Chapter 14

8.2K 1K 57
                                    

Pandangan Ibu dan anak itu sama sekali belum beralih dari pria itu. Tentu saja, bagaimana bisa mereka mengalihkan pandangan mereka pada pria itu ketika dia makan dengan begitu lahapnya dan seperti orang yang tak diberi makan selama berhari-hari?

"Hey, nak. Pelan-pelan saja makannya."

Taehyung hanya menyengir di sana, mengucapkan terima kasihnya ketika Ibu dari Jennie itu menyodorkannya segelas air.

"Eomeonim, ini benar-benar enak sekali. Sudah lama rasanya sejak terakhir kali aku memakan masakan rumah."

"Benarkah? Senang mendengarnya kalau begitu."

Sedangkan Taehyung melanjutkan makannya, Ny. Kim kini menyentuh lengan Jennie, sedikit membuat gadis itu terkejut karena sedari tadi pandangannya hanya menatap pada Taehyung di sana.

"Kekasihmu?"

Kedua mata yang dilengkapi dengan kacamata itu kini membulat, mendengar pertanyaan dari Ibunya yang terdengar konyol baginya.

"A-Apa maksud, eomma? Tentu saja tidak. Dia hanya kakak seniorku di kampus."

Senyuman itu tak bisa lepas dari sang Ibu, mencubit gemas pipi sang putri. "Kenapa kau harus marah? Kalau dia kekasihmu, memangnya mengapa? Eomma juga menyukainya, kok. Walaupun ini pertama kalinya bertemu dengannya."

"Eomma--"

"Benarkah? Eomeonim menyukaiku? Apa tidak apa jika aku berkencan dengan Jennie?"

Suara itu mengintrupsi keduanya, mendapati Taehyung di sana yang menatap Ny. Kim dengan pancaran berbinar. Sedangkan Jennie masih tak mempercayai apa yang ia dengar tadi. Apa pria itu secara tidak langsung meminta restu pada Ibunya untuk mengencaninya?

"Hmm. Tidak apa. Aku juga lelah karena selalu melihat Jennie di kamarnya dan tidak pernah mencoba keluar untuk berkencan bahkan bertemu dengan teman-temannya."

"Eomma, apa yang kau katakan?"

"Ck, memang benar, kan?"

Taehyung hanya tersenyum di sana, menatap pada pertengkaran kecil Ibu dan anak itu.

"Oh ya, menginap di sini saja semalam. Bagaimana?"

Jennie semakin dibuat terkejut dengan ucapan Ibunya. Dan belum selesai keterkejutannya, jawaban dari Taehyung semakin membuat gadis itu ingin membenturkan kepalanya pada meja makan sekarang juga.

"Kurasa, itu ide yang bagus. Aku juga bisa lebih dekat dengan Jennie dan mengenal dia lebih dalam."

"Baiklah." Lalu menatap pada Jennie setelahnya. "Eomma akan menyiapkan kamar bagi Taehyung lebih dulu." Dan berlalu begitu saja. Meninggalkan Taehyung di sana yang menatap pada Jennie, dimana gadis itu hanya menghela napas dan mengalihkan pandangannya.

"Habislah aku." Gumamnya.

.

.

Rose menghela napasnya, karena ketika dirinya sudah membuka lemari pendingin, hanya ada kaleng minuman cola dan soda serta bir saja yang memenuhi lemari pendingin itu. Tak satupun bahan makanan yang tersisa.

Gadis itu sedikit membanting pintu lemari pendingin itu, beralih pada rak dapur dan menemukan hal yang sama. Tak satupun bahan makanan, hanya beberapa bungkus ramen instan saja yang tersisa di sana.

"Ck, mereka tinggal bertiga, tapi tidak bisa mengurusi perut mereka sendiri."

Rose masih menggerutu, berjalan menuju ruang tengah dimana Jimin berada di sana, tengah terfokus dengan ponselnya dan menyamankan dirinya di sofa sana. Sudah pasti, pria itu tengah bermain melalui ponselnya, terdengar dari beberapa gerutuan dari bibir kekasihnya itu.

PerfectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang