Selim ;
Semua orang yang tinggal di rumah ini berkumpul di meja makan dengan bentuk persegi. Hanya antara. Gue, Mamah, sama Bang Rizki. Bertiga menikmati makan malam berupa nasi padang yang dibawa oleh Bang Rizki sepulang dari tempat kerja.
Sebenernya ini gak bisa disebut makan malam juga, sih. Mengingat waktu menunjukan pukul delapan lewat empat puluh. Hampir jam sembilan malam, karena setahu gue makan malam itu kisaran jam tujuhan. Tapi masa bodo lah ya... toh sama-sama malam. Yang penting makan, kenyang, terus tidur. Rezeki orang pengangguran, hahahaha.
"Oh, iya. Tadi habis nemuin Mbak Siti, aku sempat nanya-nanya pekerjaan ke Mas Bejo. Katanya ada lowongan di salah satu perusahaan idustry perabotan gitu, Mah. Jadi Selim nanti mau coba-coba ngirim lamaran ke sana. Belum tahu juga si di divisi apa, tapi coba aja," ujar gue, memberi tahukan kabar yang barusan gue dapat dari kakak ipar.
"Ya bagus. Seengaknya kamu ada usaha buat nyari-nyari kerjaan ketimbang luntang-lantung gak jelas di rumah," sahut Mamah sambil memandangku dengan tatapan intens. Nada suaranya terkesan seperti menyuruh-nyuruh gue rasa, ampun deh hidup kek gini.
"Alah. Palingan ujung-ujung nya kayak kemaren lagi, jauh-jauh buat ngelamar kerja tapi malah ditolak. Padahal sama-sama dari tempat kerja yang direkomendasikan sama Mas Bejo juga." Bang Rizki malah mencibir, kayaknya dia emang gak suka tiap kali gue bahas pekerjaan.
"Bukannya kasih dukungan tapi malah dicibir, gimana sih kalian tuh?!" Kesal gue sambil mengaduk nasi dengan bumbu rendang, lalu menyuap dengan besar.
"Iya... semangat ya anakku," timpal Mamah. "Cari kerja biar bagi orang rendahan yang penting halal. Ada hasil, lagian sekarang kan apa-apa Mamah bisanya minta sama kalian ... Mas kalian si Sujud udah beristri, jelas sudah punya tanggung jawab untuk menafkahi. Siti juga udah resign dari kantornya semenjak hamil. Cuman kalian yang masih seatap sama Mamah, cuman kalian andalan Mamah. Gajih pensiun almarhum Papah nggak akan cukup untuk biaiya hidup, makanya kalian harus rajin. Sekejam-kejamnya Mamah sebagai seorang Ibu, lebih kejam lagi Ibu kota, kalau kaliang nggak sanggup jelas jadi sampah masyarakat." Nasihat Mamah, sontak membuat gue malah jadi meratapi nasib, seandainya masih ada Papah, dijamin nggak bakal kayak gini hidup kita.
"Makanya Selim lagi usaha, Mah. Cari-cari kerja buat kelangsungan hidup," kata gue, mencoba meyakinkan Mamah kalau gue masih bisa diandalkan.
"Ngemis aja nggak tahu caranya, sok-sok an mau cari kerja," seru Bang Rizki yang malah bikin gue jengkel.
"Ini satu si tai kebo. Mending diem deh daripada ngebacot. Gue mau cari kerja lo nyolot, nggak kerja lo cibir, apa sih mau lo?" Hampir... dikit lagi meledak dah emosi gue nih, mau meledak nih. Sabar-sabar.
"Oh... berani lo sama gue? Gue tarik lagi nih makanan lo!"
"UDAH-UDAH, kalian itu bisa nggak sih sehari aja pada akur. Kakak adik apa bukan sih? Capek Mamah dengernya berantem mulu. Kalau sama-sama ngerasa keluar dari rahim Mamah mending pada diem udah."
"Di depan rezeki aja pada ribut. Pantesan hidup kita gini-gini aja, pada nggak bersyukur semua anak-anakku ini." Bentak Mamah dengan kesalnya, bikin gue dan Rizki jadi terdiam seketika kalau sudah dimarahin kayak gini.
Intinya jangan coba-coba ngejawab kalau nggak mau ditempeleng.
,*****
Dengan bermodalkan nekat serta doa dari sang Mamah gue mencoba untuk menuju tempat yang direkomendasikan oleh kakak ipar tempo hari. Membawa surat lamaran lengkap yang tersusun rapi dalam sebuah map, dalam hati gue berdoa akan harapan supaya bisa segera dapat kerjaan. Semoga yang Maha Kuasa memihak pada gue kali ini.
Di sepanjang perjalanan yang gue lakukan adalah memperhatikan beberapa orang yang saling berlalu-lalang. Mereka para eksekutif gue rasa, baik perempuan maupun laki-laki semuanya mengenakan setelan pakaian rapi ala para pekerja kantoran pada umumnya.
Gini yak rasanya menginjakan kaki di sebuah perusahaan? Rasanya kayak gemetar-gemetar gengsi gitu. Nggak lama lagi gue bakal jadi salah satu dari mereka, pakai kemeja, pakai dasi, sepatu mengkilap, punya jabatan, duh mimpiku ... ketinggian. Yang gue rasakan sebenarnya sih rasa pesimis, takut aja gitu ditolak, secara' kan izasah gue kurang memadai dari beberapa aspek.
Melihat mereka para pegawai kantoran itu entah kenapa gue malah teringat akan salah satu lirik lagu yang gue lupa judulnya.
Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi
Seperti orang-orang berdasi yang gila materi
Rasa bosan membukakan jalan mencari peran
Keluarlah dari zona nyaman
Sembilu yang dulu
Biarlah berlalu
Bekerja bersama hati
Kita ini insan bukan seekor sapi
Sembilu yang dulu
Biarlah membiru
Berkarya bersama hati
Ahh... enak banget lagunya sumpah, seolah menggambarkan perasaan gue selama ini. Seandainya hidup bisa dibawa selow, gue pasti udah liburan ke luar negeri buat ngehambur duit ... yang hayalannya itu hasil dari kerja keras gue.
Dari depan gedung yang berdiri kokoh ini gue melongo layaknya orang bodoh. Huruf-huruf besar yang bertuliskan PT Maribhuana Enterprise tertata rapi di dinding gedung megah ini, bikin gue makin gemetar akibat deg-degan, apa jangan-jangan ini yang dinamakan cinta? Sudahlah ....
Bisa dibilang tampang gue saat ini udah kayak orang dusun yang baru menginjakkan kaki ke kota. Gue menelan ludah, nggak lupa juga untuk menyeka keringat dingin yang mewakili rasa pesimis gue. Gue menghembuskan napas panjang sebelum melangkah masuk ke dalam perusahaan ini.
Di sebuah lobby perusahaan ini gua dihadapkan dengan seorang perempuan berpenampilan layaknya wanita karier. Kagum gue, udah cantik, bohai, mandiri lagi. Entah kenapa gue ngerasa terpesona, seengaknya membuktikan bahwa gue masih normal.
Perempuan dengan name tag Gaby Lora ini gue tebak resepsionis di tempat ini. Dengan segala kepercayaan yang gue miliki gue menyunggingkan senyum ke arahnya sebelum menyampaikan maksud dan tujuan gue.
"Selamat, pagi. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lebih dulu sambil membalas senyum gue. Itu senyum masyaallah, bikin gue mau menggelepar seketika karena diabetes . Manis banget.
"Pagi, em-- ini. Saya ingin mengajukan surat lamaran kerja," ucap gue sekenanya.
"Atas nama siapa kalau boleh tahu?"
"Selim Alaikum."
"Baik kalau begitu. Nanti anda akan dihubungi oleh HR perusahaan ini untuk melakukan interview."
"Maaf. Kalau boleh tahu kira-kira berapa lama waktu pemanggilan interview-nya?"
"Nanti akan kami hubungi. Tapi yang pasti akan ada pemanggilan bagi beberapa kandidat terpilih untuk melakukan test."
Mendengarnya aku hanya bisa mengangguk sebagai respon dari kalimatnya barusan. Dia bilang ada pelamar lainnya ya? Alamak, takut banget gue nggak diterima kerja.
"Yasudah kalau begitu, terimakasih ya Mbak."
Dan setelahnya gue langsung melenggang pergi dan pulang ke rumah sambil berharap-harap yang terbaik.
Nggak jauh di depan gue, seorang pria dengan aura yang berkesan mencekam terlihat mendekat. Dari penampilannya gue jamin dua CEO salah satu perusahaan, gilak gayanya keren abis. Apalagi ada dua orang bodyguard yang mengikuti dari belakang, menambah kesan bahwa dia orang besar.
Setelah berselisihan dengannya, entah kenapa manik matanya sempat melirik ke arah gue. Seolah-olah ekspresinya itu menunjukan ketidak sukaan terhadap gue. Apa dia pemimpin perusahaan ini? Cih gayanya songong.
KAMU SEDANG MEMBACA
More Than Boss [END]
Ficción General[Chapter Complete] [TERSEDIA VERSI E-BOOK] {Komedi Romance} Setelah sekian lama jadi buah bibir tetangga bahkan dianggap benalu oleh keluarganya sendiri sebab delapan bulan jadi pengangguran, akhirnya si Selim mendapatkan pekerjaan dengan posisi yan...
![More Than Boss [END]](https://img.wattpad.com/cover/165409014-64-k916073.jpg)