Malam merangkak turun, hari sudah gelap penuh. Lampu-lampu jalanan terang berjejeran setiap lima meter di trotoar. Begitu dengan lampu-lampu toko. Gelap di langit, tapi tidak dengan sekitar. Orang-orang seperti tidak menyukai keremangan. Pun seakan mereka tidak menyukai kesunyian, hilir mudik orang-orang dengan kesibukan memenuhi jalanan. Pukul 7 malam, aku melirik jam tangan digital hitam di tangan kiri. Menghela nafas, aku malas untuk beres-beres. Kembali ke pemandangan semula, tidak berhenti mengikuti gerak langkah orang-orang di bawah sana. Di lantai 5 tempat aku bekerja, aku seharusnya sudah ada di bawah sana sejak dua jam lalu. Ikut larut dalam keramaian sebelum senja tadi, tapi dengan malas aku masih berdiam diri di depan meja kerja. Karyawan lain sudah pamit pulang, mengajakku untuk ikut yang aku balas dengan alasan kerjaan masih menumpuk.Satu ruangan seluas 150 meter persegi sepi, setengah lampu sudah dimatikan. Tidak ada lagi orang lain, hanya aku sendirian. Mungkin tinggal beberapa office boy dan satpam di lantai bawah. Mereka mulai terbiasa denganku yang dua minggu terakhir memilih pulang saat langit sudah gelap. Tidak ada alasan lain selain mengerjakan tugas yang harus diselesaikan. Padahal yang aku lakukan hanya berdiam diri di meja kerja, memandang kosong jendela kaca, atau sesekali berdiri di sana melihat jalanan yang ramai. Aku tidak menyelesaikan tugas yang belum selesai, karena memang tidak ada tugas tambahan yang aku terima. Tapi, memang akhir-akhir ini aku memilih berdiam di kantor ketimbang ikut dengan orang-orang bermacetan. Sumpek.
Sudah dua minggu setelah aku menerima kiriman paket dari luar kota. Paket itu berisi beberapa barang, buku catatan dan sebuah undangan yang masih belum siap aku liat untuk kedua kali. Paket itu berbentuk kartus karton seukuran nampan, dibungkus dengan kertas kado berwarna biru muda polos. Dikirim langsung ke kantor, dan diterima oleh salah satu rekan kerjaku. Aku membuka laci meja, meletakkan kotak paket itu ke atas meja. Membuka penutupnya, sebuah buku catatan kusam yang penuh tulisan tangan. Buku itu dulu menjadi sebuah bukti bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan sangat, seorang wanita yang mengirimkan paket ini dua minggu lalu. Buku itu berisi tulisan tanganku, dari ucapan ulang tahun, cerita sehari-hari, perayaan hari jadi yang pertama hingga yang kesekiankalinya. Aku membuka halaman pertama.
Untuk Kekasihku,
Selamat hari jadi yang pertama.Aku tidak mampu untuk meneruskan. Membaca kalimat-kalimat syukurku karena telah menemukan wanita itu. Kalimat-kalimat penuh kebahagiaan karena mampu melewati tahun pertama dengan suka cita. Kalimat-kalimat janji untuk tidak pernah mengingkari. Kalimat-kalimat yang selalu aku ulang setiap kali aku menulis untuk merayakan hari jadi.
Sebagai laki-laki, tidak pernah sekalipun aku pungkiri bahwa wanita itu berhasil membuatku berhenti mencari. Dengan sikap sederhana dan sifat halusnya. Dengan obrolan-obrolan ringan dan perdebatan sengit namun tidak berujung pertengkaran. Dengan sikap dewasa dan apa adanya. Semua yang aku harapkan dari seorang wanita ada padanya. Kita sama-sama mengenal saat berada di bangku kuliah, dengan awal pertemuan yang tidak sengaja di salah satu kelas umum dan diikuti hubungan pertemanan. Hingga pada suatu hari aku beranikan diri untuk mengutarakan bahwa dengannya aku mulai merasa nyaman. Begitu berjalan sampai kita berdua lulus dan memiliki pekerjaan masing-masing.
Aku membuka halaman berikutnya. Beberapa tulisan tentang kegiatan sehari-hari. Dari bangun tidur, berangkat kerja, sepulang kerja, hingga malam yang biasanya aku habiskan dengan rokok dan kopi di sofa ruang televisi. Begitu sampai halaman-halaman berikutnya. Hingga aku terhenti pada halaman entah ke berapa. Halaman dengan coretan ucapan ulang tahun. Doa-doa baik yang aku tuliskan. Begitu dengan tulisan "Amin" kecil yang wanita itu tuliskan di sekitar tulisanku. Aku tersenyum kecil, pahit sekali.
Aku meraih beberapa benda kecil dari dalam kotak. Gantungan kunci berbentuk gitar dari kayu bertuliskan "Bali", oleh-oleh kecil saat wanita itu liburan ke Pulau Dewata dengan teman-temannya. Bersamaan dengan kaos barong dan kain pantai yang aku simpan di lemari kamarku. Gelang-gelang dari kain kecil dan tali-tali, hadiah darinya saat pergi ke Yogyakarta bersama keluarganya. Begitu juga dengan tas kecil berwarna hitam dengan gambar delman di bagian tengah yang ia beli di pasar Malioboro. Barang-barang itu aku kembalikan sekitar satu tahun lalu saat kita berdua sudah bersepakat untuk menyelesaikan hubungan. Tidak, lebih tepatnya aku yang egois untuk memutuskan seorang diri. Dia hanya menerima keputusanku, dengan terpaksa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rumpang.
Short StoryKisah-kisah patah hati, yang aku tulis sendiri. Untuk seseorang, untuk sebuah kisah, atau sekadar untuk membunuh waktu.