Bab VI: Sian Hok To Pay仙学徒派 (siswa-siswi pengabdi malaikat) bagian 2

137 2 0
                                    

Twanio bernama asli Gui Ian 魏嫣. Sekarang menjadi Tio Taitai. Sebelumnya aku jarang sekali melihat twanio. Ia mengurusi Sian Hok To Pay dari balik layar. Ada desas desus dia sama berkuasanya dengan malaikat muda timur beberapa keputusan yang diambil Tio San Liam diambil oleh Twanio. Satu hal lagi yang aku ingat hingga sungguh kurang pengetahuanku tentang Twanio. Twanio sangat cantik adanya. Kulitnya kuning cerah. Bibirnya merah agak merekah seperti mawar muda. Lehernya jenjang seperti jerapah. Dan ah sudahlah pebendaharaan kataku tidak cukup untuk menggambarkan jelitanya twanio. Bahkan aku tidak dapat memandang matanya. Aku tidak berani aku takut berhasrat kepadanya. Aku selalu malu sendiri bila melihatnya. Dia tidak dapat dibandingkan dengan Souw sumoi atau Yang konio. Keanggunan Twanio berada di tahap yang sama sekali berbeda dengan mereka berdua atau pendekar perempuan manapun. Terlebih tubuh twanio sangat wangi. Dari jarak jauh pun aku bisa tau dia mendekat. Dan sekarang dia adalah ibuku. Aku akan menemaninya kemanapun ia pergi.

Aku bertemu denganya aku menunggunya di halaman dia di kamarnya sedang berrias. Aku memandangi siluet tubuhnya sedang menusukkan konde. Aku alihkan pandanganku lagi.

Tak lama bau wangi sejuta melati menusuk hidungku suara lembut bak orkes seribu koto mengagetkanku.

"Eng ji" begitu katanya

"Tabik! Tio taitai"

"Mulai hari ini kamu akan selalu ikut denganku kemanapun aku pergi. Aku akan keluar dari kamar dan mulai mengurusi Sian Hok To Pay ini secara terbuka."

"Mengerti Tio taitai"

"Tunggu dulu, kenapa memanggilku Tio taitai aku dan suhumu sudah mengangkatmu sebagai anak. Panggil aku ibu angkat."

"Baik ibu angkat."

"Tidak perlu terlalu canggung begini Eng ji aku ini ibumu sendiri"

"Iya ibu angkat saya akan menyesuaikan"

"Mulai hari ini berarti kau melakukan semua yang aku perintahkan bukan?"

"Benar adanya ibu angkat."

Tak lama kereta kuda dan datang untuk mengantar kami pergi. Aku dan twanio duduk di dalam kereta dan kusir mulai menarik kuda. Kami berdua duduk bersebelahan karena jalan tidak selalu rata sesekali tubuhku bersentuhan dengannya. Darahku berdesir sendiri aku agaknya ketakutan. Ketakutanku ini sangatlah aneh. Aku ketakutan kepada perempuan cantik. Twanio biasa saja. Malah sesekali tersenyum melihatku. Barangkali tingkahku memang aneh. Aku jarang bergaul dengan perempuan dulu di panti asuhan semuanya lelaki kecuali adik angkatku Alin. Kemudian ibu panti asuhan Li Hulin, pembantu dan pengurus panti yang perempuan itu pun aku hanya bicara dengan mereka seadanya. Mungkin karena keadaan beginilah aku agak kesulitan berhubungan dengan perempuan. Tapi lepas dari apapun twanio memang spesial. Jika perempuan seperti sumoiku sudah dapat disebut cantik. Maka twanio mungkin bukan perempuan. Dia malaikat. Dan aku putranya.

"Kemana kita akan menuju Tio taitai? Maksudku ibu."

"Kita akan berkunjungke Jeng-Sia San"

"Hah? Jeng-Sia San bukankah kemarin......." aku baru saja membunuh suheng mereka. Malu aku kesana.

"Iya aku juga tau Jeng-Sia San mengirimkan surat permintaan maaf dan menawarkan undangan persaudaraan aku kesana untuk menanggapi surat itu"

"Tapi Tio Taitai ini bisa jadi jebakan."

"Ya itu aku juga sudah tau karena itu aku membutuhkanmu. Dan mulai sekarang aku akan ikut keluar dan mengatur aliansi dengan setiap perguruan silat. Karena itu aku dan ayahmu memutuskan untuk mengangkatmu sebagai putra. Lam ko (koko Tio San Liam) menyukaimu sementara kita juga tidak kunjung dianugerahi keturunan bisa jadi dia akan mewariskan semua ilmunya kepadamu kelak"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 14, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Rumah Harimau Emas 金虎門 (Kim Houw Bun)Where stories live. Discover now