"Yongie oppa, Yongie oppa!"
Taeyong terbangun oleh gangguan berupa teriakan memekakkan. Dia membuka mata dan langsung disuguhi pemandangan Mina yang sedang melompat semangat di tempat tidur dengan sosok sang papa yang tampak malu di belakangnya.
"Selamat pagi juga untukmu, Mina," sapanya.
Taeyong mendengus ketika gadis itu menyerbu untuk memeluk perutnya.
"Mina, sayang, hati-hati," kata Jaehyun, mengulurkan tangan pada sang putri ketika gadis kecilnya itu tidak sengaja menekan lengan kanan Taeyong, membuat si penghuni kamar meringis kesakitan.
"Tidak apa-apa. Setidaknya aku bisa merasakan tangan kananku sekarang," gumam Taeyong.
Jaehyun menatapnya diam-diam. Dia tampak seperti ingin mengatakan sesuatu tapi diinterupsi oleh Mina sebelum bisa bicara.
"Dimana Swan, oppa?" Tanya Mina.
Taeyong menggeser tubuhnya hingga si boneka beruang kecil bisa terlihat di bawah selimut dan Mina langsung meraihnya.
"Swan telah bekerja keras membuat oppa merasa lebih baik dan menjaga oppa sepanjang malam, terima kasih," kata Taeyong tulus.
Jaehyun yang melihat hal itu dibuat terkejut.
"Mina, kau meninggalkan Swan di sini?"
"Iya, papa." Gadis kecil itu menatap papanya. "Yongie oppa selalu sedih tiap kali selesai bicara dengan dokter. Mina meminjamkan Swan agar Yongie oppa tidak sedih lagi."
Jaehyun mengangguk setelah memahami niat putrinya.
"Dia tidak pernah mau memberikan Swan kepada siapa pun sebelumnya," kata Jaehyun kepada Taeyong.
Taeyong hanya mengangkat bahu dan mengalihkan pandangan untuk melihat ke sekeliling.
"Baiklah, semuanya tolong keluar sebentar. Sudah waktunya mengganti perban pasien ini."
Seorang perawat wanita bertubuh sexy masuk, membuat gerakan mengusir pada semua orang.
"Ah, kenapa harus kau yang datang, suster?" Taeyong memutar matanya. Perawat itu menatapnya tajam dan mulai membuka perban. "Apa tidak ada yang la⚊Aduh!" Taeyong berteriak.
"Maaf, sakit ya? Mungkin seharusnya kau tidak menyayat tanganmu sendiri sejak awal," kata si suster sambil memutar matanya.
Taeyong memelototinya dan membiarkan si suster kejam temannya adu mulut itu melakukan pekerjaannya sementara Jaehyun dan Mina menunggu di luar. Mereka bahkan mendengar Taeyong berteriak beberapa kali. Dan ketika perawat akhirnya selesai, membuka pintu dan menyuruh mereka kembali masuk, teriakannya mereka masih bisa terdengar.
"Aku akan melaporkan si suster kejam itu! Dia hanya memperlambat kesembuhanku! Memang dia pikir dia mau membayar biaya operasi jika lukaku kembali memburuk?!" Taeyong berteriak semakin keras semakin dia bicara.
Jaehyun mengangkat alisnya pada pria yang sedang marah itu. Kemudian memilih duduk di kursi.
"Kau harus menjalani operasi?"
"Ya. Aku tidak akan sembuh seperti yang mereka harapkan jika terus diperlakukan kasar seperti ini. Terima kasih pada SESEORANG."
Dia memelototi perawat yang sedang sibuk membereskan peralatan yang dibawanya, dia bahkan tidak mendongak dan langsung pergi begitu saja tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Apa dia bahkan diizinkan berlaku seperti itu pada seorang pasien?!" Taeyong kembali berteriak tak terima.
Jaehyun menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
No Longer
FanficMungkin, Taeyong tak lagi tertarik bunuh diri setelah gagal di percobaan pertamanya. Apalagi setelah dia bertemu dengan Jung Jaehyun dan putrinya yang manis. Tapi, siapa yang tahu? 🕉 BXB 🕉 JaeYong 🕉 Trigger Warning; suicide and self-harm