Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Terlihat seseorang berseragam putih abu-abu sedang kalang kabut. Tangan sebelah kanannya memegang sebuah sandwich yang sesekali di suapkan ke mulutnya, begitu pun mulutnya sibuk mengunyah, sementara tangan kirinya sedang berusaha merapihkan dasinya. Belum terlihat kaos kaki dan sepatu yang terpasang. Tak dihiraukannya ponsel yang berdering sedari tadi. Tubuhnya tidak berhenti bergerak kesana kemari. Sepertinya ia sedang dalam kesusahan pagi ini. Tak ketinggalan pandangannya yang terus menuju kepada jarum jam yang terus berjalan, waktu terasa sangat cepat.
Namanya Alena Frinscia, pelajar berusia tujuh belas tahun yang duduk di bangku kelas dua SMA. Hari ini adalah hari pertama Masa Orientasi Siswa di sekolahnya, dan Alena adalah salah satu panitianya. Ekspetasi akan pergi ke sekolah dengan santai dan berpenampilan semaksimal mungkin benar-benar gagal. Gadis ini justru memilih begadang main PS sampai jam tiga dini hari dengan abangnya. Dan resikonya, ia akan terlambat sampai sekolah, melewatkan upacara pembukaan MOS dan pastinya dapat sanksi. Karena panitia osis sudah menentukan siapa pun yang terlambat harus membayar denda buku sebanyak tiga buah, baik murid baru mau pun panitia. Semua rutukan keluar dari mulut Alena pagi itu. Rasanya ia ingin memiliki pintu doraemon untuk cepat sampai sekolah.
Sekarang jam di tangan menunjukkan jarum panjang ke arah angka lima. Perjanjian panitia harus sudah sampai lima belas menit sebelum upacara di mulai untuk briefing, tapi Alena sudah terlambat sepuluh menit. Bus yang ia tunggu akhirnya tiba. Tanpa fikir panjang Alena langsung masuk dan lagi-lagi semesta membuatnya menghela nafas panjang. Tidak ada bangku yang tersisa. Penumpang yang berdiri pun sudah lumayan banyak. Sudah terlalu banyak keluhan yang ia ucapkan hari ini, padahal ini karna ulahnya sendiri. Sudah bisa di tebak memang, ibukota tidak memberikan kebebasan kepada para pengguna jalanan. Memperpanjang waktu terlambat Alena.Sesampainya di depan gerbang sekolahnya sudah terlihat beberapa murid baru yang berbaris. Mereka juga sama seperti Alena, mungkin alasannya saja yang berbeda.
"Ah sial, id card gue!"
Lagi-lagi Alena tak bisa menahan amarahnya. Di ambilnya id card dari dalam tas, lalu di kalungkan ke lehernya. Karna peraturannya setiap panitia harus memakainya mulai dari gerbang depan.
Alena mulai bergabung dengan beberapa murid yang terlambat tadi, sambil merapikan rambutnya yang sedikit kusut.
Kehadirannya membuat semua mata melihat ke arahnya, melihat Alena dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ada yang tidak sampai kepala, karna melihat id card yang mengalungi Alena, membuat mereka mengalihkan pandangannya.Setelah menulis namanya di daftar terlambat, Alena bergegas menuju ruang osis untuk menaruh tas nya dan berharap keadaan akan membaik setelah ini.
"woy Al, dari mana lo?"
Bimo yang berasal dari arah belakang menepuk bahu Alena. Membuat Alena sedikit terkejut.
"ah elo, kaget gue. Kesiangan Bim, gila."
"makanya jangan main ps aja sih."
"abang gue noh, katanya bakal ngasih gue coklat."
"haha cewe kayak elo bisa juga ya di rayu"
Bimo terkekeh dengan suara yang cukup keras. Membuat tas di tangan Alena melayang ke wajahnya.
"sakit oi"
Bimo mengeluh sembari menutup wajahnya yang kesakitan.
Alena memilih tidak menjawab dan meninggalkan Bimo.
Melihat sikap Alena rasanya tidak percaya kalau dia adalah anggota osis, terlebih ia menjadi panitia MOS. Banyak teman-temannya juga tidak menyangka. Alena yang belajarnya biasa saja, bahkan terbilang malas, Alena yang lebih banyak punya teman cowok daripada cewek, yang kalau bicara tidak pernah melihat situasi dan kondisi. Tapi Alena adalah murid yang terbilang pandai karena ia menjadi juara satu di kelasnya dan juara umum dua di sekolahnya. Kalau melihat penampilannya, pasti semua orang berfikiran kalau Alena adalah anak nakal, tapi kalau melihat isi rapornya, tidak akan berhenti berdecak kagum. Nilainya tidak ada yang dibawah delapan puluh. Kepintarannya tidak terlihat dengan sikapnya yang tidak pernah memilih teman, bergaul dengan siapa pun. Tidak seperti beberapa juara kelas lainnya yang lebih memilih berteman dengan yang kepintarannya sebanding dengan dia. Itu bukan Alena.

KAMU SEDANG MEMBACA
Pelukis Rasa
Historia CortaKetika sebuah sudut yang gelap membutuhkan cahaya, dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu.