Chapter 4

205 47 16
                                    

.
.
.
.

Berjalan sambil tersungut sungut itulah yang sekarang Jongin lakukan. Ia begitu kesal ketika pria albino disebalahnya ini mengatakan hal yang membuat ia cukup sakit hati hingga rasanya ingin menangis.

"Kau pikir Luhan mau hidup berdampingan denganmu. Bahkan ketampanan mu jauh berada dibelakang mu kkamjong." kurang lebih seperti itulah kata-kata Sehun yang membuat hatinya tersayat-sayat.

Tapi, dengan tampang tanpa dosanya Sehun malah bersiul bahagia disamping nya. Memang seorang dongsaeng yang patut di contoh.

"Hei kkamjong apa rumah pujaan hatimu itu masih jauh?" tanya Sehun. Ia sudah cukup lelah berjalan menelusuri hutan, kakinya serasa ingin patah.

"Diamlah! Aku tidak ingin bicara dengan mu." sahut Jongin sinis. Rupanya ia masih marah akan perktaan Sehun tadi padanya.

Sedangkan Sehun hanya mendengus malas. "Tapi, baru saja kau berbicara padaku."

"Sialan kau!!" marah Jongin sambil menarik kerah pakaian kerajaan Sehun.

"Apa-apaan kau Jongin!" teriak Sehun. Hei ia tidak terima apa yang Jongin lakukan padanya saat ini.

"Kau yang apa-apaan, kau ingan ku pukul heh?!"-Jongin

"Pukul saja, kau pikir aku takut denganmu!"

"Sialan kau Sehun!"

Saat tangan terkepal erat milik Jongin hampir menyentuh rahang tegas Sehun. Tiba-tiba tangan lain menahan tangan Jongin dengan cekalan yang tak kalah erat.

"Berhenti bertingkah kekanakan." suara serak milik Chanyeol bersahut dengan muak. Ia cukup malas melihat pertengkaran ke dua pria didepannya ini. Dari tadi ia hanya diam menyaksikan denga sabar, namun saat ia melihat keduanya ingin adu jotos. Disitulah ia merasa harus bertindak.

"Tahan emosi mu Jongin, dia hanya bercanda jadi kau tidak perlu se emosi itu menanggapinya. Dan kau Sehun berhentilah melontarkan candaan yang membuat Jongin emosi."

Jongin dan Sehun yang mendengar kan ceramahan gratis dari Chanyeol hanya bisa membuang napas dengan kesal dan saling melepas cengkraman dari kerah masing-masing.

"Cepat tunjukkan jalan menuju rumah Luhan." sahut Chanyeol saat melihat Jongin kembali membuka mulut untuk berdebat lagi.

Saat mendengar nama sang pujaan hati di sebut, mata Jongin langsung berbinar senang. Ia sudah tidak sabar bertemu sang dewi hatinya dan melupakan pertengkaran nya dengan Sehun.

"Itu dia, itu rumah Luhan." pekik Jongin senang ketika melihat sebuah rumah sederhana beraksitektur Tinghoa yang tepat berada di pinggir hutan.

Sehun dan Chanyeol hanya menatap malas kelakuan Jongin yang kelewat senang itu. "Menjijikkan" gumam keduanya dalam hati.

"Kau yakin ini rumahnya?" ragu Sehun. Ia sedikit tidak yakin dengan Jongin. Mana ada rumah penduduk yang berada di pinggir hutan seperti ini dan juga rumah ini begitu jauh dari desa. Mungkin saja ini rumah penyihir jahat yang sedang bersembunyi atau pun rumah para bandit yang haus harta. Mungkin saja kan, siapa yang tau.

"Aku yakin. Aku tidak akan pernah melupakan secuil pun hal yang bersangkutan dengan calon permaisuriku." ucap Jongin menggebu-gebu.

Chanyeol yang saat itu sedang memandang rumah didepan nya langsung bersedih sinis saat mendengar perkataan Jongin yang menurutnya sangat memuakkan. Ia tidak sudi jika Jongin yang nantinya akan bersanding dengan Luhan. Baginya yang pantas bersanding dengan gadis tersebut adalah ia-park Chanyeol. Bahkan ia yakin para dewa dan dewi pun akan sangat setuju. Ya iya yakin.

The 3 Love KingdomsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang