Perkenalan 2

20 5 2
                                        

Sial. Gumam Risa setelah keluar dari ruang kepala sekolah. Sayup-sayup masih terdengar tawa pak Handoko yang menertawakan kebodohannya.

"Demi apapun, hari ini lengkap sudah kebahagian gue" dengusnya menggelengkan kepala mengingat satu persatu kejadian hari ini.

Jam dipergelangan Risa menunjukkan pukul 09.10 pagi.

"Bentar lagi mungkin istirahat. Huft, untung tadi gue nekat masuk. Kalo nggak, Gue bisa jadi kripik gara-gara nungguin pak satpam yg lelet itu." ucapnya perlahan sambil menaiki tangga.

Flashback on.
Pak Sarto membuka gerbang, menutupnya kembali lalu melangkahkan kakinya menuju ruang kepala sekolah. Dengan teganya meninggalkan Risa yang masih berdiri didepan gerbang saat cuaca panas padahal belum terlalu siang.

"Pak satpam tua. Jelek. Nggak punya rasa kasihan apa ngebiarin gue berdiri panas-panasan disini. Suruh duduk ngadem di pos kek, minum atau apalah. Jangankan itu semua, masuk kedalem aja gak boleh. Dasar pelit." cecar Risa. Matanya menatap lurus kedepan kearah lapangan dan tangannya memegangi gerbang sekolah erat.

Menempelkan kepalanya bersender di gerbang sambil memikirkan cara bagaimana ia bisa masuk.

10 menit berlalu, ia masih setia berdiri.

"Ish. Lama banget sih. Nanya doang juga lama, ck. Kalo gini caranya bisa garinng gue disini terus" sungut Risa jelas tak terima.

"Alah. Gue masuk aja ah. Siapa suruh lama.."
otak picik Risa mulai bekerja.

"Masuknya gimana ya? manjat? gue kan pake rok. Dobrak? ya kali gerbang besi gue dobrak."

"Duh gimana sih..gue dorong aja mungkin bisa. Dikunci nggak sih?". Ia bermonolog dengan dirinya sendiri seperti orang gila.

"Bruk.,kreeeekkk..." suara decitan gerbang terdengar.

"Lah...nggak dikunci ternyata. Sia-sia dong gue nunggu lama disini. Risa tolol lo. Bodoh. Bodoh." umpatnya pada diri sendiri.

Dengan santai ia membuka gerbang lebar- lebar, kembali keluar menaiki poky yang masih terstandard tak kemana-mana.

"Duh poki. Maaf ya.." ucapnya mengelus spedometer motornya.

"Ayo kita cari parkiran yg empuk, yang adem, biar lo bisa istirahat."

Klik._-suara kunci mode on

"Lets go.." gumam Risa semangat melewati gerbang dengan sengaja merendahkan tekanan pada gas motornya agar tidak berisik.

Ia berhenti ketika melihat satu tempat parkir tersisa. Memarkirkan motornya dengan hati-hati, mematikan mesinnya, mencabut kuncinya lalu pergi ke arah gerbang lagi. Loh?

"Untung baik. noh pak dah gue tutup lagi gerbangnya."

Setelah menutup pintu gerbang ia berbalik. Melangkahkan kakinya kembali. Sedikit melirik ke kanan, Kedepan lagi lalu menghentikan langkahnya. Memutar tubuhnya kekanan, kembali berjalan lurus.
Great!. ia menuju ke pos satpam yang  berada disebelah kanan tak jauh dari gerbang.

Senyum jahatnya muncul ketika ia melihat secangkir kopi lengkap dengan bahan pembuat kopi diatas meja kecil didalam pos.
Ia mulai membuka toples berisi bubuk kopi dan gula, mengambil sendok. Menyendokkan kedalam kantung kopi lalu memasukkan 3 sendok bubuk kopi kedalam secangkir kopi yang sepertinya baru dibuat, terlihat masih terdapat kepulan asap diatasnya.

"Biar nggak diabetes pak." pesannya seolah sedang berkata dengan pak satpam sambil mengaduk kopi pait racikannya.

-ting ting_terdengar dentingan sendok di cangkir.

RISATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang