Home

7.4K 321 23
                                    

Chanyeol berjalan dengan langkah tegap, menyusuri jalan ditemani dengan suara langkah kaki besarnya dan juga dengkuran halus yang kian terdengar di telinga. Beberapa kali mahluk kecil yang berada di gendongan belakangnya itu menjatuhkan kepalanya ke kanan dan kiri sembari terus meracau tidak jelas.

"Naneun.. Chanyeol chingu," Ucapnya lalu mengusak usakkan wajah ke punggung besar milik Chanyeol. Yang paling tinggi hanya diam. Menikmati semua racauan tidak jelas yang di susul oleh dengkuran halus kemudian.

Berkali kali Chanyeol menyuruh Baekhyun turun dari punggung nya dengan alasan jika ia keberatan membawa Baekhyun -Well, padahal tidak, namun ketika Baekhyun sudah turun, kaki mungilnya justru tak dapat menahan berat tubuhnya dan membuat pantat berisi itu berkali kali membentur aspal. Chanyeol hanya diam. Pribadi nya yang bengis kembali merasuki dirinya. Namun kemudian tentu saja ia kembali menggendong mahluk tak berdosa itu karena tidak tahan mendengar rengekannya dan tak mau orang orang keluar rumah malam malam begini untuk menuduhnya yang tidak tidak.

"Ck, merepotkan."

Chanyeol kembali menghentikan langkahnya saat merasakan kepala Baekhyun tidak menyender di punggung nya. Ia menolehkan kepalanya lalu melirik ke belakang. "Ada apa?" Ucapnya datar.

Baekhyun tersenyum menggemaskan, memandang ke arah Chanyeol dan kedai eskrim di dekat mereka. Kemudian menepuk pundak Chanyeol dua kali, menginstruksi agar diturunkan namun Chanyeol pura pura tidak mengerti dengan kode tersebut.

"Es krim." Ucapnya pelan, menatap sayu ke arah Chanyeol yang kembali menaikkan bokong Baekhyun agar tidak jatuh, lalu ia kembali berjalan.

Baekhyun mengerucutkan bibir nya lalu menggambar sebuah eskrim di atas punggung yang masih di lapisi seragam sekolah milik Chanyeol menggunakan telunjuknya.

Chanyeol bergeming. Merasa sedikit geli saat Baekhyun memutar jemari kecil nya di atas punggungnya.

"Setiap pulang sekolah, aku selalu melihat anak anak perempuan memakan es krim stroberry di kedai itu.. Aku ingin sekali mencobanya, tapi uang ku selalu tidak cukup," Ucapnya masih sambil memainkan jarinya di punggung Chanyeol.

Satu detik kemudian, ia merutuki dirinya sendiri karena sudah mengatakan yang tidak tidak seolah dirinya ingin dikasihani oleh Chanyeol. Tidak. Ini gila. Akal sehat Baekhyun dan bicaranya yang melantur semakin tidak wajar. Benar benar tak seimbang dan tak terkendali. Membuat denyutan di kepalanya semakin terasa sakit.

"Maaf Chanyeol, bu-bukan maksudku--"

"Kau masih mabuk. Lagi pula uangku sudah habis untuk menyewa kamar sialan yang berada di Bar tadi." Entah kenapa Chanyeol berusaha memberi penjelasan karena tak bisa membelikan es krim kepada yang lebih mungil saat ini juga.

Baekhyun tersenyum, mengangguk lalu kembali memeluk leher yang lebih tinggi. Menyenderkan kepalanya di punggung milik Chanyeol lalu memejamkan mata, menikmati hembusan angin malam yang menyentuh kulit susu miliknya.

"Ne, kapan kapan saja." Lirihnya.

Chanyeol terdiam.

"Nanti aku yang akan mentraktir Chanyeol, ne?" Ucap Baekhyun riang.

Chanyeol bersikeras memutar otaknya untuk memecah situasi yang tiba tiba membuat suasana hatinya merasa tidak nyaman seperti sekarang.

"Apa kau sudah sadar?" Ucap Chanyeol yang segera ia rutuki sendiri. Tentu saja Baekhyun yang mendengkur dan memberinya tatapan sayu itu masih mengalami mabuk yang berat. Terlebih lagi ini pengalaman pertama dari bocah itu.

Chanyeol menggaruk tengkuknya kemudian menghembuskan nafas kasar. Melangkahkan kakinya dengan cepat dan memutuskan dengan berat hati jika ia akan membawa si mungil Baekhyun ke apartemen miliknya.

The Reason (CHANBAEK 19+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang