Jujur sebenarnya aku kesulitan mencari teman.
Alasannya klise orang tua mereka tidak mengijinkan anak mereka berteman denganku, hanya karena aku berasal dari keluarga broken home, beberapa dari mereka bahkan secara terang-terangan menyuruhku menjauh, orang-orang menganggapku penyakit yang harus di musnahkan karena takut akan menyebar ke anak-anak mereka. Mereka menganggapku rendah dan remeh. Mereka menilaiku sebelah mata, mereka berkata pada teman-temanku, sebaiknya tak bermain denganku. Mereka menilaiku serendah itu hanya karena statusku.
'Anak broken home yang nggak punya ayah dan ibu'
Padahal apa bedanya aku dengan anak lainnya? Nasi adalah makanan kami semua bukan? Jadi apa yang membedakanku dengan mereka? Mulai saat ini aku tidak mempercayai seorangpun dari mereka, aku mulai membentuk presepsi sendiri tentang mereka, menganggap mereka tak jauh berbeda dengan seonggok daging busuk ditempat sampah, yang bahkan anjing sekalipun tidak mau menyentuhnya. Najis!
Mereka tidak pernah tahu bagaimana luka yang aku miliki, bagaimana proses yang aku jalani hingga mampu bertahan hingga hari ini. Ah ya, mereka tak perlu tahu kesusahanku, yang harus mereka tahu hanyalah aku baik-baik saja. Tak peduli apa yang mereka pikirkan tentang diriku.
Nia salah satu temanku datang dan mulai menceritakan masalahnya kepadaku, ya aku selalu menjadi ibu peri disekitar teman-temanku, membantu mereka disetiap mereka mempunyai masalah. Nia terlibat masalah dengan beberapa orang kakak kelas, dia ingin aku ikut bersama mereka untuk menyelesaikan masalah. Sebagai ibu peri, tentu saja aku akan membantu mereka. Lagipula aku butuh tempat pelampiasan.
Sore sepulang sekolah kami berkumpul di salah satu jalan yang tidak terlalu ramai. Ada sekitaran 5 orang kakak kelas di depan kami. Yahh, kami berniat menyelesaikan masalah. Aku rasa waktu itu terlalu terbawa suasana sampai-sampai tak menyadari ada satpam sekolah juga beberapa guru berlarian ke arah kami yang tengah asik mengadu jotos.
Untung saja waktu itu Abel sempat menarikku sehingga kami tidak tertangkap. Rasa sakit diwajahku serta perih dikepalaku rasanya tidak sebanding dengan rasa sakit dihatiku terhadap sikap ayah yang semena-mena kepada ibu dan tidak peduli kepadaku juga kakak adikku.
Kami memutuskan untuk pergi kerumah Nia waktu itu. Rumah Nia benar-benar sepi, sejak kedua orang tuanya cekcok, ibunya memutuskan untuk pergi. Sedangkan ayahnya jarang pulang ke rumah, sekalipun pulang ayahnya hanya memberikannya uang lalu pergi lagi.
Aku dan Nia bisa dibilang senasib. Berbeda dengan Abel dia memiliki keluarga yang harmonis, tapi dia tidak pernah mensyukuri itu, bisa dibilang dia menjadikan ini sebagai ajang pemberontakan masa remaja mungkin?
Nia dan Abel sibuk mengobati luka di badan dan wajah mereka, sedangkan aku hanya mengabaikan luka ini. Biarkan saja nanti juga akan sembuh sendiri.
Disaat seperti ini aku benar-benar merasa sendiri, aku rindu, butuh tempat untuk mencurahkan segala keluh kesahku, rasa-rasanya aku ingin sekali memeluk seseorang dan menangis kuat-kuat, meluapkan rasa sedih, kecewa bahkan emosiku yang tak lagi terbendung. Katanya disaat seperti ini, pelukan ayah dan ibu adalah obat terbaik didunia ini. Katanya, rumah adalah tempat terbaik untuk pulang saat dunia tak lagi berpihak. Namun bagi kami yang kehilangan keutuhan keluarga tidak demikian. Hidup kami adalah tanggung jawab terbesar.
Memeluk diri sendiri saat lelah dan menciptakan tempat 'pulang' yang baru. Karena keluarga tak menawarkan hal tersebut. Sayap kami telah patah dan tinggal sebelah. So, tak ada yang bisa kuharapkan kecuali diriku sendiri, bagaimana aku membakar semangatku untuk menjalani hari yang rumit dan menata luka agar tidak menyakitiku lebih parah. Diriku adalah akar dari segalanya. Aku belajar untuk tidak berharap pada orang lain jika tidak ingin kecewa.
-----
Aku mohon jangan pandang kami sebelah mata, kami juga manusia dan butuh kasih sayang.
Vote dan komen.
Dapat salam dari sang pemilik luka <3
KAMU SEDANG MEMBACA
Memories(revisi)
Non-Fiction°°Mereka yang terlihat kuat, sebenarnya tidak benar-benar kuat secara utuh ada kesedihan yang ia sembunyi rapat dan pura-pura bahagianya terlalu berhasil.°°
