[•] Maaf ¹

0 0 0
                                        

New York || 06 : 45pm

Menatap diriku didepan cermin sekali lagi. Aku membenarkan topi wol ku dan pergi keluar kesuatu tempat. Pagi salju natal pertama.

Aku membuka pintu, udara dingin langsung terasa dikulitku. Walau sudah memakai pakaian hangat dan tebal, tetap saja terasa dinginnya.
Uap dingin mengikuti irama hembusan nafasku.

Setiap hari aku selalu pergi untuk menemuinya, berusaha menyelesaikan kesalah pahaman ini!
Aku tahu, aku yang bersalah. Tapi bisakah dia mengerti keadaan diriku yang sekarang?

Ditaman yang dipenuhi merpati ini, dia selalu menyempatkan waktu bertemu denganku. Walaupun selalu kemarahan yang menjadi akhir pertemuan kami.
Aku sudah bisa melihatnya dari tempatku berdiri, dan dia sekarang tidak sendiri!

Apakah aku terlambat memperbaiki hubungan kami? Apakah aku tidak pantas mendapatkannya untuk kedua kali? Apakah aku tidak berhak mendapatkan kesempatan kedua?
Bodoh! Tidak ada yang bernama kesempatan kedua. Kesempatan kedua hanya kata lain dari iba.

"Hei." panggilku.

"Cepat katakan Ben!" tukasnya.

"Aku ingin minta maaf, maafkan aku Tya. Aku tahu, aku sudah meninggalkanmu tanpa kabar selama tujuh tahun. Aku juga memiliki--"

"Cukup! Kau menikah dengan mantan temanku di Prancis sana, iya kan?" tukas Tya. Tidak! Bukan itu alasanku sayang.

"Bu-bukan itu Tya.." cicitku.

"Lalu? Sudahlah Ben, lagi pula aku sudah bertunangan dengan lelaki lain, dan segeralah lupakan aku! Karena bulan depan aku akan segera menikah dengannya."

Aku menatap kepergian Tya dan lelaki asing yang berada disampingnya tadi dengan sendu. Haruskah aku berucap jujur kepadanya?
Aku tidak mungkin menghianatimu, aku tahu! Kamu juga masih mencintaiku. Aku tahu itu Tya.

°°°

"Ah, penyakitmu bertambah parah saja Ben. Apakah selama ini kamu tidak meminum obat dariku?"

"Tidak dokter."

"Kamu tahu bukan, perkiraan dokter seperti ku, umurmu tidak akan lama lagi."

"Berapa lama lagi dokter?"

"Satu sampai dua minggu lagi. Bahkan bisa beberapa hari lagi, tidak ada yang tahu Ben. Semoga saja Tuhan memberikan mu umur yang panjang."

Inilah alasan kenapa aku pergi ke Prancis! Aku menjalani kemoterapi disana untuk penyakit buasku ini.
Setelah dokter yang merawatku di New York menyuruhku berobat di rumah sakit lain yang lebih memadai, aku pun pergi ke Prancis.

Tidak ada yang tahu penyakitku! Kakak pertamaku yang sedang bekerja di Inggris tidak pernah aku beri tahu tentang penyakit buasku.
Pencucian darah sudah aku lakukan berpuluh-puluh kali. Diriku yang kuat sekarang lemah, bahkan bermain basket pun aku sudah tidak kuat.

Aku lelah! Aku tidak baik-baik saja jika siapapun bertanya kabarku sekarang ini. Talasemiamayor. Penyakit yang aku derita setelah tiga tahun lamanya. Empat tahun aku melakukan kemoterapi berjalan dan melakukan cuci darah hingga ku rasa, tubuhku memiliki banyak darah orang lain.

Bisakah aku kembali seperti dulu?

♦♦♦

Oke. Sisyem vote dan comment sudah dibuka. Mungkin akan ada lanjutan dari part 'maaf' ini 🍃

TBC!

LoseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang