kembali mendesis. Kali ini sepertinya dia mendesis karena kesal, daripada desisannya tadi yang mencoba untuk bernapas lebih baik.
"Hisshhh ... ngapain ke sana? "
"Mau minta tolong ke beliau. " jawabku segera, kemudian membetulkan letak topiku untuk menyembunyikan tanda kutukanku darinya. Aku lebih baik tidak memberitahu orang ini dulu soal kemauanku yang sebenarnya, aku juga perlu berhati-hati.
"Minta tolong apa? "
"A-anu, apa nggak sebaiknya kita pergi dari hutan ini dulu? Daripada kita jadi seperti ini kan ... nggak enak." Aku berusaha untuk mengganti topik, supaya bisa melarikan diri dari percakapan tidak mengenakkan ini.
Syukurnya, orang itu mau mendengarkanku. Dia berdiri dari tempatnya dan menatapku dari atas dengan ... mata tajam yang membuatku bergidik sejenak.
"Ngapain duduk di situ? Ayo pergi."
Aku buru-buru bangkit dan membersihkan celanaku yang terkena debu, lalu menghela napas lega karena keadaan semakin membaik.
Kami berdua kembali ke jalan setapak yang tadi, namun orang di depanku sekarang berjalan layaknya dia kembali ke tempatku diturunkan oleh sopir minibus beberapa waktu yang lalu. Kenapa balik ke sana? Dia mau membawaku kembali ke kota? Atau sebenarnya dari awal jalan setapak itu sudah menyesatkanku jadi dia mencari jalan yang lain?

KAMU SEDANG MEMBACA
Death Curse
ParanormalKetika kutukan ditanamkan, bagaimana cara kabur darinya? Ketika terasa kematian yang menyakitkan, bagaimana cara untuk tetap bertahan? Tersisa waktu sepekan, ketika tanda kutukan berwarna ruby, maka nyawamu harus dikorbankan. "Live ... or ... Die...