AEPETE #14

3.7K 354 127
                                        

Ae baru saja selesai mandi, wangi segar langsung merebak ke indra penciuman pete.  Ae keluar dengan hanya berbalut handuk putih yang melingkar  dipinggangnya. Otot dada dan perut sixpack terpampang indah dihadapan pete. Apalagi tubuh ae yang masih sedikit basah membuatnya tampak begitu sempurna untuk pete lihat. Dan jangan lupakan punggung lebar yang tampak begitu kokoh itu membuat pete tak berhenti memandanginya.

Pete tidak pernah terbiasa,  setiap kali ae selesai mandi, ia tidak pernah bisa menahan degupan jantungnya.

Ae berjalan mendekat.  Lalu tiba tiba...

Ctak!!

Sebuah jentikan mendarat mulus dikening pete.  Pete meringis seraya memegang keningnya yang baru saja dijentik ae.

" Jangan memandangiku dengan tatapan mesum seperti itu" ujar ae seraya terkekeh pelan, kemudian mengambil baju yang telah disiapkan pete.

Wajah pete langsung merah padam.  " Ma-maaf" gugupnya.  Pete merutuki dirinya yang mengagumi tubuh ae secara terang terangan.

"Sakit ya? " ae mengusap kening pete dengan lembut.

Pete menggeleng kecil. Ia berusaha mengalihkan pandangannya. Tapi begitu sulit untuk pete menahan matanya agar tidak kembali menatap ae.  Jantung pete semakin berdetak dengan kencang saat wangi tubuh ae menghujam hidungnya. Pete melangkah mundur,  menjauhkan tubuhnya dari ae.  Setidaknya dengan begitu pete bisa sedikit mengendalikan debaran didadanya.

Ae memakai bajunya.

"ae!! " suara pete mengintrupsi.  Ae menatap pete dengan bingung.

"Ae a-akan me-menggganti baju disini? " pete bertanya dengan gugup.  Matanya tak berani menatap ae. Wajah pete sudah sangat memerah sekarang.

"ha? "

"Bu-bukankah biasanya ae me-memakai baju dikamar mandi? "

Ae baru paham,  laki laki tampan itu menyeringai kecil.  Ia kembali melangkah mendekat kearah pete.  Melihat ae mendekat, pete terkesiap.  Tampa sadar ia melangkah mundur.  Hingga kedua kakinya menyentuh kasur dan tidak bisa melangkah mundur lagi.

Ae berdiri tepat didepannya.  Begitu dekat.  Apalagi ketika ae menurunkan wajahnya dan membuat wajahnya sejajar dengan pete.  " Kenapa?  Kau malu? " ae bertanya dengan wajah menggoda.

Pete yang tadinya tidak berani mengangkat kepalanya,  kini mengalihkan pandangannya untuk menatap wajah ae.

Keduanya terdiam.  Saling memandang lekat wajah masing masing.

Ae tiba tiba menyesal, justru sekarang dirinyalah yang terkesima dengan wajah cantik didepannya. Bulu matanya yang tebal dan panjang. Matanya yang jernih. Hidungnya yang kecil dan bibir merah yang... Menggiurkan itu membuat ae merasakan kembali gejolak aneh didadanya.

Ae menegakkan tubuhnya dengan canggung.  Mengalihkan pandangan, " bukankah hari itu kau sudah melihat seluruh tubuhku ?"  ae berujar tampa rasa bersalah.

Jika ini adalah film kartun,  ae bisa melihat asap mengepul dari kepala pete. Wajahnya merah padam seolah seluruh darahnya naik kekepala .  Kenapa ae bisa mengucapkan kata kata itu dengan frontal?

Hate Me, Love Me StillTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang