03

14 3 0
                                    

Author POV

Hampir 3 jam lebih mereka dibuat menunggu, hingga yang mereka tunggu-tunggu membuahkan hasil juga.

Seseorang dengan menggunakan pakaian serba warna hijau keluar dari ruangan tersebut.

"Apakah kalian berdua ini keluarga dari pasien?" Tanya seorang dokter yang barusan saja selesai menangani pasiennya.

"Yah, saya Ibunya dan dia ini sahabatnya." Jawab wanita paruh baya tersebut.

"Baiklah, saya akan menjelaskan. Benturan pada kepalanya lumayan keras, hingga membuat kepala pasien robek dan mengakibatkan pasien kehabisan banyak darah di bagian kepala. Kemungkinan besar juga pasien akan mengalami Amnesia. Namun beruntungnya, di bagian anggota tubuh lainnya baik-baik saja, hanya luka ringan seperti di lengan, dahi, dan kaki." Jelas Rachel, salah satu dokter di rumah sakit tersebut.

Shock, cemas, takut, lelah, pusing, sedih, dan sakit. Itulah yang dirasakan oleh dua orang tersebut, Amanda dan Ae-Ri, Ibu Lin-Ki.

Saat ini perasaan Ae-Ri sangat campur aduk, mendengar bahwa malaikat tercintanya harus di larikan ke rumah sakit. Dan barusan saja dokter Rachel mengatakan bahwa Lin-Ki kehabisan banyak darah dan kemungkinan besar Lin-Ki akan mengalami Amnesia.

Ae-Ri tak habis pikir, jika nanti Lin-Ki sadar apakah Lin-Ki masih mengingatnya? Bagaimana jika Lin-Ki benar-benar melupakannya?

Tanpa Ae-Ri sadari, air matanya meleleh membasahi pipinya.

"Ini semua salahku, Mom." Amanda menundukan kepalanya sambil menahan air matanya yang sudah siap jatuh kapan saja.

Ae-Ri langsung memeluk Amanda, sambil menangis dan mengelus pundak rapuh itu. Dan di balas dengan pelukan hangat oleh Amanda.

"Tidak sayang tidak, ini bukan salahmu. Mommy mala harus berterima kasih denganmu karena sudah mau membujuk Lin-Ki untuk keluar dari kamarnya. Ini semua sudah takdir sayang, kita harus menjalaninya. Mau itu baik atau pun buruk, kita harus tetap menerimanya." Amanda hanya bisa menangis dan tak berniat untuk melepas pelukan tersebut.

Andai saja Amanda tidak mengajak Lin-Ki, mungkin saat ini Lin-Ki masih ada di hadapannya.

Tapi di sisi lain juga, Amanda tidak suka melihat Lin-Ki berdiam diri terus menerus, hanyut dalam kesedihan.

Setelah 5 menit lebih mereka berpelukan, Sekarang rasanya lebih baik dibanding sebelumnya.

"Tak perlu bersedih lagi Manda, jika Lin-Ki tau kita bersedih dia juga akan ikut bersedih." Ucap Ae-Ri sambil menghapus air mata di pipi Amanda.

"Yah sudah, ayo kita masuk melihat Lin-Ki." Ajak Ae-Ri dan dibalas Amanda dengan anggukan.

Mereka pun berjalan memasuk ruang tersebut.

Disaat mereka telah di dalam, yang pertama kali mereka lihat adalah, Lin-Ki.

Dengan beberapa selang yang menempel di tubuhnya. Dan juga wajah tenangnya ketika sedang tidur.

Ae-Ri berjalan menuju kursi yang berada di sisi kanan Lin-Ki dan Amanda memilih kursi yang berada di sisi kiri Lin-Ki.

Ae-Ri mengelus rambut Linki dengan sayang.

Aku Di Belakangmu.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang