Setelah menyelesaikan pekerjannya, Yunho mengajak Jaejoong bersantai dan bercerita tentang Hyunseung. Tentu saja Jaejoong tidak menolaknya, dia sudah menunggu cerita tentang ayah yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Tapi Yunho mengenalnya, dan pria itulah satu-satunya penghubung dengan ayahnya.
"Hyunseung hyung sangat suka membaca dan kau memilih berada di perpustakaan waktu pertama kali kau datang ke rumah ini dibandingkan ikut berkeliling bersama ibumu, kau sangat mirip dengannya" ucap Yunho sambil menikmati kopi dan kue yang sudah disediakan di kebun belakang rumahnya bersama Jaejoong.
Yunho menunjukan album foto keluarganya pada Jaejoong dan di setiap foto Hyunseung, Yunho menjelaskan masing-masing kisahnya dengan sangat rinci.
"Ini foto ayahmu waktu wisuda" Yunho menunjukan jarinya pada foto laki-laki muda yang mengenakan toga, tampak begitu bahagia dan tersenyum lebar yang sangat mirip dengan Jaejoong.
"Dia sangat gugup saat itu, karena di hari yang sama dia diwawancara oleh perusahaan besar yang sudah mengincarnya sejak lama. Kau tahu, ayahmu adalah mahasiswa jenius, jadi banyak perusahaan yang mengejarnya ketika dia lulus. Dia sengaja memilih perusahaan yang mau menggajinya dengan sangat besar, meskipun dia harus bekerja keras. Dan lebih dari separuh gajinya dia kirimkan kepada kakek dan nenekmu, untuk membantu biaya perawatanmu"
Jaejoong membelakan matanya. "Ayahku melakukan itu?"
Yunho menganggukan kepalanya. "Keluarga angkatku tidaklah kaya dan ayah dari ayahmu, paman Wooyoung, aku biasa memanggilnya seperti itu. Dia sama sekali tidak tahu tentang dirimu, jadi ayahmu bekerja keras demi mengirimkan uang untuk dirimu. Ayahku dan paman Wooyoung merupakan sahabat dekat sejak mereka sekolah, dan ketika orangtuaku meninggal, paman Wooyoung ditunjuk sebagai waliku sampai aku berusia dua puluh satu tahun untuk bisa menerima warisan secara sah menurut hukum, mereka menyayangiku dan menganggapku seperti anak mereka sendiri"
"Tapi ketika usiaku dua puluh tahun, mereka semua meninggal dalam kecelakaan dan itu merupakan pukulan terbesar untukku. Karena masih kurang dari usia wajibku untuk menerima warisan, aku mengajukan gugatan ke pengadilan dan dikabulkan. Mereka akhirnya memberikan warisanku yang ternyata sangat besar, hingga akhirnya aku mengambil alih dan mengembangkan perusahaan keluargaku"
Yunho tersenyum menyesal. "Aku menyesal keluarga angkatku pergi begitu cepat dan aku belum membalas budi pada mereka, aku juga menyesal karena kau tidak sempat bertemu dengan ayahmu"
Jaejoong mendengarkan kisah Yunho dalam diam dan termenung, kisah Yunho sama dengannya. Mereka sama-sama kehilangan orang tua dan mendapatkan kasih sayang dari orang lain yang mencintai mereka.
"Kau tahu doa apa yang dia ucapkan ketika dia merayakan ulang tahunnya yang kedua puluh? Dia ingin waktu cepat berlalu dan kau segera berusia delapan belas tahun"
Yunho menyesap kopinya lalu menatap Jaejoong. "Kudengar dari Hyuna, kau bekerja di sebuah cafe. Apakah tidak menjadi masalah jika kau tidak masuk kerja beberapa hari ini?"
"Aku sudah meminta ijin dan mengambil cuti tahunanku yang selama ini tidak pernah kugunakan, mereka mengijinkannya dan memberiku dua belas hari cuti, jadi dalam beberapa hari lagi aku harus segera kembali bekerja"
Mata Yunho berkilat mendengar ucapan Jaejoong, tapi Jaejoong tidak melihatnya, dia tampak sibuk dengan album foto yang sedang dipegangnya.
***
Jaejoong membawa album foto yang sebelum dia lihat bersama Yunho ke kamarnya.
"Appa... Seandainya kita bisa bertemu lebih cepat" ucap Jaejoong pelan, namun terdengar kesedihan di dalamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Darkest Side
FanfictionRe-make FF ini hanya re-make dari sebuah karya yang cukup terkenal Hanya re-post dari FF sebelumnya yang pernah diposting di Fanfiction(.)net Mungkin akan ada sedikit perbedaan dari novel aslinya WARNING: √ BOYSLOVE CONTENT √ R18+ √ NOT SAFE FOR EVE...
