"HYUN PULANG!!" tubuh mungil itu berlarian kecil kedalam rumah dengan memeluk boneka pemberian babanya, mencari ayah dan bundanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hyun jangan lari-lari, awas jatuh sayang" Yoona yang khawatir, mengikuti langkah cucunya yang hiperaktif itu.
Tadi dengan semangat dia mengajak nananya untuk ke rumahnya, ngomong-ngomong babanya sedang asik bermain golf dengan koleganya, makanya tidak bisa mengantar Hyun.
"Ayah sama Bunda mana sih?" kepala kecilnya celingukan bingung, dia sudah mencari di dapur dan ruang keluarga, bahkan taman belakang, padahal ini sudah jam delapan lebih, mana sih mereka, Hyun capek nih.
Oh ada satu ruangan yang belum dia periksa, dengan tergesa dia melangkahkan kaki kecil nya ke arah kamar ayahnya.
Yoona yang melihat tingkah cucunya itu hanya menggeleng manklum.
Dengan pelan Hyun membuka pintu kamar, mata bulatnya melihat dua orang yang tidur nyaman diranjang, sang lelaki yang merupakan ayahnya itu memeluk bundanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Huuh, tuh kan kalau ngga ada Hyun pasti deh mereka melakukan hal asyik berduaan, Hyun merasa dikhianati.
Dengan pipi yang menggembung, lelaki cilik itu mendekati ranjang, tapi belum sampai menaikinya sudah ada tangan yang mengangkat dan memposisikan tubuhnya dalam gendongan.
"Nana..."
"Shhttt, Hyun sama nana dulu saja ya, ayo kita jalan-jalan" Nananya itu melirik dua orang yang masih terlelap di ranjang dengan senyuman, lalu cepat-cepat pergi dari kediaman anaknya, sebelum cucunya yang satu ini merengek protes. . . . . .
"Eunghhhh...." kamu membuka matamu perlahan, kamu bisa merasakan nafas hangat teratur dari lelaki didepanmu, kamu menelusuri setiap inchi wajahnya yang rupawan itu, rasanya kamu bahkan bisa jatuh cinta berkali-kali padanya.
Pelukannya di tubuhmu semakin rapat, kamu bisa mencium wangi tubuhnya yang memabukkan itu.
"Sudah puas memandang wajah suamimu ini hmm?" suara serak khas bangun tidur menyapa indera pendengaranmu, jangan lupa satu kecupan manis di keningmu.
"Apaan sih?" kamu menyangkal dan hendak bangun, tapi pelukan Hyunjin yang erat itu tidak mengindahkan tindakanmu itu.
"Jin-ah, kau harus berangkat kerja" ucapmu agak tidak jelas karena wajahmu yang dibenamkan di dada bidangnya itu.
"Ini hari sabtu 'bunda', kantor 'ayah' kan libur kalau sabtu dan minggu" panggilan itu membuat wajahmu memerah malu dan kerja jantungmu yang tidak beraturan.
"Ta...ta..."
"Hehehe...suara detak jantungmu sampai kedengaran loh" kekehan Hyunjin malah membuatmu makin membenamkan wajahmu didadanya itu.
Astaga sifat jahilnya ini memang tidak akan bisa hilang ya?
Dengan posisimu saat ini kamu bisa mendengar degup jantung Hyunjin yang sama denganmu.
"Hei..." panggil Hyunjin dan kamu jawab dengan deheman.
"Mau melakukan hal yang menarik?"
"Apa?" tanyamu penasaran.
"Mandi bersama"
"HYUNJIN!!!" . . . . .
"Bunda!!!" Hyun berlari menerjang tubuhmu yang duduk di sofa, kamu mengangkat tubuh gempal itu untuk duduk dipangkuanmu.
"Bagaimana sudah puas bermain dengan Kkami?" tanyamu dan dibalas oleh anggukan antusias plus celotehan darinya.
"Duh lelahnya" Yoona mendudukkan dirinya disampingmu.
"Mama dan Hyun memangnya kemana saja sebelum kesini?" tanyamu sambil menurunkan Hyun dari pangkuanmu, putramu itu langsung memeluk kaki ayahnya yang baru saja keluar dari kamar.
"Hanya jalan-jalan saja" Kamu hanya beroh ria dan berjalan kedapur membuat teh hijau untuk mertuamu itu.
"Silakan ma" Yoona tersenyum dan mengucapkan terimakasih padamu.
"Bagaimana, apakah sudah dibicarakan?" kamu tentu tau arah pembicaraan ini.
"Sudah, dan aku merasa sangat lega" Yoona tersenyum lembut dan menyesap tehnya.
"Baguslah, mama turut senang"
"Dan sepertinya mama harus sering mengajak Hyun untuk tidur di rumah kami agar kalian punya banyak waktu berdua" mertuamu itu melihatmu dengan pandangan penuh arti.
Jangan-jangan...
"Tadi mama dan Hyun sudah datang tapi kalian masih nyaman dalam tidur kalian" Kamu tersenyum kikuk, Yoona terkekeh pelan.
"Jadi kapan kalian memberi papa dan mama cucu kedua?" bisik Yoona membuat wajahmu panas.
"Ii..itu..."
"Bunda, ayah nakal" Seketika Hyunjin datang dan menyerahkan Hyun padamu, lelaki cilik itu menggadu padamu karena ayahnya tidak memperbolehkan dia memakan coklat,
"Hyun makan cookies saja ya" lelaki cilik itu mengangguk, akhirnya kamu mengambil cookies ditoples dan memberikannya pada Hyun.
"Ya sudah mama pergi dulu, ada janji dengan teman mama" Yoona mencium pipi Hyun gemas dan segera meninggalkan kalian bertiga.
Mata Hyun melihat benda mengkilat di lehermu.
"Bunda itu apa?" tanyanya penasaran sambil menunjuk kalungmu.
Kamu melepas kalung itu dan memperlihatkannya pada Hyun.
"Ini kalung Hyun, dan yang ini adalah cincin pernikahan bunda dan ayah"
"Cincin pernikahan?" tanya Hyun bingung dan menyentuh cincin itu penasaran.
"Ternyata kau masih menyimpannya ya" Hyunjin tersenyum lega.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tentu saja, kau kira aku apakan?" tanyamu bingung, dan dibalas naikan bahu oleh lelaki itu.
"Biar kupakaikan lagi di jari manismu" Hyunjin melepas cincin itu dari kalungnya, menarik tanganmu lembut dan memakaikan cincinnya di jari manismu, duh berasa menikah lagi.
wajahmu merona, tak lupa dengan senyum yang mengembang yang tak bisa kamu sembunyikan.
"Wahh...." Hyun berdecak kagum saat melihat cincin itu terpasang di jarimu seperti cincin dijari ayahnya, membuatmu dah Hyunjin tersenyum melihat tingkah polos putra kalian itu.