.
.
.
.
.
"Aku akan ke kantor pukul sembilan nanti, kau awasi dia."
Tanpa melihat, Taehyung berujar disela kunyahannya pada omelet yang tadi dibuat Daeyeon. Satu-satunya perempuan disana mendengus.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu." Jungkook hanya diam mendengarkan keduanya yang mungkin sebentar lagi akan berdebat. Pemuda manis itu mencoba menyibukkan diri berkutat dengan salad buah yang dibuatkan gadis itu untuknya. Pikirannya masih melayang tidak bersama dirinya saat ini.
"Aku tidak mengkhawatirkannya, hanya saja kau pasti tahu maksudku. Ini rumahku, jika kau tak mau kuusir juga"
"Ya! Dasar kakak kurang ajar. Terserah kau, aku tidak peduli" Daeyeon bersidekap di depan dada dengan gigi yang tidak berhenti mengunyah.
"Lagipula, Jungkookie pasti aman bersamaku. Oh ya, uhn dia kan tinggal disini. Jadi,, " Daeyeon tersenyum manis dengan mata bulatnya menatap berbinar pada Taehyung yang malah mengernyitkan dahinya. Bahkan gadis Kim itu menggeser kursinya agar lebih merapat pada sang kakak.
'Apalagi ini? Pasti dia ada maunya' batin pemuda bersurai Kim menatapnya jengah.
"Jadi.. Hari ini kami akan berbelanja dan aku minta kartu kreditmu ya oppa, ya ya? Please.. Juseyo oppa" lihatlah mata berbinar menjijikkan itu. Ada maunya saja dia baru menghormatiku sebagai kakaknya. Benar-benar adik kurang ajar.
"Tidak. Punya mu kan ada"
"Oh ayolah Kim Taehyung-ssi! Ini untuk Jungkookie kau tahu. Kau ini kakakku bukan sih?! Pelit sekali." Daeyeon menatap tidak percaya pada Taehyung.
"Heh, bocah! Siapa yang kau bilang pelit. Jika bukan aku yang membelikan rongsokan di depan itu untukmu siapa lagi, huh?! Buyutmu?"
"Ah dasar, kau malah mengungkitnya. Yah, tapi ini kan untuknya. Aku sih tidak apa apa, tapi kau harus siap kalau pakaianmu berkurang. Jungkookie tidak mungkin memakai pakaianku. Tubuhku terlalu kecil untuknya." gadis itu menatap kukunya yang berkilau. Tidak melihat Taehyung yang merapatkan gerahamnya. Geram dengan tingkah adiknya. Astaga!
Membuat Taehyung mendengus kasar dan menatap tajam adiknya. Tatapan itu sama sekali tidak mempengaruhi gadis itu. Dia bebal sekali, bahkan dia ini hampir seperti preman pasar kalau Taehyung boleh jujur. Perempuan tapi sifat pemaksanya itu membuat sakit kepala.
Berakhir menghela napas karena Taehyung tahu. Daeyeon tidak akan berhenti sebelum keinginannya terpenuhi.
"Yasudah, ambil di dompetku"
"Benarkah?!" lihatlah mata berbinarnya itu, membuat Taehyung tiba-tiba merasa mual dan ingin memuntahkan sarapannya pagi ini.
"Asa! Kau benar-benar malaikat tanpa sayap Kim Taehyung-ssi!" gadis itu beranjak dan segera berlari ke atas, menuju kamar dan menghabiskan isi dompet Taehyung. Meninggalkan Taehyung bersama Jungkook yang masih berkutat dengan saladnya.
Taehyung tersenyum kecil melihat tingkah adiknya yang tidak pernah berubah itu dan ia bersyukur. Walaupun terkadang Daeyeon Sangat mengesalkan, tetapi Taehyung tahu dia tidak akan pernah sanggup membuat adiknya bersedih.
Daeyeon adalah satu-satunya harta berharga dari apapun dibanding dengan jabatan dan kekayaan yang ia miliki. Gadis itu adalah satu-satunya perempuan berharga yang ia miliki selain ibunya yang telah berada di sisi tuhan meninggalkan keduanya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini, selain sepupu hitam satunya.
Dan ia tidak mungkin mengusir adiknya begitu saja. Itu hanya gertakan dan sebuah candaan untuknya. Terdengar aneh, namun Taehyung menikmati hidupnya walau ada saja oknum yang berusaha menghancurkan kebahagiaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hybrid?! «[TaeKook]
Fanfiction"Manusia setengah hewan? Memangnya ada?" "CEO sepertinya memiliki makhluk seperti itu?!" "Lebih tepatnya, kedatangan tamu. Tidak begitu jelas, tapi aku mendengar mereka membicarakan hal itu kemarin" "Jadi, Kim Taehyung memiliki hybrid di rumahnya?" ...
![Hybrid?! «[TaeKook]](https://img.wattpad.com/cover/187643261-64-k922065.jpg)