Tiga : Rasa yang Terasa

5 0 0
                                    

Pagi ini langit tidak secerah biasanya. Terlihat sedikit gelap dengan rintik yang masih turun membasahi apa pun di muka bumi. Tercium aroma khas jalanan yang sudah lama tidak di hujani. Terdengar berbagai macam suara dari dalam rumah. Mulai suara alat dapur yang pastinya sedang di kendalikan oleh Mama Alena, suara musik dari arah ruang tengah yang setiap pagi menjadi rutinitas abangnya. Jadi tidak heran kalau kadang Alena mengoceh karena tidurnya sering terganggu.

I don't want to run away but I can't take it, I don't understand,

If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am?

Is there any way that I can stay in your arms?

Terdengar salah satu lagu dari Daniel Bedingfield yang sudah semua orang tau artinya. Salah satu yang juga menjadi lagu kesukaan Alena.

Alena melakukan aktivitasnya pagi hari dengan iringan lagu yang abangnya putar dari playlist ponselnya. Sesekali Alena mencoba memutarnya dari playlist miliknya, ujung-ujung nya justru dimatikan abangnya. Katanya lagu di playlist Alena galau semua, bikin ngantuk. Lagu dari Adele - All I Ask, lagu dari Christina Perri - Jar Of heart dan lagu barat yang artinya galau serta nada yang mellow. Sejak kejadian itu Alena tidak pernah lagi memutar playlist nya.

***

"Al, tolong tempel ini ya di mading"

Ujar Dimas selaku ketua osis yang jabatannya beberapa hari ini akan digantikan dengan orang lain.

"apaan nih kak?"

"itu daftar nama anggota osis baru, kebanyakan adek kelas"

"oke kak, ntar gue tempel"

Dimas hanya mengangguk sambil menyebarkan selembar kertas.

Setelah kertas tersebut berada ditangannya, Alena membaca sekilas satu per satu nama yang tertera. Matanya terhenti di sebuah nama urutan dua puluh tiga, Dafa Abraham kelas sepuluh bahasa tiga.

"ini si Dafa bukan ya? Emang dia ikut seleksi beneran?"

Alena bertanya-tanya sendiri saat itu. Ia belum percaya kalau nama di dalam kertas itu adalah Dafa yang ia kenal. Makhluk aneh tanpa ekspresi yang baru ia kenal beberapa waktu lalu. Karena saat seleksi anggota Alena tidak bisa hadir, ia ada jam praktek di labor. Saat berjalan menuju mading, tiba-tiba terdengar keributan dari arah kantin. Beberapa murid berlarian seperti berlomba untuk mencari sumber suara riuh itu.

"habisin...habisin..habisin..."

Terdengar suara dukungan dengan tepukan seirama. Ada pula suara-suara selingan yang seperti melerai pertengkaran.

Alena yang masih belum sadar dengan apa yang terjadi masih melanjutkan tugas dari Dimas untuk memasang informasi terbaru dari osis. Di tengah-tengah proses menempel kertas, tiba-tiba Alena terdiam, seperti baru menyadari sesuatu.

"Fano.."

Setelah menyebut nama itu, Alena langsung berlari menuju sumber keributan itu. Sesampainya disana, sudah tidak ada suara riuh itu. Beberapa murid yang menjadi penonton sudah bubar. Pandangan Alena berkeliling mencari sosok yang sedari tadi ada dalam fikirannya. Dan benar, ditemukannya Fano sedang duduk di kursi sambil sesekali memegang memar di wajahnya lalu berekspresi kesakitan. Menuntun langkah Alena mendekat kearahnya.

"lo berantem lagi?"

Laki-laki yang semula duduk itu sontak berdiri tepat di depan Alena.

"dia yang mulai duluan Al"

Fano memegang bahu Alena dengan nada bicara seperti meyakinkan Alena, bahwa penyebab perkelahiannya kali ini bukan dia.

"lo aja yang emosian Fan"

Pelukis RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang