Alena memeluknya, tanpa berkata apa-apa. Menumpahkan semua sedu nya di pundak laki-laki yang berdiri di hadapannya, memayungi tubuh Alena yang justru sudah basah. Tak ada balasan tangan memeluk Alena, ia pun tak menghiraukan hal itu karna yang dibutuhkan saat ini adalah tempat untuk menumpahkan rasa sesak yang menjejali hatinya sejak hati itu. Alena tidak tau apakah raga yang saat ini ia peluk bersedia menerima tangisannya, atau justru akan ada penolakan nantinya.
Kini hujan sudah menjadi rintik, perlahan terdengar pelan dan membuat orang-orang yang berteduh di deretan depan ruko kembali melanjutkan perjalanan mereka. Sedang Alena, kini berjalan dengan seseorang yang dengan lancang ia peluk tanpa permisi.
"gue minta maaf ya"
"buat apa?"
"meluk lo tiba-tiba tadi, mana baju gue basah lagi"
Dafa yang kini bajunya juga sedikit basah hanya terus berjalan di samping Alena dengan payung di tangannya.
"eh, kok elo di Jogja juga?"
"emangnya kenapa?"
Bukannya menjawab, Dafa justru balik bertanya kepada Alena.
"Ya maksud gue, elo liburan di sini juga? Ke rumah siapa?"
Daffa tidak menjawab dan kini melambaikan tangannya ke arah kanan, seperti aba-aba agar pengguna jalanan menurunkan kecepatan berkendara mereka. Alena yang saat itu hanya memainkan tali tasnya berada di belakang Dafa, mengikuti langkah Dafa yang mulai melewati garis penyebrangan di jalan. Setelah itu, mereka berada tepat di depan toko baju. Tanpa aba-aba Dafa masuk ke dalamnya, masih diikuti dengan Alena.
"Daffa lo ngapain si?"
Saat ini Alena menarik pelan tangan Dafa.
Membuat Dafa berhenti dan menatap diam ke arah Alena sambil di liriknya tangan Alena yang masih memegang tangannya."eh, sori. Hm, tadi gue nanya elo nggak jawab. Sekarang tiba-tiba elo masuk sini, mana gue basah kuyup begini"
Alena yang melihat wajah Dafa seperti tidak suka karena tiba-tiba ia tarik tangannya, langsung melepaskan genggamannya dengan wajah polosnya.
"saya mau cari baju ganti, tadi basah. Ada yang tiba-tiba meluk saya, udah tau badannya basah."
Jawab Daffa sambil berlalu meninggalkan Alena.
Membuat Alena terdiam dan benar-benar tidak berkutik. Jawaban Daffa sungguh menampar dirinya. Membuat Alena berfikir bahwa ia sudah melakukan kesalahan besar.
Setelah keduanya sama-sama mengganti pakaian, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Entah mau kemana, keduanya terlihat masih enggan untuk pulang.
"elo belum jawab pertanyaan gue"
"yang mana?"
"Dasar pikun. Gue tadi nanya elo liburan disini juga? Ke rumah siapa?"
Daffa yang melihat kursi di pinggir jalan lalu mendudukkan diri disana. Tentunya diikuti dengan Alena.
"Ibu bapak saya di Jogja kak, saya tinggal di Jakarta sama eyang"
"loh, kenapa malah sekolah di Jakarta? Jogja lebih seru tau"
"seru apanya?"
"Yaa banyak destinasi bagus nya, orang-orang pada ramah, logat jawa yang kental, dan masih banyak lagi deh."
"Memang gitu sih. Tapi nggak semua orang punya cerita yang sama, termasuk saya."
"kenapa si?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Pelukis Rasa
Short StoryKetika sebuah sudut yang gelap membutuhkan cahaya, dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu.