"Denger-denger Lo daftar jadi kandidat lomba puisi," Ujar Nuka. "Denger dari siapa Lo? Dasar tukang nguping,"
"Tadi pagi gue denger dari abang-abang tukang bubur, semangat banget siabangnya gibahin Lo," Ujar Nuka sembari tertawa. "Aish , goblok banget ya emang,"
"Abang buburnya?"
"Lo onta."
"Terus rencana Lo apaan?" Tanya Nuka sembari membuka kotak makannya. "Rencana gue buat?"
"Matiin bang Deno."
"Ya buat lomba puisi lah goblok," Ujar Nuka sembari menoyor kening Lisa. Lisa mengaduh memegangi keningnya kinclong nya yang kini memerah dihantam Nuka.
"Tolol nya Lo itu udah nyampe ketelinga para dewa, penduduk langit aja tau Lo itu tololnya minta ga diampunin." Ujar Nuka memakan roti lapisnya dengan sadis.
"Heh sembarang banget itu mulutnya . Tapi jawaban Lo yang pertama boleh dicoba hehe." Ujar Lisa. Lisa menopang dagunya sok berpikir keras, " Rencana gue buat lomba ini sih ya..."
Nuka menunggu ucapan Lisa, "Gak ada."
Dengan seketika Nuka kembali menoyor kening Lisa untuk kedua kalinya. "Sekali lagi Lo bikin gue kesel, gue ceburin Lo kekolam buaya, dasar human." Ujar Nuka.
"Btw lombanya kapan sih?" Tanya Nuka. "Lombanya sih tanggal 25 bulan ini, tapi ada seleksi dulu tanggal 5." Ujar Lisa sembari memegang keningnya yang memerah.
"Tanggal 5? Berarti Jumat ini dong."
Lisa mengangguk. "Lo udah puisi yang bakal Lo bacain?" Tanya Nuka.Lisa menggeleng, "Belum."
'INGIN KU MAKI MAKHLUK INI TUHANN!!' Dalam hati Nuka.
Nuka menghela nafas, "Lomba terganiat emang."
***
Kali ini Nuka menemani Lisa yang sedang mempersiapkan sebuah puisi untuk dia bacakan di tes seleksi besok. Lisa berulang kali mengganti posisi duduknya disofa demi sebuah inspirasi.
"Makin lama enek gue liat Lo duduk muter-muter kayak onta mau lahiran." Ceplos Nuka.
"Spesies Lo kalo mau lahiran pada muter-muter dulu emang? Baru tahu gue." Ujar Lisa terkekeh.
"Sa ae Lo serpihan upil thanos." Ujar Nuka.
"Gue berusaha dapetin inspirasi dengan begini." Ujar Lisa. "Terus udah dapet inspirasinya?" Tanya Nuka. Lisa menggeleng.
"Tapi gue ada niatan buat puisi yang sosoan teka-teki gitu." Ujar Lisa.
"Sok misterius Lo." Nuka merebahkan tubuhnya di karpet dan memiliki menonton televisi. Lisa memandangnya sembari bertopang dagu.
Sedetik..
Dua detik...
Tiga detik..
Lisa membulatkan matanya sembari tersenyum dan mulai menulis sesuatu dikertasnua. Nuka sama sekali tak menoleh, ia sesekali tertawa melihat acara televisi komedi.
"Nukaaa udah jadi nih." Ujar Lisa. Nuka langsung sigap duduk dan melihat hasil puisinya.
Nuka mengangguk, "Gimana? 1 sampai 10." Tanya Lisa.
"100."
***
Sehabis bel pulang berdering, para pendaftar lomba puisi berkumpul untuk mengikuti tes. Dan disinilah Nuka dan Lisa yang sedang sama-sama gelisah.
"Gue yakin Lo pasti bisa." Bisik Nuka. Lisa menatap ruangan didepannya. Tinggal satu orang lagi untuk menunggu gilirannya masuk.
Ceklek.
Pintu terbuka. Satu murid keluar. Jantung Lisa berdegup kencang.'Apa-apaan nih, kenapa jantung gue kayak abis kesetrum listrik. Padahal cuma seleksi. Cuma bacain doang Lisa.' Dalam hati Lisa.
"Nurilisa Fira." Namanya dipanggil. Lisa menatap Nuka, "Doain gue onta." Ucap Lisa. "Siap human."
Lisa memasuki ruang tes.
Bamm. Pintu tertutup.
Lisa memandang Nuka dibalik pintu, Nuka tersenyum. 'Semangat Lisa!'
Kini Lisa berdiri didepan ketiga guru senior. Bu Rita, pak Nugraha dan Bu Imma. Lisa tersenyum.
"Sore.. pak,Bu."
"Sore...Nama kamu Lisa?" Tanya Bu Imma. Lisa mengangguk. "Oke santai aja, bacain puisi kamu dengan maksimal ya. Oke silahkan." Ujar pak Nugraha.
Lisa menghela nafas. 'oke Lisa, Do your best! '.
***
Nuka sedari tadi duduk gelisah menunggu Lisa didepan ruang tes. "Ini orang lama banget, gue jadi ikut-ikutan deg-degan."
Ceklek..
Pintu terbuka.Nuka menghela nafas, "Gimana? Gimana? Lancar?" Nuka menyerbu Lisa dengan berbagai pertanyaan. "Apaan sih Lo, gue berasa jadi emak yang baru ngambil nilai rapot anaknya."
Nuka mencebik, "Kepo aja gue. Katanya hasilnya kapan?"
"Kata Bu Rita sih 2 hari kedepan paling lama. Bisa aja besok. Tapi ya tunggu aja." Jawab Lisa. "Gue doain mudah-mudahan Lo lolos."
"Aamiin , makasih Nuka. Tapi gue gak terlalu berharap sih." Ujar Lisa. "Kenapa lo? Tadi didalem Lo bacanya macet-macet ya kayak radio butut." Tebak Nuka.
"Sotau Lo."
"Yaudah, balik yu. Jam 4 nih. Laper gue." Ujar Nuka. " Beli eskrim di warung Abah molo dulu yaa. Yaa.. yaaaa." Rengek Lisa.
"Banyak maunya Lo, yaudah ayo jalan."
"Lo gabeli motor?"
"Ga"
---------
Hallo readers! Kasih vote, comment, dan saran kritiknya yaaa.. gue gatau ini enak dibaca atau enggak sama orang lain:'v .Happy reading yosh!! 💃🎉

KAMU SEDANG MEMBACA
Elected
Teen Fiction"Aku ingin kamu tahu, tapi aku tidak mau jelaskan. Jadi, baca saja ceritanya. Mungkin kamu mau lebih mengerti aku." - Lisa.