"Ada beberapa cerita yang biarlah menjadi rahasia, karena ada rasa takut masa lalu akan terlulang jika rahasia itu terbongkar kembali"
***
~kring~
Bel tanda pulang berbunyi, tak sedikit siswa yang senyum penuh kemenangan mendengar bel yang sudah lama di tunggu-tunggu. Bu Klara selaku guru yang mengajar di 12 IPA 1, langsung berpamit untuk keluar.
"Sekian pelajaran untuk hari ini anak-anak, jangan lupa pelajari ulang dirumah, ibu permisi""Iya bu~~" ,jawab murid serampak dengan nada agak sedikit malas.
Nisa langsung menghampiri temannya yang sedang duduk , sambil betopang dagu diatas meja.
"Ra lo kok pucet banget, mau ke uks?" , tanya Nisa khawatir karena temannya seperti sedang sakit."Gue gapapa kok, palingan gegara pelajaran bu Klara, buat otak gue lelah" , Rara menjawab sambil memasang muka malas.
"Nah iya...gila ya , gamikir apa udah ngomongnya cepet, tulisannya jelek, guru Matematika pula! , ga abis pikir gue" ,ucap Nisa setuju.
"Gila lo Nis jelekin guru sendiri, gue laporin baru tau rasa lo.. Abis lo entar disuruh maju ngerjain soal satu papan tulis!" entah sejak kapan keisya mendengar percakapan mereka berdua, ucapan Keisya berhasil membuat Nisa ingin menarik kembali kata-katanya tadi.
"Lo temen gue bukan sih ah ! , gue bercanda tadiiii, serius amat lo! lo kan tau sendiri dia garangnya kayak apa", ucap nisa sambil memaksakan tawa.
"hahahaha bodoamat biarin aja, emang gue perduliii!"
"kalo lo laporin gue bongkar tentang surat yang lo kasi ke kak Galen!", ancam Nisa.
"Eh eh gak gini ya cara mainnya... Iya deh iyaa gue tutup mulut soal tadi.. Emang dasar lo ya..."
"Takut kan lo hahaha" , kali ini Nisa yang membuat Keisya menyerah.
Nisa slalu tahu kelemahan temannya itu, jika berhubungan dengan laki-laki yang gadis itu sukai, Keisya akan menurut.
Melihat interaksi kedua temannya Rara hanya menggeleng sambil tertawa dan bepikir betapa absurdnya teman-teman yang ia miliki, tetapi itulah yang bisa membuat hidupnya sekarang bahagia setidaknya sebelum mereka tahu tentang itu... .
***
"Yasmin mana sih ? Prasaan tadi pas pelajaran bu Klara dia ijin deh ke wc, kok ga balik balik ya..." tanya Rara heran karena ada satu temannya yang pergi entah kemana. Temannya satu itu emang selalu saja menghilang di tengah atau di akhir akhir pelajaran.
"Alasan aja tuh anak! palingan ngacir katak biasa, biar ga disuruh maju", ucapan Nisa tidak sepenuhnya salah.
Tak lama setelah mereka menggunjing temannya yang ilang entah kemana itu, akhirnya si empunya nama datang dengan berlari tergesa gesa. "Woi.. Rugi kalian ga ikut gue ngacir..", ucap Yasmin bersemangat.
"Emangnya napa? Lo liat Pak muklis godain si kakak kantin lagi?", ucapan Rara berhasil mengundang tawa teman-temannya.
Satpam sekolah itu tak jarang menjadi topik utama mereka dikala bergosip, bagaimana tidak, diumurnya yang sudah tua, tingkahnya masih saja suka menggoda."Bukan!! Tadi gue abis dari wc kan... ,gak sengaja ngeliat ke dalam rungan kepala sekolah, mau tau yang gue liat?", ucapan yasmin membuat teman temannya gemas karena dibuat penasaran.
"Yaelah lo.. Langsung bilang aja napa sii", gemas Nisa.
"Tebak dulu dong!", yasmin makin membuat mereka kesal.
"Au ah lama banget gue mau pulang nih.. Entar nyokap nyariin" ,Nisa makin tak sabar .
"Au nih ribet amat sih lu min!" , keisya ikut kesal.
Rara hanya terkekeh, sekarang cerita konyol apalagi yang akan Yasmin bawakan.
"Payah banget kalian,cuma disuruh nebak juga..." belom selasai yasmin berbicara dia langsung menunjuk seseorang dengan antusias.
"Tuh tuh liat... Yang gue liat di ruang kepala sekolah itu dia! Gila gak?, cakep banget udah tinggi, putih , katanya kaya pula!" , sontak yang lain serentak melihat arah yang Yasmin tunjuk termasuk Rara.
"Parah cakep banget! Siapa sih kok gue baru liat?" keisya tidak kalah semangat ingin mencari tahu siapa laki-laki yang sedang jadi perbincangan mereka saat itu, dan Nisa juga diam dengan mata yang berbinar melihat pesona laki-laki itu.
"Kayak pernah liat.." Ucap Rara sambil mengingat sesuatu. 'Sial! Dia kan cowo yang liat gue hampir loncat kemaren, gue harus beri peringatan!'
"Gue duluan ya gaes!" ,Rara pamit secara tiba tiba membuat temannya terheran heran.
"Napa tuh si Rara?", tanya Nisa.
"Kebelet boker kali", bukan yasmin kalau tidak ngomong ceplas ceplos.
"Mungkin" serempak keisya dan Nisa menyetujui pernyataan yasmin. Dasar teman ,su'udzon aja bisanya... .
***
Rara mencari laki-laki yang tadi membuat teman-temannya histeris kegirangan karena parasnya yang Rara akui memang sangat menawan. 5menit mencari akhirnya.. "Hei, lo yang kemarenkan?", tanya Rara tanpa basa basi.
Lawan berbicaranya hanya menaikan alis kebingungan.
"Malah bengong, benerkan lo yang kemaren?!" ucap Rara agak tidak sabaran.
"Gue baru pindah ke sekolah ini, gue gatau siapa el.."
"Rangga ayo cepat, papa kamu udah nunggu dirumah", cela wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda , Liana, ibunya rangga.
"Oke." , jawab rangga singkat.
"Rangga gue mau minta tolong penting...",Rara mencegah Rangga melangkah. Rangga hanya menoleh sebentar dan langsung pergi masuk kedalam mobil ibunya tanpa membalas ucapan Rara.
"Parah.. Ganteng ganteng kok sifatnya jelek amat..", Rara memandang sinis seiring melajunya mobil hitam itu.
***
Perjalanan pulang Rangga mengingat ngingat siapa wanita yang tadi mengajaknya berbicara. Apakah dia pernah bertemu sebelumnya?. Yang Rangga ingat tentang sekolah barunya hanya nama sekolahnya SMA Tunas Harapan, Kepala Sekolahnya Pak Hartono ,dan... "Ohh.. Dia si bego yang hampir lompat kemaren..." ,gumam Rangga tanpa sadar.
"Siapa rang?" , tanya Liana heran.
"Ehh.. Bukan siapa siapa, film yang rangga tonton kemaren ada orang gila hampir lompat dari gedung ma...", Entah darimana ide karangan Rangga berkata seperti itu.
"Kasian ya akalnya sakit..." jawab Liana iba.
***
Vote+komen
Terimakasii <3

KAMU SEDANG MEMBACA
The Same Taste
Fiksi RemajaRANGGA PUTRA MAHENDRA, cowo dingin yang memiliki tampang diatas rata-rata mampu membuat siapapun yang memiliki akal sehat terpesona terhadap kharismanya. Rangga selalu bermuka datar kepada siapapun termasuk kedua orangtuanya. Entah sejak kapan dia b...