Tok... Tok.. Tok...
"Haein-ah.. Buka pintunya! Eomma membawa sesuatu untuk mu!"
Tok.. Tok.. Tok..
"Haein.. eomma membuatkan sarapan untuk mu. Jangan membuat eomma kecewa karena kau tidak memakannya! Ayolah, sayang .. buka pintu nya!"
Tok.. Tok.. Tok..
"Haein-ah.. eomma membuat telur gulung kesukaan mu. Mungkin tak seenak buatan sohye, tapi.. eomma ingin kau mencobanya! Haein?"
Tok.. tok.. tok..
Hana menghela nafas. Seperti nya gadis itu tidak akan pernah mau membuka pintunya untuk hana.
Sebenar nya pintu itu tidak terkunci dan hana tau akan hal itu. Namun, ia tidak ingin masuk ke dalam sana tanpa izin haein. Ia ingin, haein sendiri yang membuka pintu itu untuk nya
"Astaga, harus ku apakan telur gulung ini? Buang saja? Yeoyun alergi dengan telur!" Ucap nya kecil. Sedikit kecewa dengan apa yang telah ia kerjakan namun tidak di hargai sama sekali.
CEKLEK..
Hana mengurungkan niatnya untuk pergi saat pintu itu dengan tiba-tiba nya terbuka, menampakkan seorang gadis dengan sendal rumah, handuk piyama berwarna putih, dan sebuah handuk yang juga menutupi rambutnya. poninya yang mengintip tampak masih terlihat basah.
Hana tersenyum menyadari penampilan gadis itu. Karena bukannya haein sengaja mengabaikan panggilan hana yang sudah beberapa kali mengetuk pintu,taoi teryata gadis ini sedang membersihkan tubuhnya dan baru saja selesai.
Berbeda dengan hana, haein tak memberikan senyum sama sekali. Ia hanya menatap nampan berisi makanan yang dibawa oleh hana.
"Oh.. ini, aku membuatkan mu sarapan! Aku tidak yakin dengan rasanya_"
Ucapan hana terpotong saat haein mengambil alih nampan tersebut. Setelah nampan itu di tangannya, haein pun menatap hana, memberikan tatapan 'apa lagi yang ingin kau katakan?'
"E'eh.. i-itu.. kesekolah hari ini?" Tanya hana yang entah mengapa terlihat canggung berbicara dengan haein. Haein tampak berpikir, tapi tidak lama. Ia menggidikkan bahunya, artinya' tidak tau'
"Ohh begitu yah. Kalau begitu, nikmati sarapan mu!" Ucap nya kemudian pergi meninggalkan Haein. Haein sama sekali tak menunggu hana menghilang dari penglihatannya. Ia langsung menutup pintu dan selanjutnya entah apa yang ia lakukan.
Hampir saja yeoyun terlambat. Untung saja ia bisa berlari dengan cepat dan bisa mendahului saem untuk masuk ke dalam kelas.
Dengan nafas yang memburu, ia berjalan ke arah bangku nya. Meletakkan tas nya di laci lalu menyandarkan kepalanya di atas meja.
"Selamat pagi anak-anak!" Sapa seorang wanita yang di duga yeoyun adalah saem yang selalu ia lihat akhir-akhir ini. Yeoyun pun mengangkat kepalanya yang terasa begitu berat
"Kau masuk hari ini, Haein-ah?"
Yeoyun terkejut saat nama itu di sebut. Ia mencari ke seluruh penjuru ruangan. Namun nihil, dia tidak menemukan haein di kelas ini. Kecuali, bangku yang selalu kosong di depannya sudah terisi. Tak salah lagi, gadis yang duduk di depannya adalah haein. Kenapa dia tidak menyadarinya?
Yeoyun bahagia akan hal itu. Akhirnya, mulai hari ini mereka akan pulang bersama, dan mungkin akan berangkat bersama mulai besok.
Pelajaran pertama pun di mulai, dimana semua anak-anak akan berusaha setengah mati menahan kantuk karena saem yang menjelaskan.
Selang beberapa jam kemudian, akhirnya penantian mereka berakhir. Bel istirahat berbunyi, saem yang sedari tadi terus berbicara itu kini meninggalkan kelas.
"Haein-ah.. ada yang ingin ku katakan pada mu!" Ucap namja ysng duduk di samping haein. Semua pasang mata menatap namja itu hingga keluar dari kelas.
"Wooo" teriak para siswa menggoda haein.
Haein yang tidak suka akan situasi itu pun langsung berdiri dari duduk nya. Melihat haein yang sudah bersiap untuk pergi itu, yeoyun dengan segera memasukkan alat-alat tulisnya ke dalam laci secara acak, kemudian mengekori haein.
Kini mereka tengah berjalan di kuridor sekolah, entah menuju kemana.
Haein berjalan berdampingan dengan namja yang mengaku ingin mengatakan sesuatu itu, dan yeoyun berjalan di belakang, menjadi obat nyamuk.
"Haein-ah.. aku, ingin meminta maaf. Malam itu, aku benar-benar tidak bisa hadir!" Ucap namja itu, namun tak di tanggapi oleh haein.
"Kemana kau selama ini? Aku mencari mu. Katanya, kau tidak ada di rumah!"
Benar, tidak ada yang tau kalau selama beberapa hari Haein di paksa tinggal di Rumah sakit jiwa.
"Haein-ah.. jangan seperti ini. Tolong katakan sesuatu!" Bujuk namja itu
"Haein-ah aku benar-benar _"
"Apa kau bisa menjelaskan pada ku mengapa malam itu kau tak hadir? Apa yang lebih penting dari ulang tahun ku? Ulang tahun kekasih mu sendiri?"
Gadis itu tiba-tiba saja bersuara. Sungguh, yeoyun di buat terkejut dengan hal itu. Mereka berpacaran?
Yeoyun menghentikan langkah nya, seperti apa yang dilakukan kedua orang itu
"Malam itu, aku benar-benar punya urusan mendadak Haein. Sangat penting, aku harus hadir di sana!"
"Jadi maksud mu, aku tidak penting?" Tanya haein, dingin
Namja itu di buat tak bisa berkata-kata oleh haein
"Malam itu, kau melewatkan banyak hal. Saat orang-orang bernyanyi selamat ulang tahun, saat orang-orang mengucapkan selamat pada ku, dan saat, aku kehilangan eomma ku. Kau melewatkan semuanya. seharusnya kau ada,di samping ku. Tapi,kau kemana?"
Namja itu terdiam
"Aku bertanya pada mu PARK JIMIN! Kemana kau saat aku membutuhkan mu?kenapa kau diam saja?katakan sesuatu!!!!"
Namja bernama lengkap Park Jimin itu masih bungkam. Tak berani menatap haein, ia takut haein akan menemukan jawabn di dalam sana.
Kebohongan
"Sekarang aku sudah menemukan jawaban nya.ayo kita akhiri hubungan ini.sudah berakhir!!" Ucap Haein. Sekarang jimin sudah berani menatap mata haein. Menggeleng kan kepalanya kasar, tanda penolakan
"Tidak. Aku tidak mau! Tidak boleh terjadi!" Ucap jimin cepat.
"Terserah kau saja!" Ucap haein kemudian berlalu meninggalkan jimin dan yeoyun di lorong itu
Jimin menyisir rambutnya ke belakang menggunakan 🖐️ nya.
"Argh..." teriak nya frustasi.
Sesaat kemudian, tatapannya bertemu dengan seorang gadis yang masih berdiri mematung memandangi nya di sana.
"Annyeong!" Sapa Yeoyun
#BERSAMBUNG
KAMU SEDANG MEMBACA
The BIG BOSS
RandomKebahagiaan? Apa masih ada untuk seorang gadis bernama Kim Haein? Semenjak kepergian Ibu nya, Semua orang meninggalkannya. Tepat pada hari Ulang tahunnya yang ke-19, semua berubah. Hari yang seharusnya menjadi hari kebahagiannya, adalah awal dari pe...
