03. Saling Menerka

279 69 18
                                    

Jangan cintai aku apa adanya jangan
Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan

-

Tulus

________________________________________

“Di hati lo. Gue bakal selalu ada disana Al. Kapanpun lo mau, gue bakal selalu ada. Walaupun tanpa pertemuan sekalipun, gue nggak akan pernah biarin lo sendirian Al...”

Allana menundukkan kepalanya dalam-dalam. Suara berat Alan tiba-tiba saja terlintas di kepalanya. Membuat dada Allana terasa sesak sekali. Mendadak, Allana merasa sedikit ragu apakah jalan yang akan diambil nya setelah ini benar atau tidak.

Alan memang benar. Tidak ada hal yang abadi di dunia ini. Termasuk kesedihan itu sendiri. Tapi nyatanya, rasa sakit pasca kepergian Alan terus menghantui pikiran dan hati Allana hingga sekarang. Sampai-sampai, Allana merasa berat sekali untuk melangkahkan kakinya menuju ke lembaran barunya.

Gadis itu berhenti tepat di ujung koridor yang nampak lenggang dan sepi. Suasana nya tidak terlalu berbeda dengan satu tahun silam. Dia hanya berdiri disana dengan pandangan sedih. Itu adalah tempat pertama dimana Alan memanggil nama lengkap Allana dulu. Dan menjadi pertama kalinya mereka mengobrol bersama. Allana tidak pernah menduga kalau tempat ini akan jadi sesendu sekarang.

“Lan...” gumam Allana terdengar sedikit gemetar. Namun gerimis di sekitar koridor sukses membuat suara Allana teredam begitu saja.

Orang lain mungkin bisa melihat Allana sudah mulai kembali ceria lagi akhir-akhir ini. Tapi mereka tidak tau kalau sebenarnya Allana masih belum sembuh sepenuhnya. Luka nya masih menganga lebar dan terasa begitu sakit. Allana bahkan masih sering menangis diam-diam saat mengingat Alan. Dunianya masih mati.

Ketika gadis itu menunduk dan memejamkan mata, air mata nya jatuh dengan bebas nya. Membasahi pipi bahkan dagunya. Allana sudah berusaha keras untuk tidak terlalu sering menangis. Tapi mengingat Alan tanpa sebuah tangisan adalah hal yang tidak mungkin bagi Allana sekarang. Ada rasa hangat namun pedih yang mendera bersamaan saat Allana mengingat wajah dan senyum Alan. Allana benar-benar merindukan Alan.

“Maaf Lan. Gue udah berusaha buat bahagia. Tapi gue putus asa...”

Mulai terisak pelan, gadis itu menerawang jauh ke arah bangku yang masih ada di posisi yang sama sejak satu tahun silam. Dulu, disana, ada mereka berdua yang tengah duduk bersama. Mengobrolkan soal jabatan sekertaris yang sebenarnya ingin Allana tolak mentah-mentah hari itu juga. Namun sekarang yang tersisa disana hanyalah sebuah kenangan.

Allana pun tidak tau kenapa dia seringkali berjalan tak tentu arah seperti itu. Hampir setiap Allana merindukan Alan, pasti gadis itu tiba-tiba mengunjungi tempat-tempat yang dulu sering mereka datangi. Lalu dengan tidak tau dirinya Allana akan kembali menangis seperti ini. Begitu terus, tanpa oranglain ketahui betapa hancurnya gadis kecil itu sendirian.

Sejenak, Allana merasa bersalah pada Leo. Kalimatnya yang terakhir kali mungkin cukup menjelaskan kalau pada akhirnya Allana bersedia memberikan Leo sebuah kesempatan untuk memasuki hatinya lagi. Tapi pada kenyataan nya, Allana pun tidak tau apakah ucapan nya tadi adalah suatu kesungguhan atau dia hanya sedang terbawa suasana. Memikirkan nya hanya akan membuat Allana merasa semakin bersalah.

Ah sudahlah. Mungkin Tuhan memang sedang mempersiapkan jalan lain untuk Leo. Jika pada akhirnya Leo lah yang menjadi takdirnya, Allana tidak ada pilihan lain selain mencoba menerimanya. Tapi apakah mungkin Allana bisa menghapus sosok Alan di hati nya sepenuhnya? Allana harap, dia tidak akan melakukan hal bodoh dengan cara menipu perasaan Leo hanya karena rasa kasihan nya. Leo terlalu berharga untuk menerima belas kasihan itu.

Hello Leo | Rj✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang