Kita pernah saling memperdulikan tapi tak pernah saling mengungkapkan____
🍒🍒
Saat engkau berhasil mengejar duniamu, bukan sisihkan waktu longgarmu untuk mengejar akhirat melainkan longgarkan waktumu untuk mengejar akhirat.
Minggu pagi ini, Hanif sengaja menggantikan tugas Ibnu untuk mengantarkan sang bunda ke majlis taklim ibu-ibu dan remaja putri. Bukan tanpa alasan, karena Hanif sendiri juga diundang di acara pengajian itu untuk mengisi bagian kesehatannya.
Pengecekan kesehatan gratis.
Siapa lagi pencentusnya kalau bukan Qiyya. Bukan hanya untuk ibu-ibu tetapi juga para suami yang mengantarkan istrinya ke majlis taklim.
Waktu Ibnu menanyakan alasannya kepada Qiyya dia hanya menjawab singkat. 'Tidak semua orang seperti mas Ibnu, mengantarkan istri tanpa harus diminta. Seringnya ibu-ibu yang curhat iri hati dengan Qiyya, apa salahnya Qiyya bisa membahagiakan mereka. Supaya diantar para suami mereka harus diberikan stimulus. Cek kesehatan gratis buat para suami.'
Ibnu hanya menggelengkan kepalanya, ada saja ide yang muncul di otak istrinya yang smart ini.
"Masmu ini juga dokter loh, dokter spesialis lagi. Mengapa harus Hanif yang masih dokter umum?" tanya Ibnu ketika itu.
"Mas Ibnu kaya nggak ngerti saja. Ini pengajian ibu-ibu dan remaja putri, Mas. Ya kan sekalian biar Hanif bisa memilih remaja putrinya, siapa tahu ada yang klik. Kalau mas Ibnu kan sudah stempel milik Qiyya," jawab Qiyya sambil tersenyum.
Lagi-lagi Ibnu hanya tersenyum mendengar penuturan istrinya. Kadang memang wanita memiliki jutaan cara untuk membuat cerita itu seolah-olah seperti tidak terskenario.
"Mas Hanif sudah siap?" tanya Qiyya yang kini duduk di samping Ibnu.
"Daddy, lengket banget si sama bunda sudah seperti kertas dan lem saja." Hanif yang justru tidak menjawab pertanyaan bundanya.
"Jangan iri. Makanya biar nggak terus jomlo mana itu calonnya. Daddy siap untuk mengkhitbahkan buat kamu," jawab Ibnu.
"Masih juga 23, Dad."
"Menikah itu bukan masalah usia, tapi kesiapan dan kemampuan. Jika dirasa sudah siap dan mampu mengapa nggak disegerakan, toh itu juga sunnah. Melengkapkan separoh agama, jika kini kamu beribadah hanya dapat 10 pahala dengan menikah bisa lengkap 20 pahala. Nggak ingin seperti itu?" jawab Qiyya.
"Ya pengenlah Bun, cuma calonnya belum ada. Lah bunda kan yang bilang mau cari besan. Hanif siap kok," jawab Hanif tiba-tiba.
Qiyya hanya senyum simpul kemudian memandang Ibnu. Berbicara melalui tatapan mata dan akhirnya Ibnu menganggukkan kepala.
"Ayo kita berangkat. Nanti penyaji nasihatnya keluaran Al Azhar loh, Mas. Meski buat ibu-ibu dan remaja putri, nggak ada salahnya kan mendengarkan. Siapa tahu nanti dibutuhkan untuk membimbing istri dan anak-anakmu kelak." Qiyya berkata sebelum mereka melangkahkan kaki menuju ke garasi mobil yang telah disiapkan oleh Ibnu.
Senyuman tipis tersungging di bibir Hanif mendengar perkataan bundanya.
Selama sepuluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di masjid tempat diadakannya majlis taklim. Qiyya langsung bergabung dengan ibu-ibu sementara Hanif menuju ke meja yang telah disediakan panitia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dokter Kulkas [Completed]
Storie d'amoredr. Hanif Maliki Asy Syafiq atau lebih famous dengan sebutan dr. Hanif Asy Syafiq. Seorang dokter muda besutan Harvard ini memang sedang menjadi tranding topic di antero perparamedisan. Ya, keputusannya untuk kembali ke Indonesia dan mendarmakan ilm...
![Dokter Kulkas [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/186282003-64-k681045.jpg)