Lin-Ki POV
Aku membuka mataku dan mengedipkannya beberapa kali bertujuan untuk memperjelas pengelihatanku yang buram.
Perlahan pengelihatanku mulai jelas.
Yang paling pertama kulihat adalah langit-langit berwarna putih.
Ntah ini dimana, tapi yang paling terpenting saat ini kepalaku sangat pening.
Aku menggerakan tanganku dan memegang dahiku.
Tanganku begitu berat dan kebas untuk digerakkan.
Aku mengurut dahiku yang terasa pening itu.
"Mom, Lin-Ki telah sadar..." Aku mendengar ada suara seorang wanita, rasanya begitu familiar tapi ntah itu siapa.
Aku langsung bangun dari posisiku, menyandarkan diriku di sandaran kasur yang kutempati itu.
Aku melihat dua orang wanita di sini selain aku, satu wanita tak kukenali tapi wajahnya sangat tak asing bagiku, dan satunya lagi wanita paruh baya tapi wajahnya masih tetap saja cantik walau usianya sudah mau menuju kepala 4, dan dia adalah Mommy Ku.
Mereka berdua berjalan dan mendekatiku.
Aku merasakan kecupan di dahiku, sangat lama dan hangat. Dan yang mengecup dahiku tidak lain adalah ibuku sendiri.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, sayang? Apa kau sudah merasa baik? Kau merasa kesakitan? Jika iya, katakan yang mana yang terasa sakit. Biar Mommy sembuhkan dengan kecupan." Ucapnya dengan senyuman, senyuman kekhawatiran.
Aku hanya diam, tak menjawab sama sekali.
Ntah kenapa rasanya begitu susah walau hanya sekedar berbicara.
Tiba-tiba senyuman yang Mommy ku tunjukkan tadi kepadaku perlahan memudar.
Wajahnya tampak sedih.
Apakah aku telah menyakitnya? Membuatnya kecewa? Atau karena aku tak membalas pertanyaannya?
Tiba-tiba dia kembali menanyakanku sesuatu, "Kau masih mengingatku Lin-Ki?" Aku mengerutkan dahiku, pertanyaan macam apa ini? "Kau betul-betul melupakan Mommy mu ini?".
Dia menghela nafasnya begitu panjang, berusaha menetralisirkan keadaan.
"Aku Ae-Ri sayang, aku Mommy mu." Ucapnya lagi sambil mengusap rambutku.
"Aku tahu itu, Mom." Jawabku dengan susah payah.
Dia terkejut melihatku.
"Kaa-kau mengingat Mommy? Kau..kau tak melupakan Mommy inikan???" Tanyanya tak percaya, seolah-olah aku sedang berbohong padanya.
Aku hanya mengangguk.
"Oh Tuhan, terima kasih telah mendengarkan semua doaku." Ucap Mommy sambil menatap ke atas dan menyatuhkan kedua tangannya.
"Apakah kau mengingat dia?" Tanyanya sambil menujuk wanita yang berada di sampingnya.
Aku menggelengkan kepalaku, tanda bahwa aku tak mengenalinya.
"Tapi wajahnya sangat familiar di mataku." Ucapku sambil melihat wanita itu dengan teliti.
"Aku Amanda, sahabatmu." Ucap wanita yang tak kukenali itu, yang lebih tepatnya bernama Amanda.
Ntahlah dia Amanda siapa, tapi namanya itu sangat familiar dan dia bilang bahwa dia adalah sahabatku.
Aku berfikir keras hingga dahiku mengerut.
"Tak usah dipaksakan, cepat atau lambat kau akan mengingat semuanya kembali." Ucap seorang pria berjas putih, siapa lagi ini? Arghhhh, kenapa aku harus berada disini? Ada apa ini sebenarnya?
Pria itu berjalan mendekati kami.
"Sebelumnya aku minta maaf karena telah mengganggu kalian, kenalkan, aku Dokter Rachel, salah satu Dokter di rumah sakit ini." Dia merentangkan tangannya kepadaku, berniat mengajakku berkenalan.
Aku hanya diam, melihat tangan besarnya itu.
Dia langsung menjatuhkan kembali tangannya dan memasukkan ke dalam kantong jas putihnya tersebut.
"Mungkin kau masih belum sempurna sembuh dan berfikir ada apa sebenarnya ini, Mommy mu akan menceritakan semuanya setelah aku memeriksamu." Ucapnya sambil menatap Mommy dan dibalas dengan anggukan oleh Mommy ku.
Dia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, dan itu adalah Stetoskop.
Dia memasangkan stetoskop itu di telinganya.
Dan ujung stetoskop itu mau dipasangkan di jantungku.
Aku langsung memundurkan diriku, w*f is this?
"Hey, jangan takut, aku hanya memeriksa keadaanmu, aku tak akan macam-macam." Ucapnya berusaha membuatku percaya.
Perlahan dia mendekatiku lagi dan aku melihat Mommy ku yang sedang tersenyum kepadaku seolah-olah memberiku isyarat 'tidak apa-apa'.
Aku memberanikan diriku, agar tak menghindar.
Aku melihat dokter itu masih memeriksaku.
"Kau sudah cukup baik, sepertinya dia sudah bisa pulang jika ingin." Ucap dokter itu memberi tau Mommy ku.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" Tanyanya sambil menatapku.
"Kepalaku sedikit pening dan badanku sungguh remuk semua." Ucapku menjelaskan apa yang kurasakan saat ini.
Dokter Rachel hanya mengangguk.
"Apa kau melupakan semuanya?"
"Sepertinya tak semua yang dia lupa, buktinya dia mengingatku, tapi dia tak mengingat Amanda." Ucap Mommy ku sedih.
Dokter Rachel tersenyum,
"Tuhan menyayangimu Lin-Ki." Ucap dokter Rachel sambil trsenyum dan melanjutkan kembali ucapannya, "Itu tak akan berlangsung lama, perlahan semua akan dia ingat jika kalian mengingatkan tentang kenangan-kenangan kalian bersama."
"Baiklah dokter, terima kasih atas bantuannya." Ucap Mommy ku.
"Tak perlu terima kasih karena itulah tugas saya, membantu orang-orang yang sedang sakit. Baiklah saya permisi." Dokter Rachel pun pergi dari ruangan ini.
"Ada apa sebenarnya ini?" Aku sungguh bingung saat ini.
"Mommy akan menceritakan semuanya jika kita sudah di rumah."
Rumah? Aku punya rumah? Aku sungguh bingung. Someone kill me please:)
Aku hanya mengangguk pasrah, menunggu hari dimana aku dijelaskan tentang semua ini.
Bersambung.
Karena Vote & Comment itu gratis.
15/04/2019.

KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Di Belakangmu.
RandomBelajarlah menghargai sesuatu, kadang sesuatu itu datang hanya sekali. -Lin-Ki Carter.