8. Jangan Sembunyi-Sembunyi!

1.5K 107 39
                                        

8. Jangan Sembunyi-Sembunyi!





VOTE DULU BARU BACA, ABIS BACA BARU KOMEN. BOLEH NGGAK GENGS?

Happy Reading...

🙋🏻‍♀️🙋🏻‍♀️🙋🏻‍♀️🙋🏻‍♀️

Cikal merapihkan buku-buku pelajarannya dan menatanya di rak buku dekat pintu kamarnya. Kira-kira kurang dari 3 bulan lagi ia akan menghadapi berbagai macam ujian dengan segala tetek bengeknya, dan tentunya dihitung 5 bulan dari sekarang ia bersama teman-teman se-angkatannya akan segera meninggalkan sekolah tercinta untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Perguruan tinggi.

Seharusnya, Cikal sudah mempunyai target akan masuk ke universitas yang mana. Tapi, nyatanya.. Cikal masih santai-santai aja kayak biasanya. Nyantainya Cikal tuh, ya karena emang dia masih bingung aja mau masuk kemana. Pilihannya ada dua, antara UI sama ITB. Tapi, kalo dipikir-pikir lagi.. Cikal ngerasa kalo dirinya nggak bakal bisa masuk salah satu diantara dua kampus ternama itu.

Secara, otak dan nilai Cikal aja pas-pasan banget. Ulangan aja masih suka searching di google, terus ngarep bisa masuk dan keterima di universitas ternama itu?

Ngimpi aja kau, Kal.

"Gimana nilai kamu, Kak?"

Cikal terperangah kaget dan mengelus dadanya sembari menggerutu pelan karena ucapan ayah tirinya. Cikal menoleh kearah ayah tirinya, Ayah Bram. "Gak gimana-gimana yah, masih standar lah. Gak kecil gak gede. Sedang-sedang aja."

"Mesti ditingkatin lagi dong, jangan stuck disitu aja nilainya. Kalo kayak begitu terus, itu namanya kamu gak ada perubahan." Ayah Bram mengecek buku tugas dan buku PR milik Cikal.

Saat momen seperti ini, Cikal jadi terlempar saat masa-masa ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap malam Ayah Bram pasti akan menemani Cikal belajar. Entah itu hanya mau memantau Cikal belajar, atau membantu Cikal mengerjakan PR-nya. Mungkin juga seperti sekarang ini, mengecek nilai di buku tugas maupun buku PR Cikal.

Fyi, dari jaman SD sampai sekarang dia mau lulus SMA. Untuk urusan sekolah Cikal, Ayah Bram yang mengurusi dan ikut andil dalam proses belajar Cikal. Bahkan, untuk urusan rapat orangtua ataupun pengambilan rapor, selalu Ayah Bram yang mendatangi sekolahnya. Mama nya Cikal, tak pernah sekalipun datang ke sekolah Cikal dari Cikal SD sampai SMA. Bahkan, untuk urusan PR.. Mama Cikal tak pernah ikut andil dalam penyelesaian soal-soalnya. Itu karena, Ayah Bram yang meminta untuk dirinya saja yang membantu Cikal.

Cikal nggak akan pernah lupa, dirinya yang mahir membaca dengan lancar dan jelas, menulis dengan rapih, menghitung dengan benar, itu karena peran Ayah Bram. Beliau yang mengajari calistung ke Cikal. Setiap ia ke Jakarta, pasti pulang-pulang Cikal selalu dibawakan berbagai macam buku cerita, crayon-crayon yang baru, dan juga alat tulis yang sangat unik dan keren.

"Belajar yang bener, nggak usah mikirin pacar-pacaran. Buang-buang waktu kamu doang, Kak." Ayah Bram selalu dan tak akan pernah bosan menasihati Cikal seperti itu.

Cikal mengangguk sopan, "Iya, Yah. Kakak nggak ada pacar-pacaran kok. Kan, nggak boleh sama ayah."

"Serius kamu nggak pacaran?"

"Iya, serius. Nggak ada, yah." ujar Cikal mantap.

Memang benar, 'kan.. Cikal nggak ada pacaran sama siapapun. Cikal 100% masih jadi Jobati alias jomblo baik hati.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 11, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CIKALCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang