Namanya Jennie. Wajahnya cantik. Kulitnya putih, matanya sedikit sipit tapi tajam seperti elang. Hal itu yang pertama aku lihat saat berada disebuah acara.
Waktu itu, aku sedang menghadiri seminar kepenulisan di salah satu toko buku. Kebetulan, aku adalah pembicaranya. Pada hari terakhir seminar kepenulisan, Jennie muncul. Aku berpapasan dengannya. Ah! Dia tersenyum.
Entah kenapa ketika aku melihat dia, aku langsung terpana. Dia menghampiriku. Senyumnya manis.
"Mmm, Lalisa Manoban?", Tanya Jennie.
"Ah iya. Panggil saja Lisa. Mmm.. maaf, kamu..?", Belum aku selesai bertanya Jennie menjawab.
"Jennie Kim. Panggil saja Jennie. Aku pengurus sponsor untuk seminar kepenulisan ini", jawab Jennie.
"Oh, senang berkenalan denganmu Jennie. Semoga kita berdua bisa sering bekerja sama seperti ini", jawabku.
"Senang berkenalan denganmu juga, Lisa. Iya aku harap seperti itu. Sangat menguntungkan bekerja sama dengan penulis hebat sepertimu, Lisa". Jelas Jennie.
"Haha. Tidak. Aku tidak hebat. Aku masih belajar menulis", jawabku malu-malu.
"Jangan merendah. Kamu hebat. Aku baca semua tulusanmu. Dan aku sangat suka itu. Oh iya Lisa, aku pamit kesana sebentar ya", kata Jennie.
"Hehe. Oh ya silahkan", balasku tersenyum.
"Gadis itu, cantik" , gumamku dalam hati.
* * * * *
Tiba diakhir acara, dan aku siap-siap untuk pulang ke rumah. Saat aku berjalan menuju pintu toko buku, aku melihat Jennie yang sedang mencari sesuatu yang hilang sepertinya. Aku menghampirinya.
"Jen? Sedang apa? Mencari sesuatu?", Tanyaku.
"Ah Lisa! Kau mengagetkanku saja. Pantas saja para penggemar tulisanmu menyebutmu dengan sebutan si penulis hantu. Kamu tiba-tiba ada, tiba-tiba hilang juga", kata Jennie sedikit kesal.
"Eh? Hehe. Maaf Jennie. Aku tidak bermaksud mengangetkanmu. Kamu mencari apa, sih?", Kataku.
"Ah ini, handphone ku tidak ada. Aku lupa menaruhnya sepertinya", jawab Jennie sambil mengobrak-abrik isi tasnya.
"Mmm, mau coba miscall? Supaya nanti terdengar nada deringnya dan kamu menemukannya", kataku menawarkan bantuan.
"Terimakasih Lisa. Aku senang kamu membantuku", jawab Jennie sambil memeluk lenganku.
"Tidak Lisa. Tidak. Jangan sekarang. Ingat, Jennie wanita baik-baik. Jangan kamu seret dia ke duniamu, jangan", pikirku dalam hati.
"Nomor kamu, Jen?", Aku menyerahkan handphone ku pada Jennie.
Beberapa detik kemudian terdengar dering telepon dari dalam saku celana seorang gadis cantik itu.
"Astaga! Ternyata di saku celanku sendiri. Kenapa aku begitu pelupa?", Ujar Jennie sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Lain kali, fokus ya. Jangan cuma memandangi ku dari jauh saja", kataku sambil mengambil kembali handphone ku lalu berjalan keluar untuk pulang.
"Hah? Apa katamu? Kamu terlalu percaya diri dasar penulis hantu!", Jawab Jennie sedikit berteriak karena jarakku sudah menjauh darinya.
"Sudahlah, jangan menyangkal. Aku melihatmu di bagian belakang kursi peserta seminarku. Kau menatapku tanpa mengalihkan perhatian sedikitpun dariku", aku tertawa puas.
"Yakk! Lisaaaa!", Teriak Jennie dengan pipi yang sudah berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY POEMS GIRLFRIEND
Fanfiction"... aku terlalu puitis untuk jatuh cinta. Tapi aku terlalu lelah untuk mencinta..."
