Hidup ini kaya cuaca. Hari ini bisa hujan besok bisa cerah. Tapi, kamu gaakan punya hujan selamanya atau kemarau selamanya. Kita butuh pahit manis secara bersamaan, sebuah bentuk keseimbangan.
Hari ini hari sabtu. Dan hari libur buat anak sekolahan pastinya. Bersantai dirumah adalah sebuah ide yang bagus untuk mengisi waktu luangku. Tapi biasanya aku suka pergi bersama Afi. Entah untuk menonton bioskop atau hanya sekedar jalan-jalan. Melepas rindu dengan bertemu.
Jam menunjukkan pukul 7 malam. Tiba-tiba hp ku bergetar karna ada notif masuk dari Afi.
"Sayang kamu lagi apa?" Tanya Afi.
"Aku baru selesai makan dong." Balasku.
"Banyak ngga tadi makannya tuh?"
"Lumayan. Kamu lagi dimana nih?"
"Aku dirumah. Oiya aku ijin sama kamu ya."
"Ijin buat apa?"
"Mau nemenin bapak keluar. Terus kayanya aku ngga bawa hp deh. Hp nya aku tinggal dirumah." Jelasnya.
"Yaudah aku kan ngga bisa ngelarang kalo udah sangkut pautnya sama bapak kamu."
"Makasih buat pengertiannya ya sayangku."
"Hm. Tapi janji ya segera kabarin aku kalo udah pulang kerumah lagi."
"Siaap. Udah dulu ya❤"
Read
Siapa yang akan mengira kalau ternyata Afi sedang membohongiku. Aku pun selalu menaruh kepercayaan penuh padanya. Sampai pada akhirnya aku susah membedakan mana yang sedang dibohongi atau tidak. Dia mengabariku setelah dua jam aku menunggu kabarnya. Begitu apiknya dia menutupi kebohongannya. Namun bangkai yang dikubur pasti akan kecium juga baunya bukan?
Malam itu dia tega mengkhianati ku. Membuat kepercayaan ku dibuat runtuh olehnya. Dia berulah. Ternyata malam itu dia tidak pergi bersama bapaknya. Melainkan dengan perempuan lain. Yang ternyata kakak kelas ku juga disekolah. Hatiku patah. Terlebih aku tau ini dari orang lain.
Sebuah pesan masuk dari Acebook ku.
"Mia pacarnya Afi ya?"
"Iya tau dari mana?"
"Kenalin gue Shila. Kakak kelas lo di sekolah."
"Oh kakel. Ada apa ya kak?"
"Cuma mau ngasih tau aja, kemaren malem gue liat Afi jalan sama cewe lain. Dan cewenya itu dulunya sahabat gue. Kakel lo juga."
"Bentar deh kak. Kemaren malem minggu maksudnya?"
"Iya malem minggu."
"Gamungkin kak. Malem itu dia pergi sama bapaknya."
"Jelas-jelas gue liat mereka boncengan naik motor sambil pelukan gitu. Coba aja tanya langsung sama Afi nya. Gue kasih tau kaya gini karna kasian sama lo de. Afi itu gasebaik yang lo kira. Dia juga dulu udah kecewain gue."
"Kecewain gimana maksudnya?"
"Gue mantan nya Afi."
"Oh gitu. Yaudah ka thanks ya info nya."
Awalnya aku ngga percaya. Aku pikir Shila hanya termasuk dari orang yang tidak menyukai hubunganku dengan Afi. Namun aku salah. Kebohongan yang kali ini menang.
Besoknya aku mencoba menyelesaikan permasalahan ini dengan bertanya kepada Afi secara langsung. Aku meminta nya untuk sekedar jalan-jalan sehabis pulang dari sekolah. Seperti biasa, dia menunggu didepan kelas ku dengan senyum nya yang saat ini masih menjadi canduku.
