Mari kita bahas sesuatu.
Pengorbanan Leo di akhir buku kelima membuatku sedih. Ini bukan keputusan yang dibuat sepersekian detik. Leo itu seorang overthinker. Dia pasti sudah berencana mengorbankan dirinya sendiri sejak dia pertama kali mendengar ramalan itu, bahkan sebelum dia tahu tentang obat dari tabib yang bisa membangkitkan seseorang dari kematian.
"Sumpah yang harus ditepati hingga tarikan nafas penghabisan."
Leo pasti terus-menerus memikirkan baris kalimat itu. Dia menyaksikan teman-temannya berpasangan-pasangan. Dia merasa menjadi roda ketujuh. Dia merasakan ketegangan antara dirinya dan yang lain. Dia menyaksikan mereka semua menjadi pemimpin dengan kekuatan yang hebat. Dan pada satu titik tertentu, dia berpikir: "Jika salah satu dari kita akan mati, bukankah orang itu yang paling tidak penting?" karena dia merasa begitu. Sejak dia masih kecil, berpindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan yang lain. Dia tidak pernah merasa dibutuhkan.
Dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan yang lain. Dia mengorbankan dirinya sendiri sehingga nanti tidak ada orang lain yang harus merasakan rasa sakit karena kehilangan orang yang mereka sayang. Dia membuat sebuah sumpah sehingga ramalan itu jatuh ke dirinya.
Dan di buku ToA, dia masih harus kehilangan sahabatnya.
YOU ARE READING
the DAM Percy Jackson things 2
FanfictionFictional boy with messy black hair and sassy personalities have literary destroy my life.
