↪enam

114 18 0
                                    

pagi ini, setelah masuk ke halaman sekolah, anindya langsung disambut dengan cerahnya senyuman adipati.

anindya bales dong.

rezeki gak boleh ditolak, kan? jadi, harus dimanfaatkan dan diterima dengan baik.

"selamat pagi, anin."

"selamat pagi juga, adi."

gemes banget sialan.

"mau langsung ke kelas, di?"

adipati menggeleng, "kantin dulu."

"oohh, gitu. hehe."

"ikut, yuk."

"t-tap—"

"bukan pertanyaan."

mereka jalan ke kantin sambil ngobrol kecil, sesekali ketawa. mata adipati sesekali natap mata anindya saat gadis itu mulai berbicara.

"mau mesen apa, nin?"

"gue minum aja deh."

"tadi udah sarapan?"

"eumm.. belum sih."

"soto aja, ya?" anindya ngangguk

adipati langsung jalan ke stand soto buat mesen makanan sekalian beli minum. anindya duduk, nungguin.

brak!

"KODOK BEKICOT!"

latahnya emang gak elit.

"pasti kamu menunggu pangeran kan?" ucap rajendra sambil naik-turunin alisnya

"pangeran? siapa?"

"gua lah! siapa lagi?"

inilah bunda pentingnya memberi asi, bukan air keran.

"nin, ini yang pake sa—"

"ngapain lo?!" tegas rajendra

"lah elo yang ngapain?!"

"gue nemenin anin." jawab rajenda sembari berdiri natap adipati

"gue nemenin dia duluan."

"gue temennya."

"gue bukan." jawab adipati

rajendra ngasih smirknya dengan alis yang sedikit naik, "nah, tuh sadar dir—"

"tapi calon pacarnya. udah sana."

sekarang, adipati yang ngasih smirknya ke rajendra dan ngedorong pundak lelaki itu.

"mainnya ngedorong nih?"

"EH UDAH ATUH IH!" teriak anindya. males banget kalo harus ngeliat keributan gini

"nin, ayo, balik aja ke kelas."

tangan adipati yang udah ngegenggam pergelangan tangan anindya, langsung dilepas paksa sama rajendra.

"gue gamau drama ya bangsat. jadi, selesaiin sekarang kalo lo punya masalah sama gue. jangan mainin anindya!"

adipati senyum miring, "santaaai. gue gak mungkin nyakitin calon cewek gue sendiri."

bugh!

"gak akan pernah ada istilah anindya sebagai cewek lo, bajingan!"

satu pukulan dan teriakan keras dari rajendra berhasil mengambil atensi seluruh siswa-siswi yang ada di kantin.

adipati gak mau kalah, dia bales pukulan rajendra dengan mendaratkan satu bogeman kuat di rahang lelaki itu.

"pukul lagi ndra, puk—"

bugh!

permintaan adipati benar-benar terkabuli.

"SANWARA! ADIPATI! UDAH!"

anindya berdiri di antara dua lelaki itu. menahan dada dari masing-masing mereka dengan tangannya.

"san, balik ke kelas."

"lo?"

"gak penting. sekarang—"

"lo penting buat gue, nin."

"sampis, san. balik ke kelas!"

sambil menyeka darah disudut bibirnya, rajendra menghela nafas dengan kasar lalu menatap adipati dengan tajam.

"urusan kita belum selesai, di."

"san, udah!" tegas anindya. mendorong dada rajendra agar cepat pergi dari lingkungan kantin yang dipadati oleh manusia-manusia penikmat keributan

kemudian, rajendra benar-benar pergi dari kantin sambil denger bisikan-bisikan manusia-manusia sekitar.

"lo balik ke kelas aja, nin." suruh adipati tiba-tiba

anindya menggelengkan kepala, "lo luka, di. gue gabisa."

"gabisa apa? gue gapapa."

"sebentar," anindya bangun dari duduknya

kembali dengan satu bungkus tisu dan dua lembar plester luka.

"gue obatin."

adipati menghadapkan wajahnya pada wajah anindya. menjelajahi wajah gadis itu dari jarak yang dekat dengan bebas.

"rambutnya angkat sedikit, di. tahan dulu, ya? agak perih."

apa itu perih? adipati gak pernah ngerasain sama sekali. karena kalau siap melukai seseorang, harus siap terluka juga, kan?

jadi, adipati siap dan selalu siap.

"kok gak meringis sih?"

"cantik."

"hah?!"

"e-eh, kenapa, nin?"

"udah nih, udah selesai. tinggal naro plester."

"udah gapapa, gue sendiri aja."

"gapapa, gue aja."

dan, iya. satu plester berwarna biru tertempel dengan sempurna di pelipis lekaki itu.

"makasih, nin."

"don't mind."

adipati tersenyum, merasakan degup yang baru kali ini ia rasakan hanya karena beradu tatap dengan seseorang yang pertama kali mengobati lukanya di usianya yang ke delapan belas.

dwiwarna | san ateezTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang