01. Namanya Egi

373 47 4
                                    


Sejujurnya, Egi gak pernah merasa senang diterima di program studi yang sekarang sedang ia tempuh. Cita-citanya adalah menjadi musisi, atau tukang gitar kalau menurut ayahnya. Menjadi gitaris sekaligus vokalis, mengingat Egi juga pintar menyanyi. Tapi Egi gak pernah menyesal dan justru merasa sebahagia itu sewaktu PTN terbaik di Jogja menerimanya lewat jalur undangan. That was cool, mengingat Ayah dan ibunya kemudian berlomba-lomba mengapresiasi kerja kerasnya dengan berbagai hal. Mulai dari postingan seminggu penuh berisi full face muka Egi di akun instagram ibu, tiket nonton boygrup kesayangan Egi yang menggelar konser di Jakarta, terbebas dari cuci piring dan setrika baju di hari Minggu, menguasai remote tv dua hari, sampai ia dibelikan dua ekor ayam oleh ayahnya.

Ayah adalah komedian favorit nomor satu di keluarga Egi. Beliau adalah seorang jaksa yang punya berbagai hobi aneh. Kredibilitasnya sebagai salah satu penegak hukum patut dipertanyakan kalau Egi membuat daftar kelakuan ayah saat berada di rumah. Egi cukup mencintai beliau, sampai-sampai ia tak menceritakan tingkah laku aneh ayah pada teman-temannya.

Egi, seperti banyak anak perempuan di luar sana, menghela nafas sebal melihat notifikasi yang muncul di layar ponselnya. Ayah menelfon, yang kedua untuk hari ini. Tadi pagi beliau mengabarkan kalau kaos kaki nya hilang sebelah. Kali ini, seperti yang Egi tebak, ayah hanya akan bertanya hari ini anak perempuannya makan ayam atau ikan sebagai lauk. Ayah juga memperingatkan untuk berdoa sebelum makan dan mencuci tangan setelah selesai makan.

"Bokap ya?" cewe berpostur tinggi yang baru saja masuk ke ruangan kelas itu langsung mendaratkan bokong di bangku sebelah Egi. Mukanya keliatan kusut, sekusut baju Egi yang hari ini tidak sempat disetrika.

Egi mengendikkan bahu, "Gitu deh." Ia meletakkan ponsel tadi ke dalam tas lalu memutar tubuh menghadap cewe di sebelahnya.

Egi langsung menyernyit mendapati ada yang berbeda pada penampilan Jessi.

"Dih lo pake blush on!" Egi tak bisa menahan ketawa melihat sahabatnya yang sudah dikenal sejak setahun lalu itu, tiba-tiba memakai perona pipi di jam kuliah. Emang sih kemarin Jessi menghadiri seminar kecantikan yang diadakan oleh salah satu kosmetik brand local, tapi kan gimana ya, kesannya kok kayak gak sesuai tempat aja gitu kalau Jessi yang pake. Egi sekali lagi gak bisa menahan diri buat gak komentar mencela.

Kelas memang lumayan ramai, jadi wajar kalau pipi Jessi makin merah karena malu.

"Apaan sih Gi!"

"Dih ngambek!"

Jessi gak menjawab lagi karna cewe itu memutuskan segera pindah bangku, di dekat Salma. Cewe itu bahkan melengos sewaktu Egi memanggil. Yah ngambek beneran ternyata!

Egi mendongak saat mendengar namanya disebut. Seorang cowo berdiri di depan bangku Jessi tadi, mengajukan sebuah pertanyaan.

"Kosong gak Gi?"

Egi menatap penuh selidik. "Password?"

"Egi cantik pake banget."

"Lulus."

Bangku kosong Jessi tadi, kini ditempati oleh Ihsan, atau biasa dipanggil Aceng atau ketua angkatan Egi yang tinggi nya paling gak manusiawi. Begitu duduk, Aceng langsung tersenyum gaje menatap Egi. Membuat Egi waspada, pasalnya ia tau cowo itu sedang kehabisan obat.

"Tambah manis aja sih lo Gi, jadi pengen gue halalin ke tempat pemotongan daging deh rasanya," cowo itu berkata sampil mencubit gemas dua pipi Egi yang menurut Aceng sedikit kelebihan lemak.

Egi buru-buru menepis tangan Aceng yang sudah kurang ajar hinggap di pipinya, padahal baru dua hari yang lalu ia sucikan dari kuman yang ada di tangan Aceng, dengan mengunjungi salon kecantikan.

Merah Jambu [Seulhun]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang