Gerah.
Tapi Zhalesa sangat menikmati pekerjaan ini. Sekalipun panas menyengatnya di pinggir pantai ini, dia tidak akan peduli. Toh ini sudah menjelang sore.
Yah, tidak terlalu panas sebetulnya. Mengingat Zhalesa sedang berada di Miami.
"Last shoot!" ucap fotografer yang Zhalesa tidak ketahui namanya. Karena dia bukan orang Indonesia dan Zhalesa tidak mau berbasa-basi sekedar mengetahui namanya. Lebih tepatnya, Zhalesa tidak peduli.
Zhalesa mengangkat tangan kanannya di depan dagu. Sedangkan tangan kirinya ia letakkan di depan perut dengan wajah sedikit ia tolehkan ke kanan. Tanpa ekspresi apapun. Namun semuanya terlihat sangat elegan.
"Thank you, Miss Zhalesa. It's awesome. I love this job so much when you are that model." ucap fotografer itu.
Dan Zhalesa hanya menanggapi dengan senyuman dan kata, "Thank you..."
Selesai melakukan photoshoot yang entah apa cocok dengan pekerjaannya yang seharusnya adalah model atau lebih tepatnya brand ambassador perusahaan Davis, Zhalesa langsung kembali ke tempat sebelum dia melakukan photoshoot. Di depan gedung besar hotelnya.
Adisty yang sedang duduk di kursi taman menunggunya langsung sumringah. Karena di sana dia hanya berdiam diri menunggu Zhalesa yang melakukan sesi pemotretan yang memakan waktu hampir 2 jam.
"Zhal, di sini banyak fans Lo." ucap Adisty langsung.
"Emang ada juga ya, yang di sini?"
"Ih, Lo itu gimana sih? Lo itu model yang udah go internasional! Lo udah biasa jalan di atas cat walk. Jadi ya udah pasti lah banyak yang kenal Lo di sini." kata Zhalesa menggebu-gebu. Padahal Zhalesa biasa saja.
"Terus mereka tahu gak, kalau gue ada di sini?"
"Tahu lah Zhal, mereka itu udah kayak stalker jadi fans Lo. Dan mereka juga mau ketemu sama Lo tadi. Tapi agak susah karena ada yang jagain kita di sini."
"Ya udah, kalau nanti kita ketemu sama mereka, aku mau nyamperin mereka dulu. Tanpa mereka gue bukan siapa-siapa." Zhalesa berbicara dengan ekspresi yang sangat kentara bahwa dia mulai kerepotan dengan kostum yang digunakannya. Meskipun dia model, tapi kalau berlebihan seperti ini ya, Zhalesa tidak bisa menahannya lama-lama. "Ya udah yuk, masuk. Gerah nih!"
Baru saja mereka mau melangkah, seseorang mencolek lengan Zhalesa yang membuat Zhalesa otomatis menolehkan wajahnya.
Tampak seorang gadis muda, mungkin usianya sekitar 15 tahun. Wajahnya tampak berseri-seri. Dan bibirnya terlihat selalu melukiskan senyum.
"Eh, Hallo Miss Zhalesa! I'm Trizzly, I'm is one of your fans. I feel so happy, 'cause I can meet you now. I want to smile all day. I dont know. I can't explain it.
"And I'm sorry, I'm too excessive. But would you like to give me your signature on my diary book? I can understand if you dont think so." Gadis itu berbicara sedikit lebih cepat dari biasanya, maksudnya dari normalnya orang berbicara. Bahkan tangannya seakan selalu menari di udara mengiri setiap ucapan yang teruntai dari bibirnya.
Zhalesa tersenyum mendengarkan ucapan gadis cantik di depannya ini. Dia merasa, entahlah. Dia selalu merasa speechless jika ada fans yang menyanjungnya hingga seperti ini.
Bukan karena dia suka dipuji. Melainkan Zhalesa merasa, ada orang lain yang mau mendukungnya juga.
"My pleasure, Trizzly. I feel so happy too 'cause we can meet now."
Setelah memberikan sebuah tanda tangan yang khusus ia ciptakan untuk penggemarnya pada buku diary gadis itu, beberapa orang juga datang menghampiri Zhalesa dan Adisty.
