Suami Idaman?

14.9K 796 23
                                        

"Zeaaa!"

Ecca melupakan satu hal. Di dapur tidak boleh ada keributan, jadi suara cemprengnya membuat gadis yang dipanggil terlonjak, merusak satu kue jahenya.

"Zea!" ucap Ecca girang, gadis seumuran itu memeluk sahabatnya penuh suka cita. Tidak mau melepas padahal Zea meronta.

"Zea, kamu tau nggak, aku beneran nggak sabar pengen cepet-cepet pulang buat nemuin kamu. Pas denger kabar itu aku nggak percaya, tapi kamu tau kan aku ini pengagum Nyonya Atmajaya jadi aku percaya setelah lihat postingan Beliau. Kamu cantik banget!"

Serius? Dari sepanjang kalimat tadi yang boros kata 'aku, kamu, nggak' intinya cuma pujian cantik untuk dirinya? Zea mendengkus sebal.

Tanya kabar, bukankah itu lebih manis?

Zea melepaskan diri dari kunkungan Ecca  kemudian kembali meneruskan kue jahe yang belum selesai. Mengacuhkan sahabat terdekatnya, Ecca. Sampai gadis itu mencebik kesal dan bersedakap.

"O, jadi gini sikapmu setelah jadi bagian Atmajaya? Cih, dasar kacang lupa kulit."

Mendengar perumpaan tersebut Zea tak bisa menahan tawa, dia lantas mendekati Ecca.

"Uluh-uluh, aku tidak akan melupakanmu. Cintaku, sayangku, belahan jiwaku." ucapnya sembari mentowel pipi Ecca yang menggelembung seperti bakpao.

Ecca masih memasang muka cemberut. Namun dasar dari mukanya yang lucu, ekspresi marah justru terlihat menggemaskan.

"Aku benci kamu."

"Ya ampun, gitu ja ngambek?" Zea beralih dengan pelukan, sama siapa lagi dia akan curhat tentang permasalahan? Ecca sudah seperti tempat pembuangan. Segala cerita mengalir padanya.

"Kamu nyuekin aku!" dengkus Ecca.

"Kamu nggak lihat aku sedang menghias kue?" Zea menunjuk pekerjaannya di meja, Ecca melongok sebentar kemudian tersenyum malu.

"Pesanan siapa lagi? Aku perhatiin kamu buat kue jahe hampir tiap bulan?"

"Nggak tau, kata Mama sih orang spesial. Dia suka banget sama kue itu."

"Cieee, yang sekarang manggil bos dengan Mama."

Pipi Zea terasa hangat mendengar celetukan tersebut. Dia juga awalnya canggung, tapi setelah dipaksa dan setiap hari memanggil seperti itu jadi sebuah kebiasaan. Apalagi Wina akan mendelik kalau tidak dituruti.

"Cieee, salting niye?"

"Udah ah. Ayo balik kerja."

"Cieeee...," goda Ecca.

"Balik kerja, nggak!"

"Cieee, sok bossy."

"Ecca?"

"Zea?"

"Ca."

"Ea."

Keduanya tertawa. Tidak akan selesai jika sudah seperti ini.

"Ayolah, Ca."

"Iya-iya, MyBoss!" goda Ecca lagi.

"Ca!"

Ecca terkikik geli. Senang bisa menggoda temannya pagi ini. Dia merasa ada aura kebahagiaan dari muka Zea dan sepertinya bertanda baik.

"By the way, aku kira kamu nikahnya sama Cakra loh. Soalnya Boss kita-yang sekarang jadi Mami mertuamu itu, getol banget jodohin sama tu anak. Nggak nyangka malah dapat anak tertua."

Zea menghentikan kegiatannya melukis kue jahe, Wina kemarin juga mengatakan hal itu. Dan selama tinggal di keluarga Atmajaya, dia jarang berinteraksi dengan Cakra. Hanya beberapa kali berpapasan, itu pun cuma dibalas anggukan.

Pengantin   PenggantiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang