NENEK SIHIR

36 1 0
                                        

Alena masih berusaha menjaga agar dagunya tetap terangkat. Dia tak sudi menundukkan kepala di depan musuh bebuyutannya. Sementara si gadis dengan tas punggung warna merah marun juga melakukan hal yang sama. Tatapan tajamnya seolah ingin melahap bulat-bulat objek sasarannya.

Sampai akhirnya keduanya berpisah. Alena berjalan ke kelas terujung di lantai dasar, sementara si gadis berambut shaggy itu harus menaiki dua tangga untuk sampai di lantai tiga.

Alena mempercepat jalannya, sebelum memutuskan untuk setengah berlari saat dilihatnya bapak ibu guru  keluar dari ruangannya menuju kelas yang akan diajar.

Alena masuk ke ruang kelas XI IPS 1, semua temannya tertunduk khusyu dalam do'a bersama yang dipimpin Fatur sang ketua kelas. Alena berjalan setengah berjinjit agar sepatunya tak menyuarakan gaduh sehingga menggangu konsentrasi teman-temannya.

Alena menghempaskan tubuh di kursi disambut lirikan Adel teman sebangkunya. Seharusnya dia segera menyesuaikan diri membaca do'a, tapi dia masih bergeming.

Usai berdo'a Adel memergoki Alena sedang melakukan ritual cooling down, nama yang Adel berikan secara asal. Terlihat Alena terpejam saat menarik nafas panjang hingga bahunya sedikit terangkat. Lalu ditahan nafasnya selama beberapa saat, kemudian dihembuskan melalui mulut yang sedikit terbuka. Adel tahu, jika Alena melakukan ritual seperti itu artinya emosi sahabatnya sedang memuncak.

"Kenapa?" tanya Adel memegang lengan Alena sehingga membuatnya membuka mata.

"Entahlah. Masih pagi tapi gue udah ngerasa capek," keluhnya.

"Memang habis ngapain aja?"

"Pagi ini rumah gue riuh. Aleea bangun pagi banget." Sekali lagi Alena menghembuskan nafasnya kuat-kuat. "Belum lagi ketemu si Nenek sihir di gerbang."

"Kasandra?"

Alena hanya mengangguk. Adel tak tahu pasti sejak kapan mereka bermusuhan. Tapi saat Adel bertanya sejak SD atau SMP kah? Alena menggeleng. Menurutnya dia baru mengenal Kasandra saat duduk di bangku SMA. Bahkan mereka sempat menduga Kasandra mantan Damar, kekasih Alena. Tapi setelah stalking semua akun medsosnya sama sekali tak menemukan momen kebersamaan keduanya.

Kasandra memang dikenal sedikit cerewet. Apalagi kalau tentang Pramuka. Dia juga baik ke semua orang, kecuali Alena. Bahkan Adel cukup dekat karena beberapa kali dipasangkan dalam satu kepanitiaan. Dan sikapnya biasa saja meski Adel satu bangku dengan Alena.

"Selamat pagi, Anak-anak," sapa Pak Ali; guru geografi SMADA.

Guru muda dengan tinggi seratus tujuh puluhan delapan itu disukai anak-anak. Cara menjelaskannya yang OK, apalagi kalau dalam satu materi dia sisipkan pengalamannya saat mendaki gunung atau menjadi volunteer, selalu ada sisipan pesan dan pelajaran hidup di dalamnya.

Pak Ali berkeliling mengecek kedisiplinan siswa mengerjakan PRnya. Peta konsep mitigasi bencana tetap Alena keluarkan meski berupa sambungan-sambungan kertas kumal yang sudah diremas Aleea. Pak Ali sempat geleng-geleng kepala saat mengeceknya. Beberapa siswa terpaksa menerima hukuman. Tapi ada sebagian yang memang sengaja agar bisa menampilkan bakat. Dan teman-teman pun menikmatinya sebagai hiburan.

Pembahasan mitigasi bencana berlangsung seru. Masing-masing mendapat kesempatan bersuara untuk memberi ide baru, menambahkan atau melengkapi pendapat teman. Ah, nyaman tidaknya sebuah kapal memang tergantung nahkoda dan seluruh penumpang. Seperti kelas pagi ini, nyaman karena Pak Ali open minded dan anak-anak pun berperan aktif tanpa ada rasa maupun upaya ingin menjatuhkan. Tiga jam terasa begitu cepat sampai akhirnya bel berupa instrumen lagu kebangsaan terdengar nyaring.

Di kelas XI IPA 3, Damar langsung menghadang Kasandra yang hendak ke kantin.

"Minggir!" usir Kasandra gusar.

"Enggak. Lu harus ikut gue ke XI IPS 1."

"Ngapain? Ketemu cewek lu? Ogah!"

"Eh, lu tuh ya, bikin onar tapi gak mau tanggung jawab!" Suara Damar semakin tinggi.

"Hei, itu masalah elu sama die. Gue nggak ada sangkut pautnya."

"Lu tuh biang keroknya!" Damar mengarahkan telunjuk tepat ke wajah Kasandra.

"Gue? Tentang pasang foto dan kasih caption di status WA gue? Ah, lembek amat sih cewek lu?"

Kasandra menabrak Damar dan pergi begitu saja. Damar langsung mengejar dan mencengkeram pergelangan tangan Kasandra.

"Lepas! Sakit tahu!" pekik Kasandra.

Damar tak memperdulikan protesnya. Dia malah menarik tangan Kasandra untuk mengikutinya. Dia pikir gadis berwajah oriental itu akan menurut begitu saja.

"Lepas. Apa-apaan sih

Semakin Kasandra memberontak ternyata Damar semakin kuat menariknya. Hampir semua mata memperhatikan mereka. Para Siswi berteriak-teriak panik.

"Sudah dong Damar," ucap satu suara.

"Eh, jangan gitu dong. Afghan banget sih."

"KDRT nih. Kena pasal nanti."

Damar sebetulnya malu melakukan ini. Dia memang sering menyaksikan kekerasan yang didapati ibunya. Tapi dalam lubuk hati terdalam dia tak ingin tumbuh seperti sosok sang ayah.

Damar berhenti di sebuah anak tangga.

"Aku enggak akan melakukan hal ini asal kamu mau kompromi. Toh permintaanku nggak muluk-muluk.

"Lu kira gue setuju? Gak!"

Damar semakin gusar. Akhirnya dia terpaksa menyeret lagi tangan Kasandra. Hingga tiba-tiba dari tangga arah bawah muncul dua orang menantang Damar.

"Hei, jangan beraninya sama perempuan!" kata salah satu dari dua orang itu sambil melayangkan bogem mentahnya ke wajah Damar.

Damar yang tidak siap mendapat serangan tak sempat menghindar hingga tulang pipinya terasa sakit.

"Lu nggak tahu permasalahannya, Bro!" jelas Damar.

"Apapun masalahnya lu bisa selesaikan baik-baik kan?"

"Gue udah coba."

"Ah, bacot lu!" Cowok satunya lagi justru gemas dan menyeruduk Damar hingga terpental.

Dua kali Damar mendapat serangan akhirnya dia menanggapi tantangan cowok-cowok itu.

"Ok, satu lawan satu kalau memang jantan!" tantang Damar.

Perkelahian mulai sengit. Apalagi beberapa siswa laki-laki justru mengompori hingga darah muda dan ego mereka terbakar. Sementara siswi perempuan berteriak-teriak histeris. Suasana makin gaduh.

Alena dan Adel berlari-lari mendengar kabar Damar berkelahi. Di halaman sekolah sudah banyak anak-anak berkumpul dan semua mendongak melihat ke lantai dua. Tempat perkelahian terjadi.

"Apa apa?" tanya Adel pada seseorang.

Namun tak ada yang memberi jawaban pasti.

Dan entah siapa yang memberitahukan pada Bapak Ibu guru. Saat perkelahian sudah mulai tidak seimbang, Damar babak belur dengan lebam hampir di seluruh wajah dan darah mengalir di sudut bibirnya, perkelahian itu terhenti karena Pak Endri dan Pak Ali menjewer telinga keduanya dan membawa mereka ke ruang BK.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 23, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

KUMAN (Kutukan Mantan)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang