Kata orang tua atau orang-orang yang hidup pada zaman dahulu atau tempo doeloe. Kalau ada seorang perempuan dan laki-laki, tiap hari kerjanya berantem mulu, pasti mereka berjodoh.
~Author Imut~
"Apasih Naufhal, nyebelin amat jadi orang, huff!" Syasa menghempaskan badannya di king size miliknya. Seragam sekolah masih melekat pada tubuhnya. Sampai ia terlelap dalam pulau mimpi yang di ciptakannya.
Kata orang tua atau orang-orang yang hidup pada zaman dahulu atau tempo doeloe. Kalau ada seorang perempuan dan laki-laki, tiap hari kerjanya berantem mulu, pasti mereka berjodoh.
Kalau di simpulkan memang bisa jadi benar adanya. Perasan akan muncul atau timbul seiring adu debat itu terjadi. Jika salah satu di antara mereka tidak ada. Maka, perasaan galau akan menimpa, bertanya-tanya kemana dia? Apa yang sedang di lakukannya? Atau apakah dia sakit?
Jelas sudah bukan? Jangan meremehkan kebersamaan walau kebersamaan itu di penuhi oleh adu bacot alias adu cekcok. Mungkn kelakuan-kelakuan seperti itu pula yang akan di rindukan.
*****
"Fhal, mama kan udah bilang berhenti balapan motor!" teriak Sinta mama Naufhal.
"Ma, mama gak bisa dong larang-larang Naufhal. Itu sudah menjadi hobi Naufhal! Naufhal udah gede ma! Naufhal bisa jaga diri Naufhal sendiri! Naufhal ini laki-laki mah!" Naufhal sedikit berteriak berbicara kepada sang mama.
"Yaelah bang, yang bilang bang Naufhal masih bocah siapa dah? Dah lah ma biarin aja dia pergi!" seru seorang gadis yang umurnya sekitar 16 tahun, Alvira Nur Arsyanti adik Naufhal satu-satunya.
"Vira, diam kamu! Kamu ke kamar sekarang belajar!" bentak Sinta. Vira terkejut, menatap sang mama. Ia paling tidak suka jika di bentak.
"Vira maafin mama sayang, mama gak bermaksud bentak kamu" ucap Sinta lembut. Tapi, terlambat Vira sudah ngambek.
"Dasar tuh bocah, ratu ngambek sumpah. Dah lah ma! Mama urus aja tuh si Vira. Naufhal mau pergi dulu, Assalamualaikum mama ku sayang uuummmmaaa" Naufhal sudah berlari keluar rumah, menghidupkan mesin motornya lalu bergegas meninggalkan pekarangan rumahnya.
"Wa..alaikumsalam. Ya Allah kapan putra hamba itu berhenti untuk balapan" batin Sinta, lalu berlalu menuju kamar sang putri.
Sesampainya Naufhal di sana, ia di sambut oleh teman-teman geng motornya. Banyak pula cewek-cewek yang berpakain kurang bahan di sana. Gak kedinginan apa pakai pakaian ko kurang bahan?
"Udah siap bro? Rico lawan cukup tangguh buat di kalahin!" seru salah satu teman Naufhal.
"Yaelah Arya, itu mah gampang! Berapa taruhannya?" tanya Naufhal yang meremehkan lawan balapannya.
"Jika lo menang lawan si Rico, lu bisa dapat 1 gedung apartemen, 2 mobil sport miliknya, dan berapa cewek-cewek miliknya" kata Arya.
"Cihhh! Kalian ambil aja cewek-ceweknya. Gue gak butuh. Gue dah punya cewek" Naufhal mendesih, cewek katanya? Dia dah punya Syasa, cewek lucu baginya.
"Sejak kapan lu bucin Fhal? Biasanya kan lu mainin hati cewek doang?" tanya Faizhal teman geng motornya juga.
"Sejak Syasa hadir di hidup gue! Dah lah udah mau di mulai tuh" Mereka mengakhiri pembicaraan, bergegas menuju area balapan. Rupanya Rico sudah ada, memberi tatapan meremehkan buat Naufhal. Naufhal Acuh dengan tatapan Rico, baginya itu bukan apa-apa.
