"OH INI LONTE NYA RAYYAN!"
Sergah seorang cewek, suaranya berasal dari barisan anak-anak yang melanggar aturan. Mendengar hal itu Athla terdiam sejenak, ia menarik nafasnya dalam-dalam dan mencona bertahan untuk tetap tenang.
"Izinkan saya melanjutkan sedikit, menurut saya, lempar batu sembunyi tangan hanya diperuntukkan oleh orang-orang yang pengecut. Dan sudah jelas, dari mulutnya dan cara dia bersembunyi, dia jauh lebih rendah dari lonte. Atau mungkin dia lebih rendah dari permen karet yang pernah menempel di alas kaki saya. Sekian, Assalamualaikum,"
Setelah itu Athla langsung turun dari podium, ia berjalan cepat pergi meninggalkan lapangan dan semua orang yang berada di sana. Hampir semua pasang mata juga menyaksikan dengusan membara dari raut wajah Athla, tapi ia menahannya dan memutuskan untuk pergi.
Giginya beradu bergelatuk, ia berjalan menuju kelasnya sembari tangan kirinya merogoh lengan kanan untuk mencopot syal yang tertanggal di sana. Lalu syal itu ia pakai sebagai pengelap keringat yang mengalir di pelipisnya. Dan kini ia telah menyandarkan badannya pada kursi.
Nyatanya hari senin begitu melelahkan, dibanding hari biasa. Menyulut emosi di pagi hari rasanya jauh lebih membebankan dibanding belajar sampai sore.
Brakkk
Suara pintu terbuka dengan paksa terdengar, membuat semua murid menatap ke sudut sana. Athla yang tak peduli itu tetap menidurkan kepalanya di atas meja.
"Athla!"
Gadis itu memekik, lalu perlahan kepalanya terangkat. "Nggak, cuma cape aja. Udah bubar, Me?" tukasnya.
"Udah boleh masuk kelas kok. Aduh La, gue takut lo pingsan tau. Nih, gue beliin roti sama minum," ungkap Megan, lalu menyodorkan makanan dan minuman itu untuk Athla.
"Makasih, Me." Athla langsung membuka penutup botol, dan ia langsung menenggak air itu dengan gelagas sampai yang tersisa tinggal setengah botol lagi.
Athla menghela napas setelah ia meminum banyak air. "Eh, Me, lo tau nggak yang tadi ngomong kayak gitu siapa?"
"Tadi sih gue sempet liat di bajunya, namanya Kaila. Kayaknya kelas 11 deh, La—"
"Assalamualaikum anak-anak." sapa Bu Arni begitu masuk ke dalam kelas.
"—eh, gue ke kelas dulu ya, dah!" tukas Megan, lalu ngibrit keluar dari kelasnya Athla.
Sekarang pelajaran sejarah dimulai, Athla sangat menyukai mata pelajaran ini. Entah kenapa rasa ingin tahunya bertambah begitu ia mendengar Bu Arni mulai bercerita tentang kejadian masa lampau. Dan seketika rasa penatnya pun perlahan hilang.
✨✨✨
"Eh! Megan! Stop!" Kaafka berteriak dari kejauhan, lalu berlari menghampiri Megan yang baru saja keluar dari kelas Athla.
Megan menoleh, menunggu Kaafka sampai.
"Si Athla gak kenapa-napa kan?" tanya Kaafka dengan wajah sedikit khawatir.
Megan menggeleng sambil tersenyum. "nggak, tenang aja." jawabnya.
"Btw, Ka, gue nyesel deh gak berani masuk Beringas," ujarnya, sembari keduanya berjalan menuju kelas.