"Zhal, kayaknya gue gak akan kuat deh, kalau beginian. Sumpah Zhal, gue yakin banget sebentar lagi pasti jadi banyak banget dah tuh, penggemar Lo yang ngerubunin Lo di sini." Ucap Adisty dengan tampang memelasnya.
"Ya elah, Dis. Kalau Lo mau istirahat, Lo boleh duluan aja nggak papa. Nanti gue nyusul setelah ngeladenin mereka." timpal Zhalesa.
"Ya tapi kan Lo itu model gue. Gue managernya. Jadi gue juga ada tanggung jawab sama Lo."
"Ya elah, serasa Lo itu manager pribadi gue aja."
Adisty menahan kesalnya. Entahlah, dia memang selalu tidak suka di situasi seperti ini. "Yah, aduh. Gimana ya, intinya gue males banget kalau sudah beginian. Pasti fans-fans Lo itu banyak maunya. Bingung dah gue kalau udah ngelihat mereka."
"Ya udah, Lo balik duluan aja. Masih banyak tuh bodyguard yang bakal jagain gue di sini." setelah Zhalesa mengucapkan itu, Zhalesa langsung diserbu penggemarnya. Ada yang meminta swafoto, ada yang meminta tanda tangan, ada yang meminta barang apapun dari Zhalesa meskipun barang itu harganya tidak seberapa. Macam-macam lah pokoknya.
Biasa, kelakuan penggemar kadang bisa bikin kalut dibanding kelakukan netijen.
Yah, mungkin kalau diperkirakan, mereka berjumlah sekitar 30 orang. Cukup banyak untuk sesi jumpa fans dadakan.
👗👗👗
"Excuse me!"
Padahal saat di lobby hotel tadi tampak sepi. Kenapa tiba-tiba Zhalesa mendengar suara? Apa telinganya bermasalah?
Buru-buru Zhalesa menolehkan kepalanya ke belakang untuk memastikan apakah memang ada orang atau Zhalesa kurang merawat kesehatannya.
"Ehm, excuse me!" ucap orang itu lagi.
"Do you called me?" tanya Zhalesa langsung.
"Yes, I want you to give me your signature here, on my paper. My daughter will be happy if I can give her about her's dream. She's likes you. She is your fans." orang itu ternyata laki-laki. Mungkin usianya sedikit lebih tua dari Zhalesa yang usianya mau menginjak kepala dua.
Laki-laki itu memakai topi berwarna coklat tua, sekilas terlihat hitam. Dengan jaket yang menutupi tubuhnya yang berbalut kaos putih.
"Ehm, it's okay. I love my fans." balas Zhalesa.
"That's good. By the way, my name's Hansa Da Silva. You can call me Hansa. But, I dont know your name." ucap orang yang mengaku bernama Hansa itu sambil meringis.
"Because I always find your photos on the wall of my daughter's room. I know she's likes you. But I never know your name." lanjut Hansa.
Zhalesa bisa memakhlumi itu. Tapi ini sungguh manis. Pria di hadapannya ini mau bersikap seperti ini untuk saudaranya.
"Your younger daughter?" tanya Zhalesa memastikan.
"Ehm, my parents only have 2 childrens. Me and my younger or youngest daughter. Up to you."
"That's sound good. I think you love her so much, right?"
Hansa tertawa mendengar ucapan Zhalesa. Zhalesa berpikir, mereka pasti adalah keluarga harmonis.
###
Hai hai hai....
Ketemu lagi sama saya...
Di sini ada bahasa inggrisnya. Maaf kalau salah.
Untuk yang mungkin tidak tahu terjemahannya, nanti saya tuliskan di kolom komentar.
Untuk bab selanjutnya, dialog Hansa saya tulis bahasa indonesia. Tapi anggap aja itu bahasa inggris. ;)
Ada yang suka cerita ini?
Ada yang baca?
Maaf kalau terlalu pendek.
Pokoknya saya mohon bantuan vote-nya ya....! Kalau mau, komennya sekalian. :)
Sampai jumpa di lain waktu...
😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Sangria Wine
Fanfiction-Aku yang mudah dibodohi, atau kamu yang terlalu mudah mengambil hati? -Aku bukan sutradara, meski awalnya aku mencoba membuat alur. Aku kalah, maaf!