Seorang cewek yang berpakaian kurang bahan berdiri di tengah di antara Naufhal dan Rico memegang bendera dan mulai berteriak menghitung
"One"
"Two"
"Three"
Dan si cewek tersebut berlari ke pinggir. Keduanya sudah melaju dengan kecepatan tentunya di atas rata-rata. Keduanya bersaing dengan ketat, selama ini belum ada yang bisa ngalahin seorang Naufhal. Rico sendiri tinggal di daerah Palembang. Dia ke Semarang buat menjenguk sang Nenek yang lagi jatuh. Ia tak ingin mengikuti kata-kata ibunya buat pergi. Tapi, ia juga tak ingin menyakiti hati ibunya.
Senakal-nakalnya seorang anak. Sesering-seringnya anak membatah kepada orang tua terlebih kepada sang mama. Seorang anak tak akan sanggup melihat sang mama menangis. Mereka sebenarnya ikut menangis ketika melihat wanita yang telah melahirkan nya di bumi menjatuhkan air mata. Tapi terkadang mereka terlalu gengsi buat mengakui semua itu.
Siapa sih yang mau orang yang di sayang terluka? Terlebih lagi buat mama? Hanya saja mereka tak sadar dengan perilaku mereka terkadang membuat hati sang mama terluka. Menangis dalam diam, menyembunyikan kesedihan kepada anaknya.
Sanyangi dan kasihi selagi bisa. Ketika mereka telah tiada. Penyesalan akan datang. Penyesalan yang tiada guna. Selagi masih ada waktu sayangi dan kasihilah mereka.
Tinggal beberapa meter lagi, keduanya akan sampai ke garis finish. Teriakan-teriakan terdengar jelas, mendung Naufhal dan juga Rico. Rico menambah kecepatan motornya. Naufhal tak mau kalah, ia juga menambah ke cepetan motornya. Rico tertinggal di belakang Naufhal hanya beberapa senti saja. Tak mau kalah Rico menambah kecepatan motor hingga ia yang memimpin. Naufhal kesal dengan Rico, ia mengambil ancang-ancang lalu menambah kecepatan motornya. Dan akhirnya dialah yang menang.
Teriakan bergemuruh menyebut nama Naufhal. Sedangkan Rico kesal dengan kekalahannya. Naufhal memenangkan taruhannya. Ia berhasil mendapat 1 apartemen, 2 mobil sport, serta wanita simpanan milik Rico.
Naufhal pulang membawa kemenangan, baginya ini sudah biasa. Sesampainya di rumahnya, keadaan tengah gelap. "Sudah pada tidur kali yah?" pikir Naufhal.
Tak ambil pusing ia berlalu pergi ke kamarnya. Menyalakan lampu. Memasuki kamar mandi, membersihkan badannya. Sangat lengket. Sehabis itu ia menghempaskan badannya di king size miliknya. Mengambil handphone miliknya membuka aplikasi instagram. Mencari akun seseorang dan akun tersebut adalah Niasyasakhuiroh.
Entah apa yang mengenai dirinya, ia tersenyum sendiri melihat foto-foto Syasa yang di unggah di akun instagram miliknya. Sehabis melihat foto-foto Syasa, ia menutup aplikasi instagram nya, lalu membuka aplikasi berwarna hijau berlogo LINE. Mengetik pesan kepada Syasa.
"Hai Sya? Dah tidur?"
Di kamar yang bernuansa putih biru, bertema doraemon. Seorang gadis yang tak lain adalah Syasa mendapat notife. Karena penasaran ia mengambil handphone nya, membuka notife tersebut, ternyata Naufhal.
"Paan sih ni orang, ngapain sih nanya-nanya!?" gumam Syasa. Ia membalas pesan Naufhal.
"Paan nanya-nanya?" Tak berapa menit kemudian kembali notife berbunyi dan itu balasan dari Naufhal.
"Gue rindu sama lu Sya" Syasa yang mendapat balasan LINE dari Naufhal berdengik ngeri.
"Dihh apaan sih nih makhluk astral. Lebih baik gue tidur" jam sudah menunjukkan pukul 12.30. Syasa berbaring, menarik selimut, menutup mata dan akhirnya berlayar ke pulau mimpi.
Sedangkan Naufhal sendiri senyum-senyum sendiri. "Pasti Syasa sedang kesal" ia tertawa ringan dan kembali mengetik pesan kepada Syasa
"Good night mine😘"
📚✏
~TBC~
Hallo gays, buat kalian yang baca cerita wattpad ini. Author mohon berikan vote. Lagiankan vote gratis nih. Gak kasian apa sama author:(
Semoga suka yah sama cerita author kali ini. Sarangheo buat kalian yang sudah sempatkan waktu membaca cerita OMG Dia Imamku?😘
