EPISODE 5

14.6K 638 9
                                    

Menikah Demi Aleo

Seperti tau isi kepalaku, jam 5 pagi Gustian menelpon untuk menanyakan keberadaan kami.
"Kau dimana?"
"Tentu saja dirumah"
"Entah mengapa aku punya pirasat kau akan membawa Aleo pergi"
"K ka kau gila"
"Kenapa? Apa tebakanku benar?"
Aku tergagap. Bagaimana mungkin laki-laki itu tau apa yang kupikirkan?

"Dengar Nola, jika kau membawa Aleo pergi maka jangan salahkan aku jika mommy mencari tau segalanya. Saat itu mungkin sudah terlambat bagimu untuk menyadari kebodohanmu. Berterima kasihlah pada hasil tes DNA yang menyatakan kalau aku ayahnya, karna dengan begitu fokus mereka teralihkan dan tidak mencari tau apa kau ibu kandung Aleo atau bukan. Jadi jangan bertindak bodoh"

Telpon diputus begitu saja. Aku langsung lemas dan terduduk dilantai dengan mata berkaca-kaca. Haruskah? Haruskah aku menikah dengan orang itu?

Gustian Alexandro, CEO sekaligus pemilik hotel ternama dijantung kota jakarta. Bukan hanya itu, dari penelusuran google yang sempat kulakukan beberapa hari yang lalu dia juga pemilik beberapa gedung apartemen dan pusat perbelanjaan di kota yang sama. Meskipun malas untuk mengakuinya, Gustian adalah pria tampan yang baru memasuki usia 30an. Dengan tubuh tinggi dan rupa yang memikat, aku yakin Gustian adalah idaman semua wanita. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan laki-laki seperti itu?
***

Hari belum terlalu siang saat orang itu, ibu Gustian, berdiri dengan angkuhnya didepan pintu apartemen kami. Kupersilahkan beliau masuk dengan sopan dan kuhidangkan beberapa cemilan dan buah untuk beliau. Dia mengabaikanku. Fokusnya hanya pada Aleo yang terus mengekor padaku karna takut pada neneknya sendiri.

Kuraih tangan Aleo yang sedari tadi berpegangan pada ujung kemejaku dan kuajak dia duduk sedikit jauh dari neneknya.
"Aku harus mengenalkan anda sebagai apa pada Aleo bu?"
Aku memulai pembicaraan meskipun sedikit canggung.
"Aleo ayo kemari"

Dia mengabaikanku. Terlihat jelas kalau dia sama sekali tidak menyukaiku. Sedangkan Aleo, dia semakin erat mengenggam tanganku karna ibunya Tian terus saja menatap penuh cinta padanya

"Tidak apa-apa sayang. Dia ibunya paman Tian jadi Aleo harus memanggil dia dengan sebutan nenek. Ayo cium tanganya dan ajak dia kenalan! Aleo mama kan anak pintar"

Aleo anak yang berani dan cepat bergaul. Hanya saja dia sedikit sensitif pada orang yang bermuka garang. Salah sendiri neneknya selalu menunjukan muka tak bersahabat padaku. Aleo jadi salah mengartikan bahwa neneknya itu orang galak dan menakutkan.

"Apa harus mama temani?"
Aleo menggeleng dan perlahan melepaskan genggaman tangannya padaku. Meskipun masih takut dan ragu-ragu Aleo mendekati neneknya yang sedari tadi mengulurkan tangan ingin memeluk Aleo.

"Cucunya nenek, Aleo sayang"
Kulihat beliau terus mencium pucuk kepala Aleo setelah Aleo berada dipelukanya. Wanita yang sedari tadi menunjukan raut wajah tak bersahabat itu kini terlihat begitu penyayang dan penuh kasih. Matanya berkaca-kaca. Akupun memalingkan muka guna menyembunyikan air mata yang perlahan jatuh di pipiku. Tuhan semua ini salahku, harusnya aku segera mempertemukan mereka beberapa tahun yang lalu.

"Bu aku akan memanaskan sayur kalau ibu tidak keberatan makan sianglah bersama kami."
Beliau hanya mengangguk, tak sedikitpun punya niat untuk membalas ucapanku. Kutatap Aleo yang masih berada dipelukan neneknya.

"Sayang mama mau masak dulu. Aleo temani nenek ya, main sama nenek dulu, mama janji tak akan lama"
"Iya ma"
Kutinggalkan mereka berdua untuk menghabiskan waktu bersama. Aleo yang sudah terbiasa ditinggal saat aku bekerja, perlahan-lahan menjadi sosok yang mudah bergaul dan tidak banyak menuntut. Entah itu sesuatu yang harus kusukuri atau malah menjadi bumerang untukku nantinya.

Ada ketakutan menyusup secara pasti kerelung hatiku yang paling dalam. Aku takut Aleo segera terbiasa berpisah denganku. Lalu aku sanggupkah aku terbiasa tanpa Aleo? Dan hatiku semakin sakit saat menyadari Aleo berhak berada disisih keluarga kandungnya bukan bersamaku yang tak memiliki aliran darah denganya.

Stay With Me Please (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang