Setelah pembelajaran selesai, Faya sudah berdiri terlebih dahulu. Ia meninggalkan kelas dan pergi mencari Hans.
Setelah beberapa kali berbelok, ia menemukan remaja itu sedang duduk dibawah pohon sambil makan siang. Kebiasaan kebersihan remaja itu memang patut dijempoli.
"Kenapa tidak makan dikantin saja?" Tanya Faya dengan senyum kecil. "Bukankah sekolah ini menyediakan makanan sesuai pesanan murid kaya sepertimu."
Hans menutup kotak bekalnya, ia meminum susu di botol yang ia bawa dari rumah. Pandangannya beralih kepada gadis didepannya.
Cahaya matahari yang hangat menyelimuti tubuhnya, rambut perak-keunguannya berkilau terang. Sepasang mata amethys indah itu memberikan nuansa misterius dan tenang pemiliknya.
"Cantik,"gumam remaja itu dan pipinya tiba-tiba memerah.
"Sakit?" Faya buru-buru mendekat dan menyentuh kening pihak lain.
Deg.
Deg.
Deg.
Semakin dekat orang itu, semakin kuat aroma yang ia cium. Hans menjadi lebih gelisah dan tubuhnya kaku ditempat.
Faya tidak mengetahui tentang gejolak emosi remaja itu. Dia buru-buru mengambil cairan biru dari saku-nya. Baru saja ia akan menusuknya, ia merasakan hawa dingin dan niat membunuh yang menuju ke adah msreka.
"Awas!!" Faya menarik tubuh remaja itu dengan gerakan cepat. Dia langsung membawa Hans berlindung dari serangan tiba-tiba itu.
Faya menyipitkan matanya tajam. Benda yang menyerang mereka rupanya sebuah pisau kecil yang sangat tipis. "Mereka malah memilih menyerang secara terbuka rupanya."
"A-apa itu tadi?" Tanya Hans dengan rasa takut melihat kejadian ini secara langsung.
"Jangan takut,"Ujar Faya dengan suara lembut. Dia berusaha menenangkan anak yang ketakutan dalam dekapannya.
Memang tidak heran ia ketakutan melihat hal ini untuk pertama kalinya. Karena selama ini, ia membunuh para penyusup dengan teknik yang tidak terdeteksi.
"Jangan takut,oke? Ada aku disini."
"Tutup matamu,oke?"
"Hiraukan semua suara yang nanti kamu dengar."
Faya menutup kedua mata biru indah itu dengan gerakan lembut. Dia juga menyuruh anak itu menutup telingannya dengan kuat.
Saat Faya mengangkat kepalanya dan melihat pelaku penyerang tiba-tiba ini. Sampai matanya tertuju pada sosok asing yang mengenakan jubah. Aura yang dipancarkan orang itu gelap dan ada niat membunuh darinya.
Faya menarik remaja laki-laki itu ke belakang punggungnya. Posisi melindingi ini cukup aneh jika di lihat, tetapi mata tajam dan dingin gadis itu. Dia bersikap tenang dan waspada diwaktu yang sama.
Faya mengeluarkan pedang logam hitam miliknya. Baru saja ia akan bertarung, dari belakangnya terasa panas. Berbalik, ia melihat bahwa kondisi orang dibelakangnya tidak baik.
Ketidakfokusannya malah membuat pihak lawan sudah meluncurkan serangan baru. Faya tidak sempat mengelak, apalagi membentuk perisai pelindung. Senjata lawan sudah berhasil melukai bagian perutnya.
Slash!
"Ughh..." Faya mendesis dingin dengan luka yang dirasakannya. Dia buru-buru menarik remaja itu dan menggedongnya pergi dari sana. Ia juga melemparkan bom asap untuk menutupi jejak keduanya.
BOOM!!
"Pergi!!"
Faya duduk lemah ambil menempelkan punggungnya di dinding. Tangannya sibuk menutup lukanya yang masih mengeluarkan darah. Sedangkan di sampingnya, Hans sedang terbaring pingsan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Girlfriend
Fantasía#RANK_1_FIKSI_ILMIAH [30-09-2020]✨ FAYA QUEENZIA Seorang Pembunuh Profesional yang Mati karna tergelincir dari Atap Rumah musuhnya, Ia pindah ke dunia lain dan menjadi Seorang Agent Terkenal yang hebat dan Memiliki Misi mencari Serpihan Permata Men...
