Enjoy!
Kicauan merdu burung yang terbang kian kemari, beserta kokokan beberapa ayam jantan, membuat Sehun yang semula terlelap, membuka matanya setengah lebar.
Berbeda dengan burung dan ayam yang berusaha mencari perhatian pada lawan jenis mereka, Sehun masih bermalas-malasan di ranjangnya. Ia berpegang teguh pada keyakinan, bahwa 'takdir akan datang seiring semilir angin', atau 'jodoh ga akan kemana'.
Sebenarnya, Sehun sudah tersadar dari alam mimpinya. Hanya saja, gravitasi kasur membuatnya enggan beranjak. Ia menunggu takdir. Berupa 'pengasuh' setianya mengetuk pintu kamar, lalu masuk bersama nampan berisi susu cokelat hangat dengan roti keju manis.
Jika itu benar terjadi, ia berjanji akan segera beranjak, mandi, lalu beraktivitias. Namun jika itu hanya angan, Sehun sudah menekukkan bibirnya kebawah sambil menatap langit-langit kamarnya.
Seperti pagi ini. Sang pengasuh mengetuk pintu tiga kali, menunggu jawaban dari si empunya. Setelah mendengar deheman tuan mudanya yang seperti ditujukan oleh pengasuh itu, ia memutar gagang pintu dan membukanya.
Sehun masih berada di posisi semula. Dengan bibir ditekuk kecil ke bawah, memandang kecewa si pengasuh yang datang dengan tangan kosong. Tanpa nampan khayalannya, beserta isinya tentunya.
"MasyaAllah, ketinggalan den!" pekik si pengasuh sambil menepuk dahinya dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya masih memegang gagang pintu. "Sebentar den, maaf!" Si pengasuh keluar dan menutup kembali pintu kamar.
Sehun hanya mengangguk pasrah sambil memandangi perut kosongnya. Mulutnya terlihat ingin dimasuki suatu makanan. Ia memejamkan matanya dengan tujuan menghilangkan rasa lapar itu.
Klek
Pintu kamar terbuka. Menampilkan wajah wanita paruh baya yang menyembul dari balik pintu kayu. Ia tampak kewalahan dengan tangan yang membawa nampan. Wajahnya terlihat kecewa saat melihat tuan muda nya terlelap dengan tangan memegang perutnya.
Merasa tuan nya itu tertidur pulas, si pengasuh hanya meletakkan nampan berisi susu cokelat dan roti dengan nutella di suatu meja. Ia berjalan mundur lalu berbalik dan menutup pintu.
Sehun yang semula terpejam kini membuka mata, mencium bau sedap dari roti di meja samping nya. Ia mengambil makanan tersebut dan melahapnya dengan cepat. Persis seperti orang yang 1 minggu tidak makan. Rakus sekali aku, batinnya sambil tertawa.
*
Drrtt.. Drrtt..
Dering telponmu membuatku tersenyum di pagi hari~
Kau bercerita sem-Adeera menekan tombol berwarna hijau di handphone nya dengan malas. Seseorang telah menelponnya di jam yang menurut nya masih sangat pagi, dan mengganggu waktu surga nya.
"Halo, sapa ni?"
"Hai sayang. Ini aku, masak gakenal," suara berat lelaki di seberang sana membuat Adeera terbangun dengan mata melotot.
"Eh, kamu! Ngapain pagi-pagi gini nelpon?"
"Hehe, mau kasih surprise ni. Tapi nanti. Kamu pasti masih tidur ya. Bangun, udah jam 10!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Regret || Osh
Teen FictionDatanglah. Jangan sekedar singgah. Jika semua tak kunjung indah. Pergilah. Takdir telah menyanggah. I take care to you! Baekyut, April 25ᵀᴴ 2019