Sesampai nya disebuah minimarket. Dia membelikanku sebotol air mineral dan cokelat. Dalam hati aku bertanya tanya, mengapa dia masih memperlakukan ku sebegitu istimewanya? Seakan-akan hanya aku satu-satunya dan tidak ada yg lain. Ku tarik nafasku dalam-dalam dan mulai bertanya.
"Kaakk?"
"Apa sayang?" Jawab kak Afi.
"Kemarin malem minggu kamu beneran pergi sama bapak?" Sambil melihat raut wajahnya yang sedikit terkejut dengan pertanyaan yang ku lontarkan padanya.
"Kok kamu tanya gitu sih? Kamu udah ngga percaya lagi sama aku?" Nadanya sedikit meninggi.
"Ya bukan gitu. Kamu juga kalo beneran jujur kenapa harus sewot gitu? Kenapa coba kenapa? Ya biasa aja kali." Memalingkan pandangan ku kearah lain.
"Kamu yang kenapa? Kamu kenapa jadi posesif begini?"
"Ya posesif lah. Dapet gosip pacar sendiri jalan sama cewe lain. Kenapa kamu boong? Kenapa kamu giniin aku?"
"Apa sih de itu semua ngga bener. Jangan dengerin kata orang ya." Sambil memegang tanganku.
"Aku lebih suka kamu jujur kak."
Hening untuk beberapa saat. Dengan posisi Afi yang menunduk sambil memainkan kunci motor di tangannya. Aku pun memandangi nya dengan tatapan sendu.
"Iya aku jalan sama dia." Jawabnya melihat kearahku. Kulihat ada perasaan bersalah dimata nya.
"Oh jadi bener. Ngga nyangka ya secepet ini kamu kecewain aku. Secepet ini kamu berpaling dari aku. Dan secepet ini kamu jatuhin kepercayaan aku." Mencoba untuk tidak menjatuhkan air mata. Karna bagaimanapun aku tidak boleh terlihat lemah didepannya.
"Maaf dee maaf. Aku ngga ada niat buat nyakitin kamu. Aku sayang kamu." Mata nya berkaca-kaca.
"Kenapa jadi kamu yang mau nangis gitu? Harusnya kan aku ya. Disini aku yang korbannya." Menjawab namun dengan pandangan kearah lain.
"Aku tau aku salah. Sekarang terserah kamu deh mau nya gimana. Aku ikut aja."
Sontak aku terkejut. Kenapa Afi jadi bersikap pasrah gitu? Kali ini aku benar-benar ingin menangis. Bukan jawaban ini yang aku harapkan. Ya tuhan secepat inikah kebahagiaan ku berakhir hanya karna adanya perempuan lain.
"Aku mau kamu pilih dia atau aku."
"Sulit banget pertanyaan nya." Memasang raut muka sedih.
"Kamu pikir ini juga ngga sulit buat aku?"
"Kayaknya aku udah ngga bisa sama kamu. Aku udah terlanjur kecewain kamu. Kamu ngga pantes buat aku yang jahat ini. Maaf de maaf."
"Makasih ya kak buat sebulan nya. Aku pikir kamu bakal terus perjuangin aku. Kayak dulu usaha kamu buat dapetin aku. Luluhin hati aku. Giliran udah dapet kamu semena-menain aku. Makasih pernah buat aku ngerasain jadi manusia paling bahagia didunia dan teristimewakan." Menatapnya dengan sendu.
Semuanya udah usai. Aku meminta Afi untuk pulang. Rasanya hati ini ngga bisa lama-lama menahan perih. Ingin segera ku luapkan lewat tangis. Sepanjang perjalanan pulang kami berdua tidak ada yang memulai percakapan. Sama-sama diam. Pikiran yang kacau hati yang berantakan menguasai keadaan saat ini.
Gimana gimanaaaaa? Yg ikut sedih kebawa suasana komen aja ya:( sooo jangan lupa tinggalin vote kalian gaiissss:* sarangheyooo
KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu canduku
Teen FictionTentang kamu yang telah menjadi canduku dan sebuah kisah yang tak pernah usai.
