Sinar mentari sudah sepenuhnya masuk dalam kamarku dan bagaikan alarm tidak kasat mata aku membuka mata lebar-lebar kemudian melompat dari tempat tidur menuju kearah ruang kerja yang hanya diberi pembatas gorden berwarna merah muda sama seperti warna dinding kamar. Aku membuat kamar tidur dan ruang kerja digabung menjadi satu agar lebih mudah untuk bekerja dan beristirahat, namun melihat begitu kecilnya ruang kerja ini aku terpaksa harus mengerjakan project yang besar di kantor sedangkan untuk project kecil kukerjakan di rumah.
Tanpa mencuci muka terlebih dahulu aku menghidupkan komputer kemudian mulai memperbaiki desain yang kubuat sebelumnya, dengan menambahkan kesederhanaan dan kemewahan yang dimaksud Revan aku menghapus kompenen yang tidak perlu dan juga menambahkan komponen yang menurutku lebih sederhana.
"Sialan Revan!" aku memaki dengan keras.
Aku mengeram keras tepat setelah ponselku berdering, bisakah aku berkonsentrasi sebentar agar dapat segera menyelesaikan masalah desain ini. Sungguh, bahkan aku sudah bersumpah jika aku akan menjauh dari Revan tepat setelah kerja sama kami selesai, mungkin aku akan pindah ke luar kota atau luar negeri mengingat klienku banyak yang berasal dari luar.
"Gue gak mau diganggu!" ucapku setelah meletakkan ponsel di sisi samping komputerku, aku sengaja mengeraskan suara ponsel agar tidak perlu repot menggenggamnya selagi mengerjakan tugas.
"Lo masih ngambek karena gue?"
"Kalau bukan karena lo gue gak mungkin bisa berhubungan sama sepupu iblis lo itu, untuk bicara sama dia aja gue ogah"
"Dia cuma mau desainya diurus sama lo, Lily. Lagipula ini bukan sepenuhnya salah gue"
Aku melirik ke arah ponsel kemudian mengeryitkan dahi, "What? bukan sepenuhnya salah lo?"
Lita mendengus kesal, "Selain alasan karena permintaan gue, lo tergiur sama uang yang lo dapat dari kerja sama kalian kan?"
Aku terdiam sesaat, memang benar apa yang dikatakannya mengenai upah yang kudapat jika sukses dengan kerja sama ini. Revan tidak tanggung-tanggung membayarku, bayangkan saja pria yang sialan kaya itu rela memberikanku uang senilai lima ratus juta dengan catatan aku harus bersikap profesional dalam bekerja dan tidak menaruh perasaan lebih mengingat bagaimana masa lalu kami.
Hell, perasaan katanya? mungkin jika kami tidak berada di salah satu cafe yang pengunjungnya tidak pernah sepi aku akan langsung muntah di hadapannya. Sungguh, untuk bertemu dengan Revan saja aku harus menyiapkan mental agar tidak langsung menampar wajahnya.
"Oke, gue akui."
Lita tertawa keras membuatku hanya bisa mendengus, mataku kembali menatap ke arah layar komputer sembari mendengarkan ocehan Lita selanjutnya.
"Acara pertunangan kak Satya di Barcelona hari senin nanti, gue mau lo datang bareng Revan"
"Kenapa harus gue?" aku bersikap sesantai mungkin, mengenyahkan geloraku yang ingin sekali memaki Lita.
"Dia gak punya pendamping ke acara pesta kak Satya"
"Gue siapanya dia? seharusnya lo sadar kalau gue nekat kesana yang ada gue bisa disembur sama mak lampir"
Mak lampir yang kumaksudkan disini tante Rina, mamanya Revan. Sejak dulu memang wanita yang merupakan salah satu dari pengusaha butik paling terkenal di negara ini tidak menyukaiku. Setiap kali bertemu dengan tante Rina ada saja keburukan yang ditujukan padaku.
"Gue udah gak pantas, Lit" jariku berhenti bergerak di atas keyboard setelah menyadari kalimat yang kuucapkan. Tanganku mengepal karena terlalu kesal mendengar nada suaraku yang lirih.
"Bisa kasih dia kesempatan kedua?"
Aku menyenderkan tubuhku pada sandaran kursi kemudian memejamkan mata, "Dia sendiri yang bilang kalau dalam hubungan kerja kami dilarang menaruh perasaan"
"Si bodoh itu! padahal gue udah kasih dia kemudahan"
"Gue juga gak mengharapkan lebih" balasku, tanpa bertanya sekalipun, aku sudah mengerti maksud dari kata kemudahan yang Lita maksud.
"Gue cuma mau kalian bersama lagi"
"Berhenti mengharapkan hal yang mustahil terjadi"
Selepas aku berucap, Lita memutuskan sambungannya. Aku menghela nafas kemudian menegakkan tubuhku yang sedikit kaku, mungkin karena begitu nyaman saat posisi menyandar barusan.
Sial, karena pembicaraan bersama Lita, secara tiba-tiba aku memikirkan si brengsek Revan, otakku kembali mengingat kejadian yang membuat hubungan kami usai. Kala itu aku berniat memberikan kejutan kepada Revan tepat disaat hari ulang tahunnya, aku menyiapkan Fruit cake kesukaannya dan juga hadiah yang kubeli jauh-jauh hari.
Memang pada hari itu Revan mengingatkanku agar tidak menganggunya namun mengingat hal yang sudah kusiapkan membuatku melanggar peringatannya, hingga akhirnya sebuah fakta terkuak.
Revan selingkuh di belakangku.
Di kala aku membuka pintu ruang kerja Revan, aku mendapati pria itu tengah mencium seorang wanita, begitu intim dan panas.
Namun karena Revan tipe pria yang tidak mau disalahkan pria itu balik menghakimiku, mengatakan jika aku tidak mempercayai dirinya dan langsung memutuskan hubungan kami.
Seharusnya aku yang memutuskannya, akulah pihak yang tersakiti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Back To You
RomanceBuanglah mantan pada tempatnya, tutup rapat-rapat agar bau busuknya menghilang. Selalu saja kalimat itu terngiang di pikiran Lily semenjak pertemuannya dengan Revan, sang mantan yang kini berstatus sebagai kliennya.
