Kami Kembali

610 88 1
                                        

Ketika aku sampai kedai kopi yang dijanjikan Jennie, aku langsung duduk di hadapannya. Dia sedang minum cold brew. Seleranya sama sepertiku. Menarik.

"Berapa nomor mu?", Jennie langsung bertanya.

"Aku?", Tanyaku seperti orang bingung.

"Iya, siapa lagi?", Jawab Jennie.

"+823210910", jawabku.

Dia langsung miscall ke nomorku.

"Mulai besok, setiap aku butuh kamu, kamu harus siap siaga. Jangan sesekali kamu hapus nomorku apalagi memblokirnya. Atau kamu siap-siap saja masuk penjara", kata Jennie sambil menatap ku tajam tanpa berkedip.

"Mmm, maaf Jennie. Kamu salah paham. Kejadian satu tahun lalu itu, aku hanya bermaksud mengantarkanmu pulang. Serius, tidak ada niat mencuri", jawabku.

"Aku tidak peduli. Banyak saksi di tempat", jelas Jennie.

"Astaga!", Umpatku dalam hati.

"Ya sudah. Aku ingin pulang. Ingat, jika nomorku meneleponmu, siap-siap saja",  peringat Jennie padaku.

Dia pergi begitu saja tanpa basa-basi sedikitpun. Nasibku sial sekali. Astaga.

Tak lama dia kembali lagi menghampiriku. Dan aku pikir dia sudah percaya sama ucapanku yang tadi. Ternyata...

"Sekalian bayarin cold brew ku, ya", ucap Jennie.

Mimpi apa aku semalam? Astaghfirullah, ughtea.


* * * * *

Kalau aku menceritakan penderitaanku setelah dia kembali muncul dihadapanku, pasti bisa panjang part ff ini. Setiap hari dia memintaku untuk mengantar--jemputnya. Jika berbelanja, aku yang mengangkat semua belanjaannya. Sumpah demi apapun, selama aku jalan dengannya, aku tidak pernah tahu dia yang sebenarnya. Semua masih samar-samar.

Perilaku mu ambigu,
Jiwa mu abu-abu,
Puan, aku rindu
Entah mengapa kamu membuatku candu

-L.M

Aku baru saja memposting tulisanku di halaman blog ku. Ha? Tunggu! Apa yang ku tulis barusan? Rindu? Pada Jennie? Tidak, tidak. Apa-apaan kau Lisa. Astaga.


* * * * *

Karena Jennie, aku harus merelakan waktu kerjaku sebagian. Ya, apalagi kalau bukan untuk menemaninya.

Suatu hari, dia memintaku untuk menemaninya ke sungai Han. Aku yang sedang asyik dengan menulis, mau tidak mau harus mengantarnya.

Aku diam di bangku tepi sungai Han. Sementara dia berdiri tepat di depanku. Berpegangan pada pagar pembatas sungai.

"Kamu cantik, Jen.", Gumamku dalam hati.

"Lisa. Sini!", Dia memanggilku.

"Kenapa lagi, Jen?", Jawabku lemas sambil menghampirinya.

"Kamu sudah punya pacar?", Tanya Jennie.

"Belum. Memangnya kenapa?", Jawabku jelas.

"Pantas saja kau punya banyak waktu untukku", lanjut Jennie sambil sedikit tersenyum.

Ingin rasanya aku menceburkan dirinya ke sungai Han ini waktu dia jawab seperti itu. Apa dia tidak sadar karena dia, aku jadi semakin sibuk?

"Kamu sendiri?", Tanyaku pada Jennie.

"Sejak kapan kamu punya hak bertanya ke aku? Bukannya sejak awal aku bilang, kamu tidak boleh bertanya padaku?", Jennie bertanya balik sambil menatapku lekat-lekat. Sungguh, aku tidak ingin mati karena dimakan monster ini di pinggir sungai Han. Tidak lucu. Sumpah.







Tbc.




Note: maaf untuk part pendeknya. :)

MY POEMS GIRLFRIENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang