PROMISE

58 8 3
                                    

Ketika baru lahir ayahnya pingsan karena terlalu bahagia. Dia anak pertama dari dua bersaudara,ayahnya memberi nama hilda yang berarti wanita pejuang, dan ibunya memberi nama oktavia, nama dari sang ibu sendiri. lahir dan besar di bandung hingga menginjak usia 18 tahun dan kemudian pindah ke lombok karena pekerjaan orang tua.

Disitulah dia bertemu yogi adistira sekelasnya, pria yang sejak kecil berada di kota itu, pria yang mengenalkan surga kecil di sudut-sudut kota. Pria yang membuatnya jatuh cinta hingga dia melupakan segala keluh kesahnya.

Mereka tidak pacaran
Yogi tak pernah mengungkapkan perasaannya, hilda pun begitu.
Tapi lucunya mereka selalu bersama, menempel bagai perangko, dimana ada hilda, yogi juga disitu.
Begitu terus hingga tak sadar mereka telah saling mengenal selama setahun.

Hilda pernah mengumpulkan keberaniannya ke yogi, mengatakan bahwa yogi adalah salah satu hal favoritnya di kota ini.
Tapi yogi hanya tersenyum
Dan berterimakasih

Dalam hatinya dia berpikir, yogi hanya menganggapnya sahabat dekat, sangat dekat Atau hubungan tanpa status, tapi hilda tak mengapa, selama dia tetap berada di dekat yogi, mau itu hanya sahabat atau hubungan tanpa status hilda akan menerimanya.

"Bulan depan kita akan kembali ke Bandung" ucap ayah hilda ketika sedang makan malam

"mau bagaimana lagi, kontraknya sudah selesai" ucap si ibu menimpali

"aku gak mau pindah" ucap hilda dengan nada tinggi

Kedua orangtuanya saling memandang

"Kita tidak bisa tinggal disini hilda, kamu kan juga tahu bagaimana pekerjaan ayah" ucap ayahnya lagi dengan lembut

"pokoknya gak mau" ucap hilda, suaranya mulai serak, dia berdiri, meninggalkan meja makan, meninggalkan ayah, ibu, dan adiknya.

Hilda berlari menuju ke kamarnya, membuang dirinya ke ranjang, membenamkan wajahnya ke bantal lalu menangis sesenggukan.

Di dalam hatinya dia tak ingin pergi, dia tak ingin meninggalkan kota ini, dia tak ingin meninggalkan hal favoritnya di kota ini, dia tak ingin meninggalkan yogi.

Ibunya masuk ke kamar, duduk disampingnya lalu mengusap-usap kepala hilda.

Hilda memeluk ibunya, lalu menangis di pelukan sang ibu.

"ibu, hilda tidak mau meninggalkan kota ini" ucap hilda diantara tangisnya

Ibunya tersenyum lalu memeluk anak sulungnya.

"ibu tau sayang, memang berat meninggalkan suatu tempat, tapi ini juga bukan kemauan ibu, ini juga bukan kemauan ayahmu, tapi beginilah cara kita, beginilah cara keluarga kita bertahan, aku ingin kau melunak hilda, aku ingin kamu mengerti ayahmu" ucap ibunya

"t.. Tapi ibu"

"kau tahu? Ayahmu juga berat meninggalkan kota ini, dia akan meninggalkan pak asep, pak haryono, dan pak aldi, sahabat dekatnya sejak disini. Dari raut wajah ayahmu ibu tahu, dia juga bersedih. Jadi ibu ingin kamu juga seperti ayahmu" ucap si ibu lalu mengusap kepala anaknya

Hilda berpikir benar juga yang dikatakan ibunya, dia harus bersikap dewasa, dia harus seperti ayahnya, dia harus kuat.

Malam itu hilda tak bisa tidur, dia memikirkan yogi.

****

Teng... Teng.. Teng..

Lonceng tanda istirahat telah berbunyi, para siswa berhamburan keluar kelas, ada yang menuju ke kantin, ada pula yang menuju ke belakang gedung sekolah untuk merokok.

"yogi? Aku mau bicara" ucap hilda yang berdiri di depan yogi.

"ini kan sudah bicara" ucap yogi menggoda hilda

Delonix Regia [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang