Berawal dari sebuah taruhan yang merubah jalan hidup seorang Kim Taehyung, seorang remaja yang baru beranjak dewasa.
Jeon Jungkook, pria dewasa yang hidupnya berubah karena seorang Kim Taehyung.
KookV
TopKook
BottTae
BxB
BL
Gay Area
Fujoshi Area...
Pria bertubuh kecil itu terlihat mondar mandir ke sana kemari mencari-cari sesuatu. Namun hal yang sedari tadi ia cari tak kunjung ia temukan. Sampai matanya menangkap sesosok makhluk yang tengah asyik dengan dunianya tengah terbaring di bawah rindangnya pohon di pinggir danau taman sekolahnya. Sebuah helaan napas ia keluarkan ketika mendekati sosok yang sejak tadi ia cari tengah tertidur dengan nyamannya.
"Tae.." panggilnya dengan lembut namun sang sosok yang di panggil tak menunjukkan pergerakannya.
"Taehyung, bangun." ujarnya sambil mengguncang tubuh kurus di depannya ini, dan terlihat sedikit pergerakan kurang nyaman dari si empunya.
"Emm.." erangnya sedikit melirik dengan matanya yang menyipit untuk melihat siapa gerangan manusia yang dengan lancangnya membangunkannya dari tidur siangnya yang berharga ini.
"Pergilah, Jim. Aku ingin tidur." ujarnya lagi.
"Apa? Tidak, kau harus bangun sekarang. Kau belum makan siang."
"Aku tidak lapar."
"Apa kau bilang? Tidak lapar? Bagaimana bisa kau tidak lapar jika perutmu saja belum terisi apapun? Ayo bangun cepat!" ucap Jimin sembari mengangkat sebelah tangan Taehyung agar bangun.
"Tapi aku memang tidar lapar, Jimin. Aku hanya ingin tidur saja."
"Hey!! Apa-apaan kau! Kau pikir aku tidak tau kalau kau belum makan apa pun dari pagi? Ayo cepat bangun, bodoh. Aku membawakan bekal makanmu dari Yoongi hyung. "
"Kau saja yang makan. Aku benar-benar ingin tidur, Jimin. Kumohon..." Taehyung berucap dengan menunjukan wajah memelas dan mengantuknya secara bersamaan.
Namun Jimin bukanlah pria yang mudah luluh terhadap semua kebodohan sahabatnya ini, meskipun ia adalah sosok yang hangat dan lemah lembut. "Aku tidak akan tertipu dengan wajah memelasmu itu. Jadi hentikan dan bangun sekarang. Aku akan menemanimu makan siang bersama sekaligus mengawasimu sampai kau makan bekalmu ini." ucapnya sambil menyerahkan satu kotak makan siang untuk sahabatnya ini. Dan Taehyung menerimanya dengan malas karena ia masih mengantuk dan sedang tidak berselera untuk makan saat ini.
"Sampai kapan kau akan seperti ini, Tae? Apa kau tidak kasihan pada Yoongi hyung? Dia sangat mengkhawatirkan keadaanmu, apa kau tidak mengerti?"
"Justru karena aku mengerti dengan kekhawatirannya itulah sebabnya aku melakukan ini. Aku tidak ingin menyusahkan Yoongi hyung lebih dari ini, Jimin."
"Tapi kau harus tahu jika Yoongi hyung tidak merasa terbebani denganmu. Bukankah wajar jika ia sangat khawatir dengan keadaan adiknya?"
"Tapi Jim.."
"Sudahlah, jangan merasa terbebani lagi. Jika kau terus seperti ini, aku dan Yoongi hyung akan sedih."
"Apa yang kau pikirkan? Ayo cepat makan, jam istirahat sebentar lagi akan berakhir." Ujar Jimin ketika mendapati Taehyung diam tanpa berniat memakan bekal makan siangnya. Hanya sebuah helaan nafas yang terdengar di telinga Jimin sebelum akhirnya Taehyung memakan bekalnya dengan tidak berselera.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌸🌸
Tampak seorang pria berwajah tampan tengah duduk di kursi kebesarannya, berkutat dengan kertas-kertas yang tersusun rapi di atas meja kerjanya. Pekerjaannya tampak seperti tiada akhir dengan berkas-berkas hasil kerja bawahannya yang harus ia periksa kembali.
Toktok..
Terdengar suara ketukan pintu yang sedikit menginterupsi fokus sang pimpinan tersebut. "Masuk." Ucapnya tanpa mengalihkan matanya dari berkas-berkas yang berada di tangannya. Lalu terdengar suara pintu terbuka dan menampakkan seorang pria yang berjalan ke arahnya.
"Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan Jeon." Ucapnya tersenyum.
"Duduklah."
"Terima kasih, Tuan."
"Bagaimana? Apakah kau membawa hasil dari pencarianmu?" Kini atensinya teralihkan sepenuhnya pada lelaki yang tengah duduk di hadapannya.
"Tentu, Tuan. Aku datang tidak dengan tangan kosong." Ujarnya tersenyum sembari memberikan sebuah amplop coklat. Sang CEO muda itu menerima amplop tersebut dan mulai memeriksa kertas-kertas tersebut dengan seksama.
"Kerja bagus. Tidak salah jika aku memilihmu untuk melakukan pekerjaan ini. Kau benar-benar sangat bisa di andalkan."
"Terima kasih banyak, Tuan. Suatu kehormatan bagi saya bisa membantu Anda."
"Tentu saja. Tapi jangan pernah berpuas diri karena itu tidak ada artinya."
"Akan saya ingat, Tuan."
"Sesuai janjiku, aku akan memberi bayaran yang setimpal jika kau berhasil melakukan pekerjaan ini dengan baik. Sekretarisku akan mengurus semuanya."
"Sekali lagi terima kasih, Tuan."
"Tapi ingat, pekerjaanmu belum selesai. Ini baru permulaannya. Terus awasi, jangan sampai kau lengah. Aku ingin kau terus mengawasi pergerakannya. Terus berikan aku berita terbarunya setiap hari."
"Tentu, Tuan. Akan saya lakukan dengan baik."
"Berhati-hatilah, jangan sampai ada yang tahu dan menyadari keberadaanmu."
"Baiklah Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucapnya memberi hormat lalu keluar dari ruang kerja Sang CEO tersebut.
Tinggallah sang CEO muda itu duduk terdiam sambil memandang lekat amplop tersebut. "Akhirnya.. Akhirnya aku dapatkan." Ujarnya tersenyum penuh arti.
Tbc Votment juseyoo 😘💜
Cerita ini adalah fiksi. Semua murni ideku sebagai penulis & pengarang cerita abal-abal ini. Cerita ini aku buat hanya untuk orang-orang yang memiliki kesukaan yang sama denganku. Begitu pula dengan karakter-karakter yang terdapat di cerita ini. Nama dan tokoh hanya pinjaman untuk menambah daya imajinasi pembaca saja. Tidak ada maksud untuk merugikan, merendahkan atau menjatuhkan pihak manapun. Bila ada kesamaan ide atau jalan cerita dengan karya lain, semua murni hanya ketidaksengajaan. Tolong jadilah pembaca dan penikmat karya yang bijak. 😊 BORAHAE YEOROBUN 💜💜💜💜💜💜💜