Esta terkekeh tertahan ketika berhasil menekan tombol buy berulang kali. Tiga angka yang tertera di belakang kartu adalah angka keramat baginya.
Entan sudah berapa barang berhasil dipesan, sebelum sebuah peringatan muncul di atas layar.
Esta tak mengerti apa arti peringatan "Limit bulanan telah tercapai". Apakah kartu kredit punya batasan? Selama ini Esta berpikir bisa menggesek atau menggunakan kartu kredit kapan pun dan di mana pun seperti yang sering ia baca di Wattpad.
Gadis itu merutuki kartu ibunya yang kini sudah tidak berguna lagi. Padahal masih ada sekitar lima atau enam barang lagi yang dia idam-idamkan. Namun, Esta harus tenang. Yang paling penting, tagihan ke penerbit sudah dibayar lunas.
Senyum manis kini menghias wajah. Kedua tangan Esta diregangkan ke atas sembari menghirup udara dari pendingin ruangan yang segar. Ah, ternyata punya kartu kredit memang menyenangkan. Tidak perlu pusing menabung. Semua masalah selesai hanya dengan memasukkan sederet angka keramat.
Tinggal menunggu barang-barangnya sampai, maka semua akan menjadi lebih indah. Ah, Esta harus mengosongkan beberapa tempat demi masuknya BJD yang tentu ukurannya tidak kecil itu. Saat ini BJD-nya masih tersimpan rapi di kotaknya. Mungkin di lemari kaca tempatnya biasanya memasang CD dan merchandise Jungkook.
Namun sebelum itu, Esta harus mengembalikan kartu yang sempat dipinjamnya dari kamar Mama secepatnya. Dengan langkah mengendap, gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri memastikan Mama masih tidak ada di rumah.
Kamar Esta dan adiknya ada di lantai dua, sementara kamar orang tua mereka ada di lantai satu. Memang agak jauh, tapi selama tidak ada orang di rumah, harusnya semua akan baik-baik saja saat ia nanti akan mengembalikan kartu kredit itu ke tempatnya semula.
Esta beruntung, Mama adalah tipe orang tua yang tidak pernah mengunci pintu kamar dan lemarinya. Esta bisa bebas keluar masuk kamar Mama yang sering mengajaknya ngobrol kapan pun. Saat itulah Esta tahu di mana Mama menyimpan kartu kredit kedua yang jarang dibawa pergi itu. Mama menyimpannya di dalam lemari di laci kedua. Ah, menjadi anak kesayangan memang menyenangkan!
Dimasukkannya kartu itu ke saku celananya. Dengan sangat berhati-hati ia menuruni tangga dan tidak mau menimbulkan suara apa pun. Yak, tinggal sedikit lagi, maka semua rencana akan selesai.
Jantung Esta berdentam hebat ketika mendengar suara pintu depan terbuka. Dia langsung menegakkan tubuh dan berpura-pura berjalan kembali ke kamarnya.
"Darimana?" Suara menyebalkan itu terdengar.
"Er ... ngambil minum," jawab Esta sekenanya. Ia benci sekali Freddie yang selalu merong-rong ketenangannya itu.
Alis pemuda itu bertaut dalam. "Airnya mana?"
Esta menyadari tangannya tak membawa apa pun. "Aaah, berisik! Kamu bikin aku pusing!"
Suara decakan terdengar nyaring, "Ya ampun, kakakku memang sudah fix IQ-nya jadi jongkok plus pikun."
Tanpa sadar Esta mengayunkan tinjunya ke wajah adiknya kuat-kuat, tapi meleset. Suara tawa membahana mengiringi langkah adiknya naik ke atas dan menghilang di balik pintu kamarnya.
Esta mengusap wajahnya frustrasi. Adiknya benar-benar menyebalkan. Kenapa dia tidak ditakdirkan menjadi anak tunggal saja? Mungkin biaya sekolah dan makan adiknya bisa dialihkan untuk membeli merchandise BTS atau bahkan nonton konser mereka di Korea.
Mantab jiwa!
Tiba-tiba Esta tersadar dari lamunannya. Dia harus menunaikan tugasnya sebelum Mama pulang. Sial! Kenapa adiknya selalu tahu cara membuat kesenangannya buyar!
KAMU SEDANG MEMBACA
The Hottest Demon Lord - [END]
Romance[18+] Enter at your own risk, you have been warned. Samuel adalah sang Penguasa Kegelapan yang terkenal berhati es dan digilai para wanita. Ketampanannya berada di atas rata-rata para bangsawan, membuat hati setiap lawan jenisnya berdebar tak keruan...
![The Hottest Demon Lord - [END]](https://img.wattpad.com/cover/198593631-64-k927377.jpg)