EPISODE 1

17.3K 689 6
                                    

Aku dan sikecil Aleo

Namaku Elian Winola. Saat ini harusnya aku berada di semester 7 perkuliahan di jurusan Ekonomi dan Bisnis di Universitas Pembangunan Nasional veteran Jakarta selatan. Tapi untuk mengurus si kecil Aleo, aku mengajukan cuti akademik. Itupun maksimal 2 semester berturut-turut. Artinya aku hanya bisa full menjaga Aleo sampai dia berusia 1 tahun.

Tak apalah, tahun depan aku bisa melanjutkan kuliahku meskipun beberapa beasiswa sudah dicabut karna cuti akademikku. Aku hanya akan terlambat 1 tahun menyandang gelar Sarjana Ekonomi.

Sebulan yang lalu aku pindah dari kontrakanku yang lama untuk menutupi jejak kelahiran Aleo. Sedikit lebih jauh sih dari kampusku, tapi setidaknya di kontrakanku yang sekarang tidak akan ada yang tau kalau Aleo bukanlah anak kandungku.

Dengan begitu aku bisa menjaga lingkungan si kecil dari mulut2 mereka yang tidak bertanggung jawab. Aku tidak ingin masa kecil aleo jadi tidak bahagia jika dia mengetahui kalau aku bukanlah ibu yang melahirkanya.

Jika kebetulan ada yang bertanya dimana ayahnya Aleo, aku terpaksa harus menjawab kalau ayah Aleo sudah meninggal dalam kecelakaan beberapa hari setelah Aleo dilahirkan. Dengan begitu tak ada seorangpun yang akan menyudutkan Aleo dengan kata2 buruk seperti anak haram, atau anak yang lahir tanpa ayah. Aku tau aku salah, tapi demi masa depan Aleo, aku tak peduli walaupun aku harus berbohong.

Entahlah sampai kapan aku harus menyembunyikan Aleo dari ayahnya sendiri. Aku juga merasa heran mengapa kak Hilda tak ingin Aleo diserahkan saja pada keluarga ayahnya Aleo. Bukan karna aku keberatan menjaga Aleo, tapi lebih karna ayahnya lah yang berhak atas hak asuh Aleo.

Aku jadi terkesan seperti orang yang memisahkan anak dari ayahnya. Apa ayah Aleo tak mengharapkan adanya Aleo? Mengapa kak Hilda melarangku menghubunginya jika tak ada sesuatu yang benar2 mendesak? Terkadang ingin sekali kutelpon nomor itu, tapi aku yakin kak Hilda pasti punya alasan yang kuat mengapa menyerahkan Aleo padaku.

Aku juga terpaksa menguras semua tabunganku demi mencukupi kebutuhanku dan Aleo. Untuk sementara aku tidak bisa bekerja dan menitipkan Aleo pada jasa penitipan anak. Aleo masih terlalu kecil untuk ditinggal hanya demi alasan mencukupi kebutuhan. Memang sih kak Hilda meninggalkan cukup banyak uang ditabunganya, tapi uang itu hanya akan kugunakan jika Aleo memang benar2 membutuhkanya.

Menjaga Aleo memberi pengalaman baru dalam hidupku. Aku yang sebelumnya tidak pernah menyentuh bayi cukup kesulitan walau sekedar membuat susu atau mengganti popoknya yang basah. Beruntung Aleo bukanlah bayi yang rewel.

Entahlah bayi kecil itu mungkin mengerti dengan kesulitanku. Aleo Atha Alexandro, aku berjanji satu tahun ini akan menjadi hari2 yang paling menyenangkan untuk kita berdua.
***

Satu tahun kemudian
Aleo sudah bisa berjalan meskipun masih sering jatuh. Dia juga sudah bisa menyebutkan kata mama, walaupun masih sangat jarang. Aku sudah terbiasa menitipkan Aleo untuk beberapa jam dalam sehari karna aku sudah melanjutkan kuliahku seperti biasanya.

Saat tidak ada kuliah, aku juga mulai mengambil kerja sampingan direstaurant temanku. Beruntung keluarganya baik dan mengizinkanku mengambil kerja hanya saat aku tidak ada jam kuliah, dan terlebih lagi aku diizinkan untuk membawa Aleo saat aku bekerja.

Pekerjaanku hanya bersih2 area dapur dan mencuci piring, jadi Aleo tidak akan mengganggu rutinitasku. Apalagi aku juga membeli arena bermain anak persegi empat yang tidak memungkinkan Aleo keluar dari dalamnya.

Aleo juga bukan anak yang ingin selalu nempel padaku seperti anak2 pada umumnya, dia terbiasa bermain sendiri. Tapi dia jadi lebih senang saat aku ada waktu senggang dan menemaninya bermain. Anak ini sepertinya sangat pintar dan mengerti. Siapa yang mewariskan sikap tenang ini padanya? Pastilah kak Hilda, mana mungkin sikapnya yang begitu baik ini diwarisi dari ayahnya yang begitu jahat.

Stay With Me Please (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang