PERPISAHAN

36 4 4
                                    

Waktu muwadda'ah pesantren atau lebih tepatnya dikatakan waktu kelulusan adalah hal yang selalu di tunggu oleh para santri, mereka terburu ingin bebas bergerak, membebaskan diri sebebasnya setelah kehidupan di pesantren yang begitu menyiksa. Satu bulan sebelum diadakan muwaddah ada program beasiswa yang di khususkan untuk santri berprestasi ke beberapa universitas ternama di Timur Tengah. Para santri berbondong-bondo hendak mencari keberuntungan, beberapa diantara mereka hanya modal mujahadah dan doa, beberapa yang lain memang bermodal kecerdasan dan tahfidul qur'an. Acara peluang beasiswa ini mungkin pertama dan terakhir kalinya karna untuk tahun besuk Kemenag telah mencabut surat lobi universitas Timur Tengah di Indonesia, dikarenakan krisis politik yang melanda daerah Timur Tengah. Padahal Timur Tengah sendiri merupakan pusat peradaban keilmuan Islam. Sayyid Qordhawi salah satu mualim dari Universitas Al Azhar, sangat menyayangkan hal ini, karna beliau tau persis mahasiswa-mahasiwa Indonesia yang memang berkredibel dalam perihal lughah, mereka mengerti dan memahami uslub lughah arab mulai dasar hingga balaghoh bahkan qoidah-qoidah yang digunakan pun sudah mereka hafal di luar kepalah.
Tidak ketinggalan Jauhar adalah salah satu santri yang mengikuti seleksi ini, ia sudah hafal 5 juz al quran dan berbagai nadzom seperti Alfiyah Ibnu Malik, al Umriti, jauharul maknun, Uqudul Juman dll. Ia ingin membuktikan bahwa ia memang benar-benar bisa mewujudkan cita-cita kedua orang tuanya agar anaknya bisa bersekolah di luar negeri.
Beberapa tes ia lakukan mulai tes tertulis, wawancara, hingga tes fisik..
Setidaknya cita-cita Jauhar untuk bersekolah di luar negeri hanya untuk memberikan image dari keluarganya, yang notaben nya adalah mutakhorij Al Ahqaf Universite, sedang ibunya adalah lulusan Hidayatul Mubtadiat Lirboyo Jawa Timur..
Jauhar hanya ingin mengangkat martabat keluarganya, dia memang bukan bukan putra kyai namun trah darah biru dari keturunan para ulama' masih mengalir begitu kental pada dirinya, kendati pendahulu Jauhar tidak memiliki pesantren namun santri-santrinya tersebar ke seluruh pelosok Nusantara, bika dikatakan pendahulu Jauhar adalah Kyai tanpa pesantren, sabar dan waro' adalah sifat yang selalu ditanamkan kedua orangtua Jauhar sejak kecil sehingga menjadi bekal hidup Jauhar dimasa yang akan datang, tak ayal kehidupan nya dipesantren sangat terstruktur dan rapi, dia sudah terbiasa hidup apa adanya, berpuasa dan riyadhoh di malam hari atau menurut ulama dahulu "mangan longan turu longan" yang berarti sedikit makan dan tidur. Sebagai mutakhorij terbaik jauhar tidak pernah memiliki sifat sombong sedetikpun, justru ia malu dan takut tidak mampu menjadi apa yang orang lain harapkan untuknya, ia selalu berdoa agar Allah senantiasa melindunginya dari sifat ujub, sumah, riya dan hasud.
2 minggu lebih tes seleksi dilaksanakan. Sembari menunggu panggilan didepan kantor Pesantren dengan khusyu' Jauhar larut dalam bacaan dalailul khoirot, memanjatkan sholawat sembari berharap yang terbaik. Selang beberapa menit kemudian terdengan panggilan namanya untuk memgambil hasil tes..
"MUHAMMAD JAUHARUL MAKNUN"
dengan agak tergesa jauhar masuk ke ruangan pusat kemudian ia disodori sebuah amplop dengan bertuliskan "mumtaz" ... hamdallah berulangkali ia panjatkan akhirnya ia bisa menapaki negeri Nabi Sulaiman yang menjadi saksi bisu cintanya dengan Ratu Bilqis putri mahkota ratu Jin. Selain itu di mesir merupakan pusat peradaban pendidikan Islam dengan universitas Islam tertua di dunia Al Azhar dengan keanekaragaman ilmu yang dan ribuan masyayikh yang sanad keilmuanya tidak diragukan lagi.
Dengan langkah tegap dan degup jatung yang tak beraturan ia gayunkan kaki menuju Ndalem, ia menyengaja untuk langsung sowan  ke Kyainya sebagai wujud terimakasih yang tak pernah bisa terbalas oleh apapun. Dengan senyum sumringah banyak santri yang berusaha memeluk dan mengucapkan selamat padanya hingga terdengar suara yang tak asing di telinganya
"Nang sampeyan lolos ta?" Itu adalah suara Abah Yai yang selalu terkenang di telinganya
"Alhamdulillah njih bah, matursuwun sanget bimbingan soho doa abah ingkang tanpo umpami" takdzim ku
"Lha berangkat mu kapan ke mesir ?"
"Nuwun sewu bah, insyaallah besuk siang, dalem memutuskan sakmeniko bade sowan abah kalian ibu, nyuwun restu soho pangestu" pintaku
"Yo wes yo mlebu omah sek"
Abah merangkulku membawaku menuju ruang tamu ndalem yang cukup luas, dan Ibu nyai menyambutku haru dengan mata sembab. Bu Nyai menyuruhku duduk berhadapan dengan beliau dan Abah Yai.
"Nang, (sebutan nak dalam bahasa Jawa) besuk sampean diluar negeri jangan sekali-kali meninggalkan wadzifah wirid selama dipesantren, Abah bangga sampean bisa lolos seleksi, Abah sudah anggap kamu anak Abah sediri" kata abah dengan bahasa bijaknya
"Umi juga pesen sama kamu, besuk kalo kamu jatuh cinta mending sama orang Indonesia saja, mergo orang Luar Negeri itu budaya nya sulit disatukan dengan budaya kita" pesan Bu Nyai padaku
"Hus.. Umi itu bilang apa, kalo jodohnya Jauhar emang orang luar namanya umi ndisiki kerso (mendahului kuasa Allah)" tukas Abah Yai
"Bukan begitu bah, Umi cuman berdoa semoga ya kaya yang Umi tadi bilang, seneng banget nang Jauhar kalo Umi punya mantu kaya kamu, wes sregep, sholih, alim, siji maneh suaramu iku lho marai lilin ajur, uapike bah bah, mboten kados abah, andai ya bah, abah tidak terikat perjanjian sama Yai Humam, pasti umi sudah jodohin Hilya sama si Jauhar " goda Bu Nyai kepada Abah,
Mendengar kata-kata itu aku lemas, hatiku luluh, tapi aku sadar siapalah aku, aku hanyalah seorang santri biasa haram bagiku mencintai putri kyaiku apalagi sampai berharap untuk menjadi bagian anggota keluarganya.
"Sudahlah mi' Jauhar kesini bukan untuk mendengar sambatan Umi lagian masalah perjanjian itu abah sama Yai Humam sudah mengagendakan pernikahan Hilya sama Gus Faruq 3bulan lagi, kira-kira Jauhar bisa ikut rewang-rewang enggak ?" jawab abah dengan nada bijak
Dan lagi hatiku kaku, lidah ku kelu, mataku lesu, namun dengan ketegaran ku aku menjawab dengan sedikit terbata
"Nuwun sewu abah dalem besuk Ahad sudah harus berangkat, karna memang ada sekolah persiapan 2bulan di sana, dalem nderek berdoa semoga Ning Hilya dan Gus Faruq menjadi keluarga sakinah, mawadah, rohmah, wal barokah, mohon maaf yang sebesar-besarnya bah mi' dan mohon tambah restu dan doanya untuk saya" pintaku kepada Abah Yai dan Bu Nyai.
"Baiklah nggak papa Abah doain semoga lancar sekolahmu hasil maqsud ya nang, ini abah ada titipan dari Kyai Abah dulu Syekh Masduqi untuk memberikan sorban ini kepada santri terbaikmu, pakailah nang semoga bermanfaat dan barokah, diniati ngalap barokah Syekh Masduqi biar kamu ketularan alim dan sholihnya" jawab abah
"Matursuwun sanget abah" jawabku dengan air mata yang mulai menganak menyungai aku tidak bisa melanjutkan kata-kata ku lagi dan akupun ijin undur diri sambil mencium tangan Abah serta mohon ijin kepada Bu Nyai untuk pamit. Aku keluar ndalem dengan beribu rasa haru, bangga, sedih dan beragam. Aku lemas mendengar rencana pernikahan Ning Hilya dan Gus Faruq, tapi aku sadar siapa aku, kini saatnya aku menata lembaran baru membuka buku baru, menata kehidupanku yang lebih baik, dan aku percaya Allah akan memberikan yang terbaik untukku kelak.. percayalah..

HilyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang