Chapter 3

22 11 0
                                    

"Nah itu sebabnya kenapa kucing bisa melahirkan." Jelas Pak Satrio. Guru mata pelajaran IPA di sekolah gue.

"Ada pertanyaan anak-anak? Kalo nggak ada, buka buku paket halaman 247, kerjakan soalnya yang A dan C saja." Suruh Pak Satrio kemudian duduk dan membuka hp nya. Sekilas gue denger tumpah-tumpah gitu di hp nya Pak Satrio. Habis itu kedengeran lagu yang nggak asing lagi ditelinga gue. Yaitu lagunya Red Velvet - Umpah Umpah. Pantesan. Hidden fanboy nih Pak Satrio pasti.

"Eh Rahma!" Kata Elsa, sambil tangannya nepuk bahu gue pelan. Kebetulan kita emang sebangku. Biar per-ghibah-an kita tentang si perfect boy itu tetap berjalan lancar. Dasar aku!

"Lo tadi telat ya?" Tanya Elsa serius.

"Iya kenapa emangnya?"

"Hueningkai tadi juga telat juga tau, Arghhhh!!!" Elsa menggelepar lebay. Tangan, kaki, dan badannya yang tepos itu di gerakkan semua sehingga kayak lagi kesurupan.

"Hueningkai siapa?" Jawab gue bingung.

"Alba lahh siapa lagi?"

"Oh iya, dia emang tadi telat juga kok. Itu si Alif X IPS 2 juga telat."

Tokkk.. tok... tok...

"Masuk!" Teriak Pak Satrio.

Orang yang mengetuk pintu pun masuk. Lalu mulai membuka mulut.

"Maaf mengganggu, untuk Rahma Anastasya dipanggil Pak Pardi, disuruh ke ruang BK sekarang juga."

"Apa?! Gue? Kenapa?!!" Kata gue panik sekaligus kaget binti shock. Apaansih.

"Apa karena gue tadi nyuri bolpen nya Rafa kali ya? Atau karena gue tadi nge-gunting pembalut nya si Siti?" Gumam gue pelan.

Dengan pasrah nya gue bangun dari tempat gue duduk dan ngikutin tuh orang ke ruang BK.

My Perfect BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang