PROLOG

26.4K 787 8
                                    

Ketika kehidupan menjadi begitu berarti...

Pagi itu, Seperti orang gila aku berlari secepat mungkin ke kamar ICU tempat kakakku dirawat. Seseorang dari rumah sakit mengabarkan padaku kalau kakakku baru saja melahirkan tapi tak ada seorangpun yang mendampinginya. Dia dalam keadaan kritis dan aku ditelpon atas persetujuan kakak untuk menjadi walinya.

Bagaimana mungkin ada orang yang akan mendampinginya disana sedangkan tak seorangpun tau kalau dia sedang hamil. Apa dia sudah gila? Sejak kapan dia hamil? Apa karna kehamilanya itu dia pindah dari kontrakan yang kami tempati bersama dan memilih hidup sendiri dikontrakanya dengan alasan dekat dengan tempat bekerja? Lalu anak siapa yang dia kandung? Kemana ayahnya?

Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk dalam kepalaku.Ingin sekali aku memarahi dan memukulnya yang dengan begitu bodoh hamil dari orang yang bahkan sama sekali tidak kuketahui. Dan sekarang kakak yang begitu ingin kumaki-maki itu menatapku dengan senyuman yang begitu lembut dan tatapan mata yang semakin sayu jadi bagaimana mungkin aku bisa marah padanya?

Dokter bilang kakak mungkin tak bisa diselamatkan. Terlalu banyak penyakit yang menyertai kehamilanya. Beruntung kakak masih bisa membawa bayi laki2 mungil itu kedunia ini dengan selamat tanpa cacat sedikitpun.

Jika sudah diketahui lebih awal, maka dokter pasti sudah menyarankan kakak untuk tidak hamil karna kehamilan kakak bisa memperparah penyakitnya. Tak kutanya lebih jauh penyakit apa yang diderita kakak karna aku terlalu syok melihat keadaan kakak yang sangat memprihatinkan.

Kenyataan itu membuatku gemetar dan kehilangan kata2. Kugenggam tangan kakak yang terasa lebih kurus dari beberapa bulan yang lalu. Melihat kondisinya yang sangat lemah, air mataku tak henti-hentinya mengalir. Kata makian dan segunung pertanyaan yang memusingkan kepalaku entah sudah pergi menguap kemana, yang ku rasa saat ini hanyalah perasaan iba.

"Nola Tolonglah tolong aku, tolong jagalah Aleo anakku, sayangi dia seperti anakmu sendiri"
Air mata kak Hilda sudah membasahi pipinya saat dia mengatakan permohonan itu padaku. Tak henti-hentinya aku menggeleng. Semakin kupererat genggaman tanganku pada tangan kak Hilda.

"Tidak kak, aku tidak mau. Kakak sendiri yang akan menjaganya sampai dia besar. Kakak sendiri yang harus menyaksikan pertumbuhanya. Untuk itu kakak harus kuat, kakak tidak boleh menyerah dan putus asa"
Aku terisak menyadari genggaman tangan kak Hilda yang semakin melemah.

"Dengarkan kakak baik2 Nola"
Kak Hilda mempererat genggamanya yang tadi sudah melemah saat mengatakan kata itu padaku.
"Carilah orang ini hanya disaat bayiku Aleo butuh pertolongan Nola. Jangan pernah hubungi dia jika tidak dalam keadaan terdesak. Kumohon padamu"

Kakak menyerahkan secarik kertas bertuliskan nomor ponsel seseorang padaku sebelum akhirnya terkulai lemas dan menutup matanya. Aku menangis sesunggukan sambil mencium tanganya.
"Kakak mengapa semua ini terjadi padamu? Mengapa begitu malang nasip yang menimpa kita?"

Aku terus menangis dan tak peduli pada apapun. Kesadaranku kembali saat perawat rumah sakit mulai melepas semua alat bantu yang melekat ditubuh kakak. Apa yang harus kulakukan kak?
***

Aku menelpon ibu panti asuhan tempat dulu kakak dibesarkan tepat setelah kakak sudah siap untuk dimakamkan. Aku sengaja, Aku tak ingin mereka tau yang sebenarnya tentang penyebab meninggalnya kakak. Biarlah mereka hanya tau kalau meninggalnya kakak karna dia sakit parah. Ibu panti sangat terkejut mendengar berita yang kusampaikan padanya.

Kudengar diseberang telpon sana beberapa orang menangis begitu ibu panti menjelaskan kalau kak hilda sudah meninggal. Kak Hilda pastilah orang yang begitu mereka kasihi. Karna hari sudah terlalu sore, mereka merelakan kak Hilda dikebumikan tanpa kehadiran mereka.

Stay With Me Please (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang