•empat.

10 0 0
                                        

• bingung •

✨✨✨

     —"Tadi aku udah ngobrol sama cewek yang ngatain kamu." tutur Rayyan, selepas Athla berganti baju dan membawakan jus jeruk untuknya. Lalu Athla duduk di samping Rayyan dengan kedua kaki yang ia naikkan ke atas sofa.

Wajahnya penasaran, ia menunggu Rayyan selesai minum. "terus gimana? kamu kenal sama dia?"

"Hm?" Rayyan menggeleng, tangan kanannya merapikan rambut yang kemudian masuk ke sela-sela jarinya. "aku nggak kenal. Ya, semoga aja ke depannya dia nggak ganggu kamu lagi," ujarnya sembari meneguk jus jeruk lagi. Mendengar itu Athla cukup tenang, setidaknya Rayyan mungkin sudah berbicara beberapa hal pada cewek itu—Kaila.

Saat ini Rayyan duduk di sebelah Athla dengan tubuhnya yang condong ke depan, dari belakang sini Athla bisa melihat punggung dan bahu bidang milik Rayyan.

Entah kenapa Athla jadi sebegitu tertarik memperhatikan Rayyan dari belakang. Ia menyaksikan bagaimana tajamnya tulang rahang Rayyan yang begitu nyata saat permukaan gelas menempel di bibirnya.

Hingga tanpa tersadari Rayyan menoleh ke belakang, ia melihat Athla kesem-sem dalam lamunan. Lalu sikutnya menggertakkan lutut Athla yang terlipat naik di sofa. "Heh. Ngelamun." tukas Rayyan.

Athla tersipu, ia menutupi mukanya dengan kedua telapak tangan. Melihat itu Rayyan tertawa kecil, lalu memaksa Athla untuk melepaskan tangannya dari muka disusuli dengan kelitikan tangan Rayyan yang tertuju pada pinggangnya Athla.

"Rayyan ih! Hahaha!"

"Assalamualai—"

"Ray, stop! Geli hahaha, ih gila ya."

"ASSALAMUALAIKUM."

"Eh! Hehehe! Mami ... kok gak bilang sih." ujar Athla, menahan malu setengah mati karena keasyikan bercanda dengan Rayyan, tanpa sadar Selvi—maminya baru saja pulang kantor.

Rayyan berdiri, menghampiri Selvi dan mencium telapak tangannya. "Mami ucap salam loh tadi, La. Dunia berasa milik berdua sih ya, mami mah ngontrak." tukas Selvi, seketika semuanya tertawa.

"Ih, mami." racau Athla, malu. Matanya memutar dan mencari jam dinding. "eh, kok udah pulang, mam? Baru jam 6 loh, maghrib juga belum."

"Iya, abis rapat di luar kantor nih. Jadi pulangnya cepet," ujarnya, sembari berjalan ke dalam menuju meja makan. Diikuti dengan Athla dan Rayyan di belakangnya.

"La, kamu wadahin ya. Mami mau mandi dulu, nanti kita makan sama-sama." seru Selvi, lalu pergi meninggalkan makanan yang baru saja ia beli di meja makan.

"Ray, boleh tolong ambilin sendok nggak? Di buffet itu, belakang kamu," ujarnya, sembari tangannya membuka beberapa bungkusan makanan.

Bola mata Rayyan pun kesana kemari, menyapu seluruh sudut buffet yang cukup panjang. Sampai akhirnya matanya tertuju pada rak besi yang di dalamnya ada banyak sendok, dan di sampingnya ia melihat ... sebuah bingkai foto kecil yang berdebu dan hampir usang.

Sebelum tangannya benar-benar tertuju pada sendok, ia meraih bingkai itu dan dipandanginya lah foto yang berwarna hitam dan putih. Di sana terdapat Athla dan kedua orang tuanya yang sedang merayakan hari ulang tahun Athla. Ia seperti masuk ke dalam foto itu, ia merasakan tawa bahagia di dalam sana.

Tanpa sadar, Rayyan yang ditunggu untuk membawa sendok tak kunjung datang. Athla menghampiri Rayyan, berdiri di belakangnya. Ia tersenyum, begitu Rayyan menatap matanya yang berbinar.

"Masih di Penang?" tanya Rayyan, padahal dalam hatinya ia tidak bermaksud bertanya seperti itu. Hanya saja ia ingin tahu, tapi rasanya serba salah.

RengkuhWhere stories live. Discover now