-----------------------------------------
Mencintai seseorang bukanlah perkara mudah seperti apa yang selama ini aku bayangkan. Mendifinisikan dan melihat cinta hanya dari pandangan orang-orang yang memiliki persepsi berbeda akan makna dari cinta itu sendiri, bahkan terkadang aku merasa mulai ragu untuk menamakan apa terhadap perasaanku padamu saat ini. Salah seorang mengatakan jika cinta itu indah, salah seorang lagi mengatakan jika cinta itu membuatmu merasakan kebahagiaan yang membuncah, dan seorang yang lain mengatakan cinta itu buta. Entah persepsi mana yang harus kupercayai karena mungkin dari semua persepsi itu aku menyetujuinya. Bodoh.
Masih sama seperti beberapa tahun lalu, dan masih betah untuk tetap tinggal. Bukan maksud hati ingin berlama-lama untuk tetap tinggal, tapi apalah daya jika aku bahkan tak bisa berlari menjauh dan jika pun ingin aku menghilang dari sini, menghapus segala perasaan yang tumbuh dengan liar ini. masih sama seperti tahun-tahun yang telah berlalu, rasa yang aku miliki untukmu yang tidak pernah terbalaskan. Diam-diam mengagumi, diam-diam mencintai, diam-diam mendoakan, diam-diam merindu, hingga tanpa sadar diam-diam juga tersakiti. Menyayangi namun terasingkan, mencintai namun terlalu klise, merindukan namun terlalu lancang. Siapa dia? Dan siapa aku? Mencoba menjadi yang terbaik, berusaha untuk terlihat namun masih dengan alasan yang sama yaitu terabaikan. Menyedihkan.
Mencintaimu adalah pilihanku, mencintaimu adalah kebahagiaanku, tapi merindukanmu adalah kesakitanku. Sejak beberapa tahun lalu melihatmu bersama yang lain, aku mencoba untuk kuat, berpura-pura tersenyum seakan ikut merasakan euforia kebahagiaan yang kau rasakan, nyatanya hatiku berdarah-darah melawati kerikil tajam yang coba untuk aku berjalan di atasnya. Belajar ikhlas tapi sebenarnya tak ikhlas, belajar merelakan namun perasaan cinta itu bukan perlahan menghilang akan tetapi semakin tumbuh.
Perasaan ini memang membuatku bahagia tapi tidak aku pungkiri jika aku juga kerap kali meringis perih. Jika aku bisa memilih, aku tidak akan jatuh cinta padamu karena perbedaan kita sangat signifikan, hanya dengan senyumam yang selalu kau sunggingkan aku bahakan terhipnotis dengan itu sehingga secara tidak sadar aku pun melakukan hal yang sama. Hanya melihatmu melewatiku membuat jantungku bekerja lebih keras dari biasanya, hingga tidak jarang aku menganggapnya ini adalah suatu pesakitan yang harus aku periksakan pada ahlinya, nyatanya dokter terampuh itu adalah ketika aku tidak melihatmu. Namun sanggupkah aku tidak melihatmu, jika kau adalah nafasku, katakan aku harus bagaimana melepaskan atensiku padamu?. Sulit. Aku ingin mencintaimu dengan segala nilai-nilai plus yang aku terima. Berusaha menjadi yang terbaik dalam hal akademik maupun non akademik hanya untuk kau melihat ke arahku, berusaha menjadi yang terbaik agar aku tidak di pandang sebelah mata, sehingga aku pantas jika berjalan bersisian denganmu. Konyol. Tapi terima kasih telah menjadi objek motivasiku selama ini, karena secara tidak angsung kau membuatku berusaha untuk menjadi manusia yang lebih berguna.
Aku bahagia jika melihatmu bahagia, tapi aku tiba ikut bahagia jika kau membagi kebhagiaanmu dengan yang lain. Egois. Ya, aku hanya mahluk ciptaan Tuhan sama seperti manusia lainnya yang memiliki sifat masing-masing, aku ingin egois, tapi aku tahu aku tak bisa. Begitu besar pengorbanan seseorang yang mencintai dalam kebisuan. Diam-diam mencinta, diam-diam mengagumi, diam-diam mendoakan, diam-diam merindu dan diam-diam menahan sakit. Bolehkah jika suatu saat kau akan melihatku, menjemputku dalam kubangan lumpur yang kini mencekalku dan bahkan berusaha menenggelamkanku?
***
Aku melangkahkan kakiku menuju kelas, masih bisa aku rasakan tatapan tidak bersahabat dari mereka yang kini aku lewati di koridor. Entah apa yang membuat mereka begitu membenciku, tapi jika menelisik ulang tentang kejadian beberapa hari lalu yang membuatku harus menginap beberapa hari di rumah sakit, faktor utama mereka melemparkan tatapan mengintimidasi karena aku terlihat dekat dengan F4. Aku menghembuskan nafasku, mencoba untuk tidak perduli dengan sekitar. Aku berjalan sambil menunduk, ya bisa di bilang jika aku menghindari tatapan mereka. Aku melihat sepatu berwarna putih di depanku, aku mencoba bergesar ke arah kanan, dia mengikuti langkahku, aku bergeser ke arah kiri, ia pun melakukan hal yang sama, memangnya dia siapa sih?
KAMU SEDANG MEMBACA
Love IN Silence [Completed] √
FanfictionCerita ini adalah pemenang dari Vihaphupy Writting Competition. Penulis : DIAN NOVITA. Genre : Sad Romance.
![Love IN Silence [Completed] √](https://img.wattpad.com/cover/188253584-64-k334293.jpg